
“Ya, saya sih senang kalau orang kaya seperti Anda tidak tergiur dengan penawaran yang begitu, Tuan Wright. Sebaliknya, di luar sana banyak anak muda yang tidak cukup bijak dan hanya dipenuhi perasaan gengsi dan sombong. Keluarga mereka tidak punya bisnis yang besar, malah sebenarnya masih punya masalah finansial, tapi mereka mau membayar mahal hanya untuk dapat kesempatan uji mengendarai Ferrari.”
Ketika mendengar penjelasan petugas bengkel itu, seketika Whitney dan Victor berpandangan satu sama lain. Sepertinya mereka sudah menemukan jawaban dari rasa penasaran mereka.
“Jadi maksudmu kalau seseorang mau membayar tujuh ribu dolar, dia akan dapat sopir yang akan mengantarnya berkeliling, jadi orang itu bisa tahu rasanya naik Ferrari sport?” Tanya Whitney mencoba memperjelas apa yang sudah didengarnya.
“Benar. Dan menurut kabar dari orang dalam, promosi ini akan dibatalkan dalam beberapa hari ke depan karena dianggap tidak berguna dan banyak orang mengkritik Ferrari. Mereka bilang promosi ini terlalu mencolok.”
“Aahh! Ya, ya, aku mengerti sekarang.” Whitney menghela napas lega.
Jadi ternyata untuk memuaskan gengsinya, Afzal rela membayar tujuh ribu dolar hanya untuk merasakan berkeliling dengan Ferrari. Whitney tidak habis pikir ternyata Afzal memang benar-benar memuakkan!
Whitney jadi berspekulasi jangan-jangan Afzal bukannya menghindar supaya tidak ada yang melihat, tapi dia justru sengaja minta antar ke gerbang kampus supaya ada orang yang melihatnya keluar dari Ferrari!
Benar-benar licik!
Pfft!
***
“Haatt.. cchiiii...!”
Afzal bersin dengan keras setelah dia keluar dari tempat pendaftaran kursus mengemudi di kampus. Dia baru selesai mengisi form pendaftaran sebagai peserta kursus mengemudi. Lembaga kursus mengemudi ini bekerjasama dengan kampusnya dan pihak kampus menyewakan sebagian gedung sebagai kantor tempat kursusnya.
Afzal sudah memutuskan akan membeli mobil karena dia hanya punya waktu beberapa hari sampai akhir bulan. Dia harus menghabiskan tiga juta dolar yang ada di kartu Universal Global Supreme shoppernya.
Bagaimana dia akan mengendarai mobil kalau belum punya SIM? Makanya hari ini Afzal mendaftarkan diri di tempat kursus mengemudi. Sebelumnya dia tidak pernah punya cukup uang untuk mendaftar ujian mengemudi. Akhirnya mimpinya tercapai sekarang.
__ADS_1
Afzal merasa sangat senang dan bersemangat.
Tetapi dia heran kenapa dari tadi dia sering bersin. Apakah ada orang yang sedang membicarakannya?
Hmm...
Afzal lalu memutuskan kembali ke asrama untuk istirahat. Sejurus kemudian, ponselnya berdering. Ada panggilan dari teman sekamarnya, Harper.
“Ada apa, Harper?”
“Afzal, kamu dimana? Akan balik ke asrama? Alice mengajak kita untuk main keluar. Kamu mau ikut? Hayley yang meminta Alice mengundang kita untuk ikut.”
Mendengar itu, Afzal merasa Harper tidak lagi maskulin seperti dulu sejak dia jatuh cinta pada Hayley. Afzal tahu tidak seharusnya dia menilai Harper demikian. Lagi pula ketika jatuh cinta dulu, Afzal juga sama saja. Afzal selalu memikirkan Xavia dan mengutamakan perasaan Xavia sebelum melakukan apapun. Kalau Xavia senang, dia akan ikut senang. Kalau Xavia sedih, dia juga sedih. Afzal sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa begitu.
Mungkin begitulah rasanya jatuh cinta pada seseorang.
“Afzal, justru kenapa aku menelponmu karena Alice - lah yang setuju dan minta kamu untuk ikut,” Kata Harper menjelaskan.
“Hah?” Afzal tercengang.
