Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 33


__ADS_3

“Pencuri makanan?”


Elena terkejut dan pandangannya terfokus ke arah yang ditunjuk oleh si pria muda berbaju putih. Begitu dia melihat sosok yang ditunjuk oleh si pria muda berbaju putih, mata Elena membelalak seketika.


“Itu dia!”


“Siapa? Elena, kamu kenal dengan pencuri makanan itu?”


“Hmph! Dialah si pria kurang ajar yang aku ceritakan!” Elena menjawab dengan marah sambil menghampiri Afzal.


Para generasi kedua keluarga kaya raya itu mengikuti di belakang Elena.


Afzal menikmati makanannya sambil mempersiapkan diri untuk menyapa para boss dan pemilik bisnis di kawasan Mayberry Commercial Street nanti.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Afzal menghadiri pertemuan semacam itu.


Tiba-tiba, pemandangan di depannya mendadak gelap.


Afzal mendongakkan kepalanya dan melihat banyak orang kini berdiri di hadapannya. Ternyata gadis cantik, tetapi temperamental yang dia temui secara tidak sengaja di lobby, kini berdiri di hadapannya bersama teman-temannya. Gadis cantik itu tampak seperti pemimpin pasukan yang siap menyerang.


“Tidak salah lagi, memang benar kamu!”


“Kenapa kamu ada di sini?” Afzal berteriak dengan ekspresi terkejut di wajahnya.


“Kamu... kamu... kamu memang hina! Berani sekali kamu menyelinap dan mencuri makanan kami? Kurasa kamu pasti sudah bosan hidup!” Elena terus berteriak dengan marah, “Ladies, pria inilah yang melecehkan aku di dalam lift!”


“Hmph! Ayo beri dia pelajaran!”


Sekelompok gadis itu mulai memukuli Afzal atas perintah Elena. Mereka menerkam Afzal dan mulai mencubit, mencekik, mencakar dan bahkan merobek pakaiannya!


Para pria muda memilih untuk diam saja menonton dari jauh. Para pria yang lebih berumur pun hanya melakukan hal yang sama.


Sudah terlambat bagi Afzal untuk melawan, sekarang dia terlihat awut-awutan!


“Apa yang kamu lakukan? Kalau kalian terus menyerangku, aku tidak ragu untuk memukul balik...”


Rambut Afzal sudah berantakan. Bajunya robek dan mukanya memar akibat cubitan dan pukulan para gadis itu.

__ADS_1


Afzal mulai kehilangan kesadaran.


Elena kembali melayangkan tamparan ke muka Afzal.


“Siapa suruh kamu melecehkanku? Aku akan membunuhnya sekarang!”


Wanita gila! Mereka semua wanita gila!


Afzal melindungi kepalanya dari para gadis yang terus menyerangnya dengan agresif, mereka bahkan mendorongnya ke lantai.


“Stop!”


Seorang pria paruh baya berdiri mencoba menghentikan para gadis itu. Orang mulai berkerumun karena keributan yang terjadi.


Suara pria paruh baya berkacamata itu terdengar sangat berwibawa.


Mendengar kata-kata Warren, Elena dan teman-temannya berhenti memukuli Afzal.


“Ayah! Biarkan saja! Biarkan aku membunuh si kurang ajar ini! Dia tadi melecehkan aku di dalam lift, dan bahkan dia tidak tahu malu menyelinap ke sini untuk mencuri makanan kita!” Elena berkata sambil menghentakkan kaki dengan marah.


Warren Larson kehilangan kata-kata dan hanya bisa memandangi putrinya.


Warren belum bisa lupa sepenuhnya kejadian setahun yang lalu. Waktu itu Elena mendapati salah satu temannya sedang dirundung oleh seorang pria muda yang kaya, Elena tidak terima dan menyerang pria muda itu hingga berakibat fatal, si pria muda kaya kehilangan kejantanannya.


Makanya ketika melihat putrinya sedang menghajar seseorang lagi, dia buru-buru melerai sebelum hal yang lebih buruk terjadi.


“Ada apa ini? Wahai, Pria Muda, katakan padaku siapa dirimu?”


