
Semua orang saling menimpali, menempatkan Afzal di situasi yang sulit.
Sialan! Aku benar-benar harus balas dendam pada mereka nanti.
Afzal merasa sakit hati. Dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu agar tidak melihat wajah mereka lagi. Moodnya benar-benar sudah berantakan!
Tiba-tiba suara pembawa acara terdengar dari atas panggung.
“Baik, mohon tenang, para hadirin. Malam ini...”
Acara pembukaan akan segera dimulai dan pembawa acara mulai memandu dari panggung. Semua orang segera duduk rapi di tempat masing-masing dan suasana dalam ruangan menjadi hening.
Afzal yang tidak mendapat tempat duduk harus berdiri dengan canggung di tengah-tengah aula yang megah itu. Dia akhirnya jadi pusat perhatian semua orang di sana.
“Eh, lihat orang itu. Ngapain dia berdiri seperti patung begitu?”
“Dia pelayan? Tapi kok penampilannya nggak seperti pelayan. Lihat, deh bajunya. Apa jangan-jangan dia masuk ke sini diam-diam untuk mencuri makanan?”
“Hahaha! Memalukan. Orang miskin ini nggak dapat tempat duduk? Keluarga Ziegler ini bagaimana sih mengatur acara. Kok bisa ada orang yang nggak dapat tempat duduk sampai berdiri di tengah aula begitu.”
Para tamu yang lain mulai berbisik-bisik.
Di saat yang sama, di sebuah meja utama dekat panggung, sekelompok pria dan wanita sedang duduk di sana. Meja ini biasa disediakan untuk tamu khusus dan dari keluarga istimewa.
Aula pertemuan di Restoran Grand Marshall memang sangat besar. Meskipun Quinton yang mengatur meja untuk Alice dan teman-temannya, tapi dia hanya bisa menempatkan mereka di meja tengah ruangan. Karena tentu saja meja depan panggung hanya untuk para tamu yang benar-benar istimewa dan terpandang.
Seorang pria muda di meja depan menoleh pada pria lain yang berbaju putih di sebelahnya, “Saudaraku Aiden, Saudariku Elena, lihat itu! Sepertinya sedang ada keributan di sini. Hahaha... ada orang yang mau mencuri makanan di restoran ini.”
Pria berbaju putih lalu mendongakkan kepala dari tempat duduknya dan menoleh ke arah yang ditunjuk pria tadi.
Dia lalu mengucek matanya memastikan dia tidak salah lihat.
“Astaga! Itu Tuan Crawford!”
__ADS_1
Saat mendengar kata ‘Tuan Crawford’, Elena yang sedari tadi hanya diam saja dan tidak peduli dengan sekitar, langsung mengangkat kepalanya dan terhenyak. Elena masih ingat betul penampilan Afzal saat pertama kali bertemu dengannya.
“Ya, itu memang dia!” Elena bergumam.
“Astaga, itu benar-benar Tuan Crawford!”
Beberapa pria dan wanita yang lain juga mengenali Afzal. Mereka bingung atas apa yang sedang terjadi.
“Tuan Crawford? Apa yang kau bicarakan? Aiden, dia itu cuma pengemis. Apa kau yakin?”
Plakk!
Pria berbaju putih yang tidak lain adalah Aiden itu langsung menampar keras pria di sampingnya ketika dia menyebut Afzal sebagai pengemis.
“Sialan! Siapa yang kau panggil pengemis? Kau sudah bosan hidup?”
Pria yang di tampar Aiden menutup wajahnya dengan menahan rasa tersinggung.
“Karena Tuan Crawford di sini, apakah kita harus menyambutnya, Aiden?”
“Tunggu! Sepertinya ada yang tidak beres.”
Aiden mencoba tetap tenang dan memperhatikan area tengah aula. Aiden melihat Afzal yang masih berdiri di sana dan di meja dekat Afzal beberapa gadis terlihat menertawakannya. Aiden mengerti sekarang yang terjadi. Pasti ada hubungannya dengan situasi ketika Aiden mengantar Afzal pulang ke kampusnya kemarin.