Ini tidak masuk akal. Bukankah Alice selalu jengkel padanya setiap kali mereka bertemu? Kenapa justru kali ini Alice ingin Afzal ikut?
Sejujurnya, Afzal sudah terlalu banyak makan di acara perjamuan tadi, jadi dia sama sekali tidak lapar. Dia juga merasa sangat lelah setelah banyak berbincang dengan para pebisnis selama pesta.
Afzal sedang tidak ingin pergi. Lagi pula ini hanya nongkrong santai, dia ingin fokus saja untuk persiapan tes mengemudi.
Mungkin ini memang sudah diatur takdir. Kebanyakan kehidupan anak orang kaya berkisar seputar nongkrong dan berkumpul. Meskipun Afzal belum mengungkap identitasnya, rupanya segala jenis pesta dan undangan nongkrong sudah mulai menghampirinya.
__ADS_1
Ketika Afzal mengatakan tidak ingin ikut, Harper juga tidak akan pergi. Afzal jadi merasa bersalah dan dengan terpaksa akhirnya setuju untuk ikut malam itu.
Afzal pulang ke asrama dan berganti baju. Setelahnya, Afzal dan teman sekamarnya bergegas pergi, mereka sudah berjanjian untuk bertemu dengan yang lain di gerbang kampus.
“Alice, kenapa kamu tiba-tiba mengajak kita makan malam? Memangnya kita mau ke mana?” Naomi yang juga ada di sana langsung bertanya pada Alice karena penasaran.
“Hahaha... sejujurnya yang akan mentraktir kalian bukan aku, tapi keluarga Quinton! Restoran mereka di Mayberry Commercial Street akan segera di buka. Kalau dari hasil rapatnya berjalan lancar dan mereka mendapat persetujuan, maka Restoran Grand Marshall akan menjadi milik keluarga Quinton!”
Alice terlihat bangga dan mendongak sombong memandang Afzal.
Hmph!
Apakah Afzal masih merasa hebat hanya karena dia bisa mentraktir semua orang di Wayfair Mountain Entertainment? Hal yang membuat Quinton dan Alice sangat malu saat itu. Tetapi apa yang akan terjadi selanjutnya? Afzal pasti akan kembali menjadi gembel miskin seperti sebelumnya. Apa dia masih mampu mengundang banyak orang ke Wayfair Mountain Entertainment lagi?
Tentu berbeda dengan Quinton. Keluarga Ziegler tidak hanya memiliki pabrik mereka sendiri, tapi juga memiliki restoran di Mayberry Commercial Street. Jika dia bisa membangun hubungan baik dengan si raja bisnis, Zack Lyle, maka masa depan Quinton akan cerah dan terjamin.
Alice memang sengaja mengundang Afzal ikut bersama mereka malam itu. Dia ingin Afzal tahu bahwa sampai kapanpun Afzal tidak ada apa-apanya dibanding Quinton. Alice ingin membuat Afzal malu. Tetapi Alice harus menelan kecewa karena sepertinya Afzal terlihat biasa saja dan tidak peduli. ‘Baiklah, akan kita lihat nanti!’ Kata Alice dalam hati.
“Alice, karena ini pembukaan restoran milik Quinton, apa pantas kalau kamu bawa segini banyak orang? Lagian, kami kan nggak begitu dekat sama Quinton,” Ujar Naomi sedikit khawatir.
Jacelyn yang dari tadi sibuk membetulkan make - upnya tertawa, “Hahaha! Apanya yang nggak pantas? Alasan Alice membawa kita semua adalah karena dia mau membuat pengumuman penting. Kalian semua pasti ingat yang terjadi di tempat karaoke minggu lalu. Jadi sebenarnya Quinton - lah yang minta tolong ayahnya untuk membantu kita. Nah, apa yang dilakukan Quinton membuat Alice terkesan.”
“Dan beberapa hari terakhir Quinton mengejar-ngejar Alice. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Alice luluh dan memberi Quinton kesempatan. Mereka berdua pacaran dan Quinton akan jadi cinta pertama Alice! Wuuuuw...”
“Apa?”
Semua orang terkejut mendengar penjelasan Jacelyn.
__ADS_1
Tak disangka, Afzal adalah orang pertama yang berteriak paling keras. Sial! Jasanya diakui orang lagi!