Warren mengernyitkan kening ketika melihat Afzal dengan rambutnya yang acak-acakan. Dia mencoba mengingat-ingat, tetapi dia yakin Afzal bukan orang dari kawasan Mayberry Commercial Street. Warren bisa memastikan karena dia kenal dengan semua orang dari segala umur di kawasan itu.


“Saya...”


Belum sempat Afzal menyelesaikan kalimatnya untuk membuka jati dirinya,


Elena sudah mengangkat kaki dan bermaksud menyerang buah pelirnya. Untung saja Afzal cepat menghindar.


Sialan! Kalau sampai Afzal lengah sedikit saja, dia pasti sudah kehilangan kejantanannya.

__ADS_1


Wanita ini gila!


Afzal berpikir untuk memberi Elena pelajaran!


Diam-diam Afzal mengumpat Elena di dalam hati karena dia masih terus berusaha menyerangnya. Untunglah Afzal melihat Zack dan pengawalnya sedang memasuki ruangan.


“Tuan Lyle!”


“Tuan Lyle!”


Semua orang di dalam ruangan menyambut Zack dengan penuh hormat. Termasuk beberapa pria muda juga ikut berdiri.


Elena seketika berhenti menyerang Afzal.


“Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan?” Tanya Zack dengan auranya yang membius semua orang. Dia melirik pada Elena dan teman-temannya yang berkumpul di sudut ruangan. “Untung saja Tuan Crawford belum datang! Apa yang akan dikatakannya kalau melihat keributan ini?” Zack berteriak pada mereka sebelum kemudian dia melirik pria berbaju putih.


Pria berbaju putih itu merasa bersalah karena dia sama sekali tidak membantu meyelesaikan keributan. Dia bahkan bagian dari keributan itu.


Warren lalu mencoba mengalihkan obrolan, “Tuan Lyle, apa Anda baru saja mengatakan bahwa Tuan Crawford akan segera datang?”


Zack menjawab dengan sikap dingin, “Aku tidak bisa menghubunginya saat ini, sepertinya dia mematikan telepon.”


“Jadi apa itu artinya Tuan Crawford memutuskan untuk tidak datang?”


Orang-orang di sana mulai merasa kecewa. Ini adalah kesempatan yang mereka tunggu-tunggu untuk bisa bertemu dengan Afzal Crawford. Tetapi mereka sadar tidak akan semudah itu, Afzal bukan orang biasa yang akan hadir hanya untuk undangan perjamuan.


Zack paham yang ada di pikiran orang-orang di sekitarnya. Dia lalu melanjutkan, “Jangan khawatir, Tuan Crawford tidak seperti yang kalian pikirkan. Dia adalah orang yang sangat rendah hati dan ramah. Jika dia bilang akan datang, maka dia pasti akan benar-benar datang.”


Setelah berkata demikian, Zack lalu berbalik pada Flynn.


“Flynn, coba cari cara untuk menghubungi Tuan Crawford segera! Kita harus tahu dia di mana!”


Flynn melangkah maju dan menganggukkan kepala pada Zack.


“Paman Zack, kita kan seharusnya mengadakan pesta untuk menjamu Tuan Crawford, tapi sepertinya ada orang yang mau membuat kekacauan di sini. Apa yang harus kita lakukan padanya?” Tanya Elena pada Zack dengan sikap manja.


“Oh, ya? Kira-kira apa yang akan dilakukan keponakanku yang cantik ini pada orang itu?” Jawab Zack sambil tersenyum pada Elena. Ya, dia sangat menyayangi Elena. Elena sangat cantik, enerjik dan menyenangkan. Zack selalu memanjakannya dan mengagumi insting kuat Elena.

__ADS_1


“Hmmphh! Kupikir kita harus membawanya ke studio bela diri milik Bro Flynn, menghajarnya dan memberinya pelajaran!”


Zack hanya tersenyum mendengar perkataan Elena. Detik kemudian, Zack melirik pada pria yang masih tergeletak di lantai dengan kondisi berantakan karena serangan Elena dan teman-temannya. Dia lalu tersenyum kecut dan berkata, “Baiklah. Flynn, lakukan apa yang dikatakan Elena. Tetapi kau cari tahu dulu di mana Tuan Crawford.”


__ADS_2