
“Aku...aku tidak mau!”
Xavia memandang Yuri dan dia bisa menangkap makna tersirat dari tatapannya itu.
Benar-benar memalukan!
Xavia terus menggeleng.
“Sayangku, tolong ingat semua hal baik yang sudah aku lakukan untukmu. Tolong tunggu aku di sini. Aku akan ke rumah, mengambil uang, lalu balik ke sini untuk menjemputmu. Setelah itu kita bisa menghabiskan malam berdua, okay?”
Yuri memandang Afzal sambil menyelesaikan kalimatnya. Seolah dia ingin meninggalkan Xavia bahwa alasan mereka ikut traktiran malam itu adalah untuk mempermalukan Afzal dan Xavia tidak boleh lupa akan hal itu!
Okay!
Mengingat semua itu Xavia merasa sedikit tenang.
Xavia harus bisa membuktikan bahwa pacar barunya jauh lebih baik dibanding Afzal! 100 kali lebih baik!
Dia tidak boleh kehilangan muka di depan Afzal.
“Okay, baik, aku tunggu kamu di sini. Aku tahu kamu orang kaya dan aku yakin kamu akan kembali ke sini untukku.”
Xavia dengan sengaja mengeraskan suaranya.
Yuri segera menghilang dari restoran begitu Xavia menyetujui untuk tinggal.
Xavia sebenarnya ingin mengajak beberapa teman untuk menemaninya, tetapi Cassandra tidak setuju. Tidak elok kalau terlalu banyak orang pulang ke asrama larut malam. Jadi dia mengajak serta para mahasiswi kembali ke asrama kampus bersamanya.
Afzal adalah orang terakhir yang meninggalkan restoran. Dalam hati dia merasa agak bersalah dengan Xavia.
Serius!
Kok, bisa Yuri meninggalkan Xavia sendirian di restoran di tengah malam begini? Afzal merasakan ngilu di hatinya.
Bagaimanapun, antara Xavia dan Afzal pernah terjalin hubungan selama lebih dari tiga tahun dan Afzal tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa dia sudah tidak ada perasaan apapun dengan Xavia.
Meski sangat kecewa dengan Xavia, namun Afzal tidak mampu membenci gadis itu. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Xavia sebenarnya seorang yang baik.
Afzal merasa sedih dengan situasi yang dihadapi Xavia. Andai Xavia mau minta tolong padanya, tentu Afzal akan menolongnya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Sayangnya, Xavia terus memandang Afzal dengan tatapan dingin. Xavia sangat yakin kalau Yuri akan segera kembali dan menjemputnya.
Ugh!
Afzal mengeluh pada dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan Xavia.
Afzal mengingatkan dirinya sendiri bahwa Xavia yang sekarang bukan lagi Xavia yang dikenalnya dulu, seorang yang baik dan selalu menggunakan akal sehat dalam bertindak. Sekarang Xavia berubah menjadi pribadi yang sangat materialistis dan kerap berperilaku kasar.
Afzal berlalu meninggalkan restoran tanpa menoleh lagi.
Beberapa saat kemudian, Afzal tiba di asrama. Malam ini dia sudah berhasil menjatuhkan Yuri di hadapan teman sekelasnya, seharusnya ini jadi hari yang membahagiakan untuknya.
Nyatanya Afzal tidak merasa bahagia sama sekali.
Harper menepuk lembut pundak Afzal.
“Afzal, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kamu baik-baik saja setelah menghabiskan begitu banyak uang untuk traktiran malam ini? Kami sudah berusaha untuk menghentikanmu beberapa kali, tapi kamu tidak bisa dihentikan. Aku tadinya berharap kamu menyimpan uang tiga puluh ribu dolar itu dan tidak menghabiskannya sekaligus supaya kamu bisa menikmati hari-harimu di kampus dengan lebih nyaman.”
Afzal tersenyum dan berkata, “Huh, siapa bilang aku cuma menang tiga puluh ribu dolar?”
“Apa?”
“Ya, aku akui harga makanan malam ini lumayan mahal, tapi uangku masih banyak, kok. Pokoknya aku tidak habiskan semua uangku untuk traktiran malam ini.”
Afzal menjelaskan kepada teman-temannya.
