
Ketika para bos besar di sana, termasuk Warren, tahu bahwa putri mereka tidak melakukan hubungan seksual dengan Afzal, mereka merasa kecewa.
Pesta perjamuan itu akhirnya berjalan dengan lancar dan berakhir sempurna. Makanan yang disajikan juga sangat enak. Zack dan rombongannya mengikuti Afzal dan menawarkan diri untuk mengantar Afzal pulang.
“Tuan Crawford, biar saya mengantar Anda pulang.”
Afzal baru akan menganggukkan kepalanya ketika kemudian seorang pria tambun meringsek mendekatinya dan berkata, “Tuan Crawford, biar putra saya saja yang mengantar Anda. Ini dia, namanya Aiden Baker. Dia mahasiswa di Universitas Sunnydale, tidak jauh dari Universitas Mayberry.
Pria itu tidak peduli dengan jenis mobil yang akan digunakan untuk mengantar Afzal. Yang dia inginkan adalah Afzal bisa menaiki mobil putranya dan mengingat nama putranya. Itu sudah cukup baginya.
Tentu saj, Aiden yang dimaksud tidak lain adalah anak muda berbaju putih. Aiden hanya menunduk canggung di depan Afzal dengan tangan di belakang pinggang. Bagaimana tidak, keluarga Crawford adalah keluarga yang sangat kaya dan disegani! Dia sangat gugup berada di depan Afzal.
Menanggapi tawaran ayah Aiden, Afzal lalu menganggukkan kepala, “Baiklah kalau begitu. Maaf merepotkanmu, Bro.”
“Apa? Tentu ini tidak merepotkan sama sekali!” Ayah Aiden terkejut sekaligus senang mendengar jawaban Afzal yang teramat santai. Dia benar-benar bersemangat! Dia lalu bergegas mengambil mobilnya dan membawa ke pintu utama. Sebuah mobil Ferrari seharga tujuh ratus lima puluh ribu dolar.
“Hei, Fatty Baker! Beraninya kau meminta Tuan Crawford menaiki mobil macam ini?” Orang-orang kaya di sana mencoba menyetop setelah tahu mobil yang akan digunakan Aiden. “Tuan Crawford, lebih baik saya saja yang mengantar Anda. Saya mengendarai Rolls-Royce!”
“Benar, Tuan Crawford. Bagaimana mungkin Anda menaiki mobil macam begini? Ini bisa meruntuhkan citra Anda,” Para bos lain masih berusaha bersaing merebut perhatian Afzal.
“Tidak apa-apa, mobil ini bagus, kok. Ya, sudah, aku mau kembali ke kampus sekarang. Kita akan berjumpa lagi lain waktu.” Faktanya, Afzal sangat terpesona melihat mobil Ferrari yang terparkir di depannya. Dia memang sudah lama ingin punya mobil, tapi dia bahkan tidak berani bermimpi untuk untuk memiliki Ferrari. Meski dia punya banyak poster Ferrari di kamarnya, tapi Afzal belum pernah merasakan menaikinya. Afzal benar-benar tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari mobil Ferrari itu.
Aiden dan Afzal lalu bergegas menaiki mobil. Aiden sempat melambaikan tangan dengan bangga pada orang-orang di sana.
__ADS_1
Elena yang masih berdiri di sana merasakan wajahnya bersemu merah ketika melihat Afzal meninggalkan gedung. Dia masih benar-benar bingung. Sementara para bos dan orang-orang kaya yang lain menatap kepergian Afzal dengan penuh kekaguman.
“Tak disangka, Tuan Crawford ternyata sangat ramah dan rendah hati. Dia benar-benar sederhana dan bersahaja. Sungguh pria muda yang punya masa depan cerah dan terjamin.”
***
Di dalam mobil, meskipun Aiden sangat bersemangat, tapi dia mencoba bersikap biasa saja di samping Afzal.
Afzal lalu meminta Aiden untuk tidak mengantarnya langsung ke dalam kampus karena Ferrari mahal ini akan terlihat sangat mencolok. Sangat tidak cocok dengan imej Afzal yang sederhana dan introvert. Karena itu dia meminta Aiden menurunkannya di depan gerbang kampus. Sepanjang perjalanan, Afzal sangat menikmati berada di dalam Ferrari yang mewah itu.
Dia lalu ingat kakaknya menyuruhnya untuk menghabiskan tiga juta dolar yang ada di kartu Universal Global Supreme shopper - nya. Hmmmm.. kenapa dia tidak menggunakannya untuk membeli mobil saja?
Afzal memikirkan ini sambil berjalan santai memasuki gerbang kampus menuju asramanya. Di tidak menyadari sepasang mata sedang mengawasinya.
Afzal mendengar suara seorang wanita memanggilnya.
Ketika membalikkan badan, Afzal melihat Whitney, presiden mahasiswa ( presma ) di kampusnya. Tentu saja Whitney tadi menyaksikan ketika Afzal keluar dari Ferrari. Untuk itu