
Afzal hanya ingin urusannya segera beres, dia menarik uang lalu segera pergi masuk kelas.
Afzal memutuskan untuk menarik tiga puluh ribu dolar sesuai batas minimal penarikan.
Afzal segera menyebutkan jumlah uang yang ingin dia tarik kepada teller.
Teller sempat ragu dengan angka yang disebut Afzal, tetapi dia tetap memasukkan angka yang diminta dan ternyata transaksinya disetujui dan berhasil!
Perempuan itu terbelalak memandang layar komputernya.
Tiga puluh ribu dolar!
OMG, ternyata mahasiswa ini sangat kaya!
“Tuan, transaksi Anda berhasil!”
Teller itu merapikan rambutnya lalu berdiri untuk menunjukkan penghormatannya pada Afzal.
Dia mengambil Bundelan uang tunai dan memasukkannya satu per satu ke mesin penghitung uang.
Buzz buzz...
Terdengar suara mesin penghitung uang bekerja.
Mahasiswa yang sedang mengantri terpaku di tempatnya masing-masing.
Mulut mahasiswa yang tadi menegur Afzal dan juga pacarnya ternganga lebar, saking lebarnya sampai muat untuk dimasuki dua buah telur rebus sekaligus.
Mereka tadi mengolok-olok karena mengira Afzal tidak punya cukup uang di tabungannya!
Ternyata Afzal punya uang bahkan banyak sekali!
Mahasiswa yang kebetulan ada di sekitar tempat itu mulai mencari perhatian Afzal.
Tatapan mata mereka seolah berkata, “Hai, ganteng, lihat aku, dong! Kenalan, yuk!”
Afzal menggosok hidungnya tersipu malu.
Sesaat kemudian Afzal sadar ternyata dia tidak punya apapun untuk membawa uang sebanyak itu dan tidak mungkin membawa tiga puluh ribu dolar dengan kedua tangannya.
Afzal memandang sekeliling lalu meraih sebuah kantong plastik hitam yang teronggok di tempat sampah di depan teller.
Kebetulan kantong plastiknya masih baru karena memang baru saja diganti.
Afzal mengambil kantong plastik sampah berwarna hitam itu dan menaruhnya di atas meja teller.
“Anda...Anda mau pakai ini?”
Teller wanita itu tentu saja kaget.
Apakah semua orang kaya memang aneh?
“Ya!”
__ADS_1
Afzal menjawab singkat. Dia segera mengemasi uangnya dan memasukkannya ke kantong plastik sampah berwarna hitam, mengambil ID card dan buku tabungannya lalu segera berlalu dari kantor bank.
“Huh, dasar! Kamu tadi mengolok-olok mahasiswa itu! Ternyata uangnya banyak banget, sedangkan kamu setengahnya aja belum tentu punya?”
Begitu Afzal berlalu, semua orang mulai membicarakan dirinya.
Mahasiswi yang sedari tadi menggandeng lengan pacarnya dan dengan setia menemani di antrian kini memandang pacarnya dengan kesal dan memukul dada pacarnya itu.
Tidak terima dengan kemarahan pacarnya, mahasiswa itu sekilas memandang punggung Afzal yang sedang berlalu meninggalkan tempat itu dan menjawab marah, “Salah sendiri! Orang kaya kok berpakaian seperti itu?”
Meski sudah berlari-lari menuju kelas, tetap aja Afzal terlambat karena terlalu lama di bank.
“Laporan!”
Afzal sampai di pintu masuk kelasnya.
Cassandra McGregor, seorang wali kelas yang terlihat masih muda dan cantik memandang Afzal.
“Hahaha. Aku pikir kamu takut masuk kelas karena kamu tidak punya uang untuk bayar kuliah!”
Mata Cassandra tertuju pada kantong plastik sampah berwarna hitam yang di pegang Afzal dan berkata, “Oh jadi kamu tadi memulung sampah buat ngumpulin uang untuk bayar kuliah?”
“Hahaha...”
Kata-kata Cassandra membuat sekelas tertawa terbahak-bahak.
Afzal diam saja.
Percuma melayani orang seperti itu!
Hanya Danny dan Yuri yang selalu dilayani dengan sangat baik oleh Cassandra karena mereka berdua adalah mahasiswa kaya di kelas tersebut.
Mereka juga kerap pergi bareng sepulang kuliah.
Meskipun Danny sering bolos kuliah dan sering tidak ikut ujian, tetapi nilainya tetap saja bagus.