Afzal belum mengungkapkan identitasnya.
Aiden paham Afzal tidak mungkin sedemikian bersahaja dan sederhana di depan teman-temannya kalau dia sudah mengungkapkan identitasnya. Ditambah lagi, kalau semua tahu siapa sebenarnya Afzal, pasti dia sudah dikelilingi bodyguard yang mengikuti sepanjang waktu, bahkan di kampus. Bahkan mungkin dia tidak akan melanjutkan kuliahnya di Universitas Mayberry.
Kalau mereka bertindak gegabah saat ini, akan membuat identitas Afzal terungkap dan akan menarik perhatian publik. Bahkan dikhawatirkan akan menyebabkan masalah baru untuk Afzal. Itu sama saja artinya mereka bunuh diri.
Ayah Aiden adalah orang yang mahir menganalisis dan mengendalikan situasi sulit dan sifat ini menurun pada Aiden.
“Oh, tidak, Aiden. Lihat! Tuan Crawford terus diejek dan dipermalukan di depan banyak orang. Ini kesempatan kita untuk ambil langkah dan membantunya! Kita tidak boleh diam saja melihatnya dipermalukan, kan?” Salah satu dari mereka mendesak Aiden dengan nada cemas.
__ADS_1
“Tentu saja kita tidak akan diam saja. Tapi kita harus ingat, kita tidak boleh mengungkap identitas Tuan Crawford. Baiklah, kalian semua ikuti rencanaku.”
Aiden sudah merencanakan sesuatu di kepalanya. Dia lalu memberi tahu teman-temannya yang harus mereka lakukan.
Setelah mendengar penjelasan rencana dari Aiden, mereka menghela napas dan mengangguk paham. Untung saja tadi mereka tidak gegabah dan tergesa mengungkap identitas Afzal.
Dari tempat Afzal berdiri, dia sudah bersiap meninggalkan aula. Afzal sudah merasa sangat malu karena semua orang memperhatikannya. Dia membalikkan badan bersiap menuju pintu keluar.
“Hei, kawan, jangan pergi!”
Aiden dan teman-temannya tiba-tiba berdiri dan semua orang di sana menoleh pada mereka.
“Temanku, kalau kau tidak keberatan, ke sinilah bergabung bersama kami.”
“Ya, sini duduklah di sini. Kami masih punya kursi kosong.”
Beberapa orang di samping meja Aiden juga ikut berdiri, sebagian dari mereka bingung tidak mengerti.
“Hah? Apa yang terjadi?”
“Bos muda dari Paviliun Imperial Treasure, Tuan Aiden, mengundang pengemis itu ke mejanya?”
“Ya! Terlebih lagi, Tuan Aiden dan orang-orang di meja itu adalah termasuk sembilan pemilik bisnis terbesar di Mayberry Commercial Street! Mereka orang-orang yang sangat penting!”
“Di samping Aiden dari keluarga Baker, ada Nona Elena juga dari keluarga Larson. Ini... ini sungguh...”
Mereka bingung melihat yang sedang terjadi.
Keluarga Baker, Keluarga Larson, dan keluarga Fhiser adalah orang-orang yang dulu mengelola Restoran Grand Marshall dan memulai bisnis mereka di Mayberry Commercial Street, hingga kini mereka menjadi orang yang kaya raya dan terpandang.
Tentu mereka juga orang-orang yang dekat dengan Zack. Sekumpulan orang yang berpengaruh dan disegani.
Xavia, Yuri, Alice dan yang lainnya tercengang.
__ADS_1
Mereka sudah mendengar tentang orang-orang yang duduk di meja depan, tetapi belum pernah mendapat kesempatan untuk bertemu. Mereka sangat kaget ketika orang-orang terpandang itu justru mengajak Afzal duduk di depan.
Afzal juga tak kalah kaget melihat Aiden, Elena dan yang lainnya ada di acara pembukaan ini juga. Dia tadi tidak memperhatikan para tamu yang ada di ruangan itu.