
Aiden paham yang dimaksud Afzal, lalu memberi instruksi pada adiknya. Adik Aiden mengambil ponsel dan bergumam puas, “Okay, bersiaplah untuk sebuah pertunjukan besar.”
Adik Aiden lalu bergegas menuju ke belakang aula.
Afzal memang orang miskin di masa lalu. Dia tidak bisa membalas ketika diremehkan, dijatuhkan, dan di cemoohan sepanjang waktu. Jadi sekarang ketika dia sudah kaya. Tentu dia tidak akan lagi membiarkan orang lain merendahkannya, kan? Tentu Afzal dengan senang hati melindungi Aiden dan teman-temannya. Dia juga sangat kesal pada kelakuan Quinton yang menyebalkan dan membuat muak!
Acara pembukaan berlangsung dengan lancar. Akhirnya tiba momen pemotongan pita. Tuan muda pemilik Restoran Grand Marshall, Quinton, segera menuju ke panggung untuk menggunting pita.
“Alice, kamu ikut bersamaku, yuk!” Quinton mengajak Alice dan menggandeng tangan Alice lembut.
Orang-orang di dalam aula mulai merasa iri melihat Quinton. Xavia lebih iri lagi karena dia merasa tidak beruntung. Pertama, Xavia berpacaran dengan gembel seperti Afzal. Lalu dari Afzal dia beralih ke Yuri, anak orang kaya yang masih masuk kategori biasa saja. Pasti akan sangat menyenangkan kalau dia punya pacar seperti Quinton yang super kaya dan berkuasa!
Alice tentu saja tidak menolak ajakan Quinton.
Alice dan Quinton lalu berjalan beriringan menuju panggung. Ketika melewati meja Afzal, Alice meliriknya sinis. Alice ingin menunjukkan pada Afzal, meskipun Afzal duduk di meja paling istimewa, tetap tidak akan bisa menyamakan status Afzal dengan anak orang kaya yang lain. Akan selalu ada jurang pemisah di antara mereka.
Quinton juga memandang Afzal dengan sikap penuh kemenangan, seolah dia sedang menginjak-injak harga diri Afzal di depan mata semua orang. Sebenarnya alasan Quinton membenci Afzal adalah karena di masa lalu, harga dirinya pernah di injak-injak oleh seorang yang miskin seperti Afzal.
“Di masa depan, aku akan memastikan akan menginjak harga dirimu dan menempatkanmu di bawah kakiku. Kau tidak hanya akan menjadi sekadar miskin!” Begitu pikir Quinton.
Afzal masih asik meneguk wine seketika adik Aiden kembali ke meja. Setelah itu, dia mengangguk pelan pada Afzal, memberi kode bahwa semuanya sudah beres. Mereka hanya perlu menunggu pertunjukan besarnya.
Afzal memandang Quinton yang masih terlihat sangat bersemangat di atas panggung. Ayah dan Ibu tiri Quinton juga ada di sana. Afzal memperhatikan ekspresi aneh di wajah ibu tiri Quinton ketika tahu Quinton menggandeng Alice ke atas panggung.
“Semuanya, aku mau memperkenalkan pacarku pada kalian. Ini dia, namanya Alice!” Kata Quinton memperkenalkan Alice. Semua orang di aula memandang Alice yang masih di gandeng mesra oleh Quinton.
Afzal harus mengakui bahwa Alice memang benar-benar cantik. Wajar kalau Quinton sangat bangga menjadi pacar Alice.
“Alice, ayo sapa para tamu di sini,” Quinton berbisik pada Alice.
“Halo semuanya, perkenalkan aku Alice!” Kata Alice dengan canggung.
“Wah, cantik sekali, bagaimana ceritanya kamu bertemu dengan Quinton? Apa kamu memutuskan pacaran dengan Quinton karena ada momen tak terlupakan?”
__ADS_1
“Iya cerita, dong! Kami ingin belajar dari pengalaman Quinton.”
Beberapa orang di sana mulai memberondong Alice dengan berbagai pertanyaan.
Alice mengibaskan rambutnya dengan lembut sebelum kemudian menjawab, “Aku mengenal Quinton sejak lama. Paman Ziegler dan ayahku dulu adalah teman seperjuangan. Dan alasan aku memutuskan untuk memulai hubungan dengan Quinton adalah karena dia melakukan sesuatu yang membuatku terharu.”