Bahkan dia tidak perlu minta izin kalau tidak masuk kelas.
Sebaliknya, kalau sehari saja Afzal tidak masuk kelas tanpa izin, Cassandra mengancam akan mengusirnya. Agak berlebihan memang, tetapi memang kenyataannya seperti itu.
“Ok, kurasa kamu masih menunggu subsidimu cair untuk membayar kuliah semester ini, kan? Aku belum dapat info apapun dari Whitney soal ini. Aku ingatkan sekali lagi, batas waktu untuk membayar uang kuliah semester ini adalah akhir bulan! Kalau kamu tidak sanggup membayar, maka aku tidak akan ragu mengusir kamu keluar dari kampus ini!”
Cassandra memandang sinis pada Afzal dan melanjutkan ucapannya, “Baiklah, ambil kantong plastik sampahmu dan duduk ke bangkumu! Dasar memalukan!”
Cassandra paham situasi Afzal.
Meski diperlukan sedemikian, Afzal tidak pernah marah.
“Hmph!”
Danny, Blondie dan para mahasiswa lainnya tertawa terbahak-bahak.
Ekspresi wajah Afzal berubah dan berkata, “Wali kelas, siapa bilang aku akan menunda pembayaran uang kuliahku sampai akhir bulan? Aku mau bayar uang kuliahku sekarang.”
__ADS_1
“Apa? Yang benar saja kamu akan membayar kuliah hari ini?”
Cassandra kaget.
Xavia yang duduk di bangku bagian tengah, memandang dingin pada Afzal.
“Afzal, tolong jangan lagi melakukan hal yang sama dengan waktu lalu! Aku dan teman-temanmu tidak sanggup kalau harus menghitung recehan sebanyak itu!”
Cassandra menampilkan ekspresi keberatan. Semester lalu Afzal memberinya kejutan dengan sekantong recehan untuk membayar uang kuliahnya.
Kebetulan semester kemarin Afzal tidak mendapatkan subsidi dari kampus, maka dia mengumpulkan seluruh recehan yang dia kumpulkan dari hasil kerja paruh waktu yang dilakukannya untuk membayar kuliah. Semester lalu, kejadian itu membuat gempar seisi kampus.
Apa iya ada mahasiswa yang segitu miskinnya di kampus mereka?
Cassandra khawatir Afzal akan mengulang kembali yang di lakukan pada semester sebelumnya dan membuat dirinya malu untuk kedua kalinya!
“Ibu wali kelas, kurasa kita akan lembur lagi, nih! Kasihan banget tanganku ini harusnya bisa dipakai untuk makan dan main games, eh malah mau dipakai ngitung uang recehan!”
Danny, Blondie dan mahasiswa lainnya maju sambil mengelus tangan kanan mereka seolah kasihan karena harus menghitung sekantong recehan dari Afzal untuk membayar uang kuliahnya.
Mereka sengaja melakukan hal itu untuk merendahkan dan mengolok-olok Afzal.
Seketika wajah Xavia menjadi merah padam menahan malu karena bagaimanapun dia adalah mantan pacarnya Afzal.
“Hahaha. Baiklah. Kalau itu mau kalian, silahkan saja hitung uangku pelan-pelan dan jangan pernah berhenti sebelum kalian selesai menghitung semuanya!”
Ada sedikit kemarahan yang nampak di raut muka Afzal ketika mengatakan itu.
Afzal menaruh kantong plastik sampah berwarna hitam di depan kelas.
Wow!
Kantong plastik sampah berwarna hitam itu jatuh dan isinya berhamburan di depan kelas...
“Apa?”
Seluruh penghuni kelas terkejut.
Danny, yang sedang berdiri paling depan dan paling bersemangat mengejek Afzal terperanjat, ekspresi tidak percaya tergambar jelas di wajahnya.
Kok, bisa Afzal punya uang sebanyak itu?
Tak urung Cassandra ternganga dan saking kagetnya Sampai sulit bernapas.
Xavia juga sangat terkejut.
Uang itu... tidak kurang dari tiga puluh ribu dolar!
“Afzal, dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?” Cassandra bertanya setelah mampu menguasai dirinya kembali.
“Kurasa uang itu tidak kurang dari dua puluh ribu atau tiga puluh ribu dolar, benarkan Afzal?”
Seorang mahasiswi memberanikan diri bersuara karena penasaran.
__ADS_1