“Seberapa banyak, sih uang lotre yang kamu menangkan, Afzal?”
“Ya, berapa banyak semuanya, Afzal?” Jangan bikin kami penasaran terus, dong!”
Sekarang Harper dan semua teman-temannya berbaring di atas tempat tidur Afzal, mereka tidak akan beranjak sebelum Afzal mengatakan kebenarannya.
Afzal putus asa dan hanya bisa menunjukkan jari-jari tangannya.
“Delapan? Delapan puluh ribu dolar? Harper bertanya dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
“Ayo, kita tidur! Besok Sabtu dan aku mau ke perpustakaan pagi-pagi sekali untuk belajar. Jadi sekarang aku harus tidur supaya besok bisa bangun pagi!” Afzal mencoba menutupi rasa bersalah karena harus terus membohongi teman-temannya dengan pura-pura mengantuk.
“Bilang, dong! Delapan puluh ribu dolar atau delapan ratus ribu dolar?”
__ADS_1
Harper sangat penasaran. Tetapi kemudian dia menyerah karena semua usahanya sia-sia, Afzal tetap tidak mau buka mulut.
Toh tidak penting baginya berapa uang lotre yang dimenangkan Afzal, delapan puluh ribu atau delapan ratus ribu dolar baginya sama saja. Yang paling penting sekarang Afzal punya uang.
Harper merasa damai.
Afzal tidak bisa tidur karena terus didera rasa bersalah.
Afzal masih mengkhawatirkan Xavia.
Afzal tidak tahu bahwa Xavia sudah meninggalkan restoran.
Sebelum traktiran, Afzal menyempatkan waktu untuk melakukan investigasi terhadap Yuri dan dia mendapatkan informasi bahwa keluarga Yuri tidak terlalu kaya. Ayah Yuri punya satu pabrik dan uang saku yang dia berikan kepada Yuri sebesar seribu dolar setiap bulan. Afzal juga tahu bahwa Yuri tidak punya tabungan.
Sudah barang tentu Yuri tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan.
Dari sisi kepribadian, Yuri bukan tipe orang yang bertanggung jawab. Afzal menduga Yuri tidak akan kembali ke restoran untuk menjemput Xavia.
Afzal berharap Xavia menelepon dan meminta bantuannya, tapi sampai tengah malam Xavia tidak kunjung menelepon.
Mengapa dia masih saja memikirkan Xavia? Padahal sudah jelas bahwa Xavia cinta Yuri dan bukan dirinya...
Afzal merasa putus asa.
Esok adalah Sabtu. Teman sekamar Afzal masih bermalas-malasan di tempat tidur. Ponsel Afzal berdering dan dia segera mengangkat teleponnya. Dia pikir Xavia yang menelepon, tapi ternyata panggilan itu dari Zack!
Afzal bangun dari tempat tidur dan buru-buru masuk kamar mandi untuk menjawab telepon dari Zack.
“Selamat pagi, Tuan Crawford!” Zack menyapa penuh hormat.
“Tuan Lyle, terima kasih sudah menelepon. Aku ingin bertanya satu hal,” Afzal bertanya sambil tersenyum.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Crawford? Katakan saja yang Anda inginkan. Saya akan segera melakukannya untuk Anda!”
Afzal mengatakan pada Zack tentang uang yang dia habiskan di Homeland Kitchen tadi malam.
“Oh! Soal itu? Kurasa Anda menghabiskan kurang dari sepuluh ribu dolar. Harga anggur merah yang Anda pesan seharga sembilan ribu dolar itu, sebenarnya diproduksi oleh Keluarga Crawford di luar negeri, jadi biaya produksinya cuma beberapa ratus dolar saja sebenarnya. Hahaha...”
Zack tersenyum, sebenarnya dia menyayangkan bahwa Afzal hanya menghabiskan sedikit uang, tetapi Afzal sudah mulai menunjukkan perkembangan sesuai yang diinginkan Jessica.
__ADS_1
“Tuan Crawford, ada lagi yang bisa saya lakukan? Anda ingin saya mengembalikan dua puluh ribu dolar yang Anda gunakan tadi malam? Saya bisa melakukannya saat ini juga kalau Anda mau...?