
“Sepertinya sekarang ada mahasiswa super kaya di kampus kita! Dan dia baru saja membeli mobil sport Lamborghini Reventon!”
“Gila! Harga mobilnya kira-kira satu setengah atau dua milyar dolar lebih! Ayo, kita lihat!”
Rombongan mahasiswi itu mendorong Afzal dengan kasar, makin lama makin banyak orang yang ingin melihat mobil Afzal.
Afzal sudah benar-benar kesal. Kalau dia ingin mempermalukan mereka, dia bisa saja mengeluarkan kunci mobilnya dan lalu mengendarainya sekarang.
Tetapi Afzal bukan tipe orang yang bisa melakukan hal semacam itu, apalagi di hadapan begitu banyak orang.
Ternyata memarkir mobil di parkiran efeknya sama saja dengan berhenti di depan pintu masuk.
Afzal melihat sekitar dan memutuskan untuk menunggu beberapa waktu sampai parkiran benar-benar kosong sebelum dia memindahkan mobilnya ke tempat lain.
Sepertinya itu satu-satunya yang bisa dia lakukan!
Afzal mengeluh.
Lalu Afzal kembali mengantongi kunci mobilnya, memutar tubuhnya dan beranjak meninggalkan parkiran.
Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari seseorang yang tidak ada dalam kontak telponnya.
Afzal menjawab panggilan telepon.
“Betul ini dengan Afzal? Saya lupa memberitahumu pagi ini bahwa kamu harus datang ke North Playground jam 1 siang untuk praktek Tahap 2!”
Terdengar samar-samar suara seorang wanita di seberang sambungan telepon.
Selesai mengatakan yang ingin dia katakan, wanita itu menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Afzal telah melakukan praktek Tahap 1 beberapa waktu sebelumnya, jadi sudah sewajarnya dia akan praktek Tahap 2 hari ini.
Afzal mengabaikan nada bicara wanita itu yang dingin dan kurang sopan, Afzal buru-buru menuju ke North Playground karena dia ingin mendapatkan SIM nya secepat mungkin.
Beberapa saat kemudian, Afzal tiba di lokasi.
Latihannya sudah dimulai.
Nampak seorang instruktur berkaca mata hitam sedang mengajar seorang peserta cara memutar mobil.
Sekurangnya ada enam orang peserta lainnya yang sedang menunggu.
Beberapa orang diantaranya pria dan beberapa orang lainnya wanita.
Semua orang berdiri di pinggir dan mengamati arahan instruktur tentang bagaimana menyetir dan menguasai mobil dengan benar.
Begitu Afzal bergabung di antara kerumunan, beberapa mahasiswi menutup mulut dengan kedua tangan mereka karena terkejut, mereka sulit percaya dengan yang sedang dilihatnya.
“Hahaha. Nah, sekarang kamu mau apa? Aku kan sudah ngasih tahu kamu, Quinn, tapi kamu tidak percaya. Jadi kamu harus traktir aku makan malam!”
Salah seorang mahasiswa tersenyum sambil berkata riang.
“Oh, jangan senang dulu, belum tentu! Siapapun tidak pernah menduga Afzal akan datang ke sini untuk latihan menyetir? Itu tidak masuk akal! Nathaniel, kupikir kamu berani mengajakku taruhan karena kamu pasti sudah melihat namanya di papan pengumuman! Kamu sudah membohongiku!” Seorang gadis bernama Quinn menjawab cepat.
Faktanya memang mereka melihat nama Afzal tertera di daftar nama peserta ketika mereka sudah tiba di lokasi latihan menyetir.
Dua orang di antaranya bertaruh apakah Afzal yang dimaksud adalah teman satu jurusan dengan mereka atau Afzal yang lain.
Ternyata benar, Afzal yang dimaksud adalah teman mereka yang satu jurusan di kampus.
__ADS_1
Mereka semua kaget!
Sebenarnya Afzal kurang familiar dengan kedua mahasiswa itu. Sebelumnya dia hanya beberapa kali bertemu dengan mereka di kampus.
Sebagai seorang miskin yang menerima subsidi kampus dari Perkumpulan Mahasiswa, Whitney kerap menyuruh Afzal melakukan pekerjaan untuk mereka. Jadi tidak mengherankan semua orang di perkumpulan Mahasiswa kenal Afzal.
Hampir tidak mungkin teman satu jurusan dengan Afzal tidak pernah mendengar tentang Afzal.
Setelah mendengar pembicaraan antara Quinn dan Nathaniel, semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di situ melihat ke arah Afzal.
Beberapa orang mahasiswa tidak kuasa menahan tawa mereka.
“Bro Nathaniel, benarkah si miskin dari jurusanmu itu beneran miskin?”
Mahasiswa ini menganggap bahwa merendahkan orang lain dapat mengangkat derajatnya. Tidaklah heran jika dia tidak ragu meledek dan merendahkan Afzal karena kemiskinannya. Buat apa respek dengan orang miskin dan tidak punya status sosial seperti Afzal?
“Ya, dia miskin! Saking miskinnya, kalian bahkan tidak akan sanggup membayangkan betapa miskinnya dia. Hahaha!” Nathaniel menjawab sambil tertawa.
Afzal mendengus dingin menanggapi sindiran dan olok-olok mereka. Afzal memutar tubuhnya dan berjalan menjauh seolah Nathaniel dan Quinn tidak ada di tempat itu.
Afzal berkata dalam hati, anjing menggonggong, kafilah berlalu.
Ketika Nathaniel menyadari Afzal mengabaikannya, dia menjadi marah.
Nathaniel hendak memukul Afzal, tapi belum sempat dia melakukannya, peserta yang sedang latihan ternyata sudah menyelesaikan latihannya dan pintu mobil terbuka perlahan.
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengantri menunggu giliran latihan menoleh dengan cepat dan memandang ke arah mobil latihan.
“Lihat, Teman-teman! Si cantik sudah selesai latihan!”
__ADS_1