“Wow!”
“Oh, jadi begitu ceritanya. Quinton keren banget, ya! Cara terjitu mengambil hati wanita memang dengan membuatnya tersentuh.”
Semua orang di aula itu merasa iri melihat kemesraan Alice dan Quinton. Afzal merasa sedikit tidak nyaman.
“Pasangan muda di depan kita ini benar-benar gambaran kebahagiaan! Baiklah, sekarang saatnya momen pengguntingan pita sebagai tanda dibukanya Restoran Grand Marshall. Tapi sebelum itu, kita akan saksikan video ucapan dari para pimpinan dan CEO dari seluruh dunia. Kami persilahkan hadirin sekalian untuk menyaksikan ke layar besar,” Kata pembawa acara mengalihkan perhatian audiens untuk menghindari kemoloran waktu.
Lampu ruangan di matikan.
Alice sempat melirik pada Afzal dengan senyum sinis. Afzal berbalik memberikan senyum padanya. Alice merasa senyum Afzal sedikit aneh. Afzal pasti di selimuti rasa iri, pikirnya.
“Hah?” Semua orang terkejut dan mematung di tempat masing-masing.
“Ini... ini... ya, Tuhan!”
Video menayangkan adegan Quinton menggandeng tangan seorang wanita ke dalam kamar. Wanita itu... ibu tirinya!
Glarrr!!!
Hadirin terkejut.
Quinton pucat pasi.
Alice tercengang.
Tidak kalah terkejut tentu saja ayah Quinton dan ibu tirinya.
__ADS_1
“Bangsat! Anak kurang ajar!” Ayah Quinton tidak bisa menahan amarahnya.
“Tidak! Itu bukan aku! Siapa yang melakukan ini? Siapa yang memutar video nya?” Quinton berteriak dengan suara gemetar dan ketakutan. Meskipun dia sudah berteriak agar videonya dihentikan, video itu tetap saja terus berjalan di layar besar.
Benar-benar tidak layak ditonton!
Alice menggelengkan kepalanya dengan penuh kecewa. Tidak hanya kecewa, dia juga merasa sangat dihina dan di permalukan di atas panggung! Alice baru saja memperkenalkan diri sebagai pacar Quinton dan sekarang semua orang harus menonton video Quinton yang mesum dan menjijikkan. Di tambah lagi, banyak wartawan dan awak media yang meliput di dalam aula.
Ya, Alice akan segera terkenal.
“Kau memang benar-benar bangsat!”
Plakkk!
Alice mendaratkan tamparan keras di pipi Quinton.
Tadi Quinton memuja-muja Alice. Membawanya melayang lalu detik kemudian Alice di lepaskan dengan penuh penghinaan.
Tangis Alice pecah! Dengan perasaan hancur dia berlari menuju pintu keluar aula.
“Alice! Alice!”
Naomi tidak menyangka kejadiannya akan berakhir seperti ini. Dia tahu pasti Alice sangat sakit hati. Naomi segera mengejar Alice sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Di atas panggung, Ayah Quinton juga menghajar Quinton karena telah mempermalukannya di depan umum. Orang-orang melihat ke panggung, menganggap drama keluarga ini sebagai sebuah tontonan.
“Hahaha! Apa sekarang Anda sudah puas, Tuan Crawford? Anak itu tadi sudah mempermalukan Anda di depan orang banyak dan menempatkan Anda di situasi sulit. Dia pasti tidak menyangka akan mendapat balasan seperti ini.”
Afzal menyengir puas pada Aiden, lalu beralih menoleh pada Quinton yang masih di atas panggung. Terlihat Quinton sedang sibuk menutupi wajahnya agar para wartawan tidak bisa mengambil gambarnya.
“Oke, pertunjukannya sudah selesai. Sebaiknya kita pergi,” Kata Afzal kemudian.
Afzal sama sekali tidak kasihan pada Quinton. Afzal merasa Quinton memang layak mendapatkannya. Setelah berbicara sebentar pada Aiden dan teman-temannya, Afzal memutuskan untuk menghampiri Harper. Dia tidak punya alasan untuk tinggal di sana lebih lama. Lebih baik dia segera pulang dan kembali ke asrama.
__ADS_1