Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 46


__ADS_3

Dia menaksir harga pakaian bermerek yang dikenakan sejoli itu senilai ribuan dolar dan bisa dipastikan mereka berasal dari kalangan keluarga kaya.


Mereka datang untuk membeli Gallardo. Jelas bahwa mereka memang punya kemampuan untuk membeli Lamborghini.


SPG itu merasa bahwa Afzal adalah seorang pria muda miskin yang sedang coba-coba rasanya naik Reventon. Dia tidak mungkin sanggup membelinya dan hanya seorang bermuka tebal alias tidak punya malu.


“Ganteng, cantik, selera Anda berdua memang bagus. Namaku Vanessa, ada yang bisa saya bantu?” Vanessa bertanya dengan hormat.


“Oh, kami sebenarnya datang untuk test - drive Lamborghini Gallardo. Lalu pacarku melihat Reventon dan dia jadi ingin mencoba test - drive Reventon. Kalau kamu tidak keberatan, kami ingin membayar deposit untuk test - drive...” Pria muda itu menjawab sambil tersenyum.


“Tentu, silahkan Anda bawa mobilnya untuk test - drive. Jangan khawatir soal deposit, Anda tidak perlu membayar untuk itu...”


Pasangan itu terlihat serius akan membeli mobil. SPG itu sekilas melirik pada arloji yang dipakai oleh sang pria muda, dia menaksir harganya lebih dari lima belas ribu dolar.


Vanessa tertawa riang


“Hm... Tampaknya sedang ada pembeli di dalam mobil....” Pria muda itu menjawab dengan senyum kecut.


“Ahh? Oh! Maaf, Tuan! Pria itu bukanlah pembeli. Aku akan memintanya untuk segera keluar dari dalam mobil sekarang!”


SPG itu menimbang-nimbang untung dan rugi!


Kalau dia bisa melayani pasangan muda itu dengan baik, paling tidak mereka akan jadi membeli Gallardo. Terakhir kali Lamborghini jenis itu terjual di harga empat ratus lima puluh ribu dolar! Setidaknya mereka hampir bisa dipastikan akan membeli salah satu dari koleksi mobil yang ada.


Apapun itu tetap lebih baik dari pada dia menghabiskan waktunya yang berharga meladeni si miskin itu


“Permisi, Tuan. Jika Anda tidak ingin membeli mobilnya, tolong keluar dari mobil sekarang juga!”


Vanessa membuka pintu mobil dan berbicara dengan intonasi tajam dan dingin. Sementara itu Afzal sedang mempelajari interior mobil dengan teliti.


Namun dia sudah diusir keluar.


“Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak akan membeli mobil ini. Aku hanya bilang bahwa aku ingin melihat-lihat dulu...” Afzal sangat menyukai mobil itu dan ingin melihat lebih detail.


“Apa aku terlihat seperti orang yang peduli apakah kamu mau beli mobil ini atau tidak?” Sekali lagi Vanessa memandang Afzal dan semakin jelas bahwa pakaian yang dipakai Afzal sangatlah santai, dia tidak mengerti mengapa dia berani sekali masuk ke gerai Lamborghini hanya untuk melihat-lihat mobil.


Kalau dia hanya ingin melihat-lihat, paling tidak dia bisa pergi ke gerai BMW yang biasa.


Bagaimanapun sekarang Afzal sudah berada di gerai Lamborghini dan dia terhitung sebagai calon pembeli, jadi Vanessa tidak boleh berlaku kasar dan menyinggung kepadanya.

__ADS_1


“Ah! OMG! Mengapa ada orang seperti ini di Gerai Lamborghini? Mendadak aku merasa mobil sport mewah ini turun pamor jadi barang murahan!”


Wanita yang sedang berada dalam rangkulan pria muda itu menutup mulut dengan kedua tangan saking kagetnya.


Keduanya memasuki gerai Lamborghini dengan mood yang sangat baik karena merasa bahwa hanya orang kaya dan berpengaruh di Mayberry City yang berkunjung ke Gerai Lamborghini dan mereka termasuk di dalamnya.


Di tempat seperti ini, sesama pengunjung yang awalnya tidak saling kenal bisa saja saling menyapa dan lambat laun tahap demi tahap dan akhirnya berteman.


Tetapi mereka kaget ketika Vanessa membuka pintu mobil, mereka tidak pernah menyangka akan bertemu seorang seperti Afzal.


Pasangan itu merasa kecewa.


Terlebih lagi si wanita dan dia tidak ragu untuk memperlihatkan kekesalannya melalui raut mukanya.


“Nona Vanessa, apakah benar Gerai Lamborghini menerapkan sikap toleran yang sangat tinggi kepada pengunjung? Kenapa kau biarkan orang seperti itu masuk ke sini? Bahkan kamu membiarkan dia duduk di kursi Reventon yang super mewah?”


Pria muda itu sangat terkejut dan tidak ingin melihat Afzal.


Pria muda itu merasa bahwa antara dirinya dengan Afzal terdapat perbedaan kelas yang sangat ekstrim.


Dia juga merasa sedikit marah sekarang. Dia merasa kehilangan muka di hadapan pacarnya karena orang miskin seperti Afzal bisa duduk di kursi mobil semewah Reventon di hadapannya.


Alasan dia ngajak pacarnya ke Gerai Lamborghini adalah untuk pamer!


Afzal masih terus asyik melihat-lihat interior mobil dan tampaknya dia sedang mengecek fungsi smart console.


“Keluar dari mobil sekarang juga!”


Vanessa berteriak dan mengulurkan kedua tangannya lalu meraih kerah baju Afzal. Dia mencoba mengeluarkan Afzal dari dalam mobil secara paksa.


Vanessa bertekad agar pasangan muda itu melakukan transaksi hari itu juga.


Tanpa sadar dia terlalu kuat mengerahkan tenaganya.


Afzal tidak menyangka bahwa Vanessa akan berlaku sangat tidak sopan padanya. Akibatnya kepala Afzal membentur mobil dan menimbulkan rasa nyeri.


“Jika kamu tidak mau keluar dari dalam mobil, aku akan memanggil satpam sekarang juga!” Vanessa berteriak kesal.


Afzal keluar dari mobil dan tangannya memegangi kepalanya yang sakit.

__ADS_1


Sial. Afzal tidak menyangka bahwa SPG itu akan menariknya keluar dengan kasar ketika dia tengah asyik melihat-lihat interior mobil.


“Aku ke sini untuk beli mobil. Kenapa aku tidak boleh melihat-lihat?” Sejujurnya Afzal mulai merasa marah.


“Beli mobil? Jenis mobil yang mana yang mampu kamu beli? Aku sudah berbaik hati mengizinkan kamu melihat-lihat mobil, tapi sepertinya kamu semakin tidak tahu diri!”


Vanessa memperlakukan Afzal sangat tidak sopan dengan tujuan untuk menyenangkan pasangan sejoli yang kini berdiri di belakangnya.


Keributan ini menarik perhatian pengunjung lain di gerai mobil itu.


Rupanya pasangan muda itu belum merasa puas.


“Sayang, karena si miskin ini sudah duduk di dalam Lamborghini, aku jadi berubah pikiran. Aku tidak ingin beli Lamborghini lagi! Ahh! Sangat di sayangkan!”


Wanita muda itu terus memprovokasi dan membuat situasi semakin panas.


Mereka tentu saja tidak sanggup membeli Reventon.


Untung-untungan kalau mereka sanggup membayar Gallardo.


Wanita muda itu hanya ingin memanfaatkan kesempatan untuk melakukan test drive Reventon, mobil sport super mewah yang terkenal itu.


Semua orang memiliki sisi buruk di dalam dirinya, tidak peduli apakah dia miskin atau kaya. Mereka lupa bahwa ketika mereka merendahkan orang lain sebenarnya mereka sedang merendahkan diri mereka sendiri.


Vanessa membungkukkan badannya di hadapan pasangan sejoli itu.


“Maafkan saya, saya akan membereskan masalah ini segera!”


Dia menyesali dirinya mengapa membiarkan si miskin tadi memasuki gerai Lamborghini - nya!


Vanessa memutar tubuhnya dan ternyata Afzal sudah berlalu pergi.


Anehnya dia tidak menuju pintu keluar.


Dia malah menuju ke ruangan manajer.


“Itu ruangan manajer! Apa yang sedang kamu lakukan! Kembali ke sini!”


Vanessa berteriak sambil menghentakkan kakinya dengan marah.

__ADS_1


Apa yang dia inginkan?


Si pria miskin itu sudah membuat banyak sekali masalah dan semua masalah bersumber dari dirinya sendiri!


__ADS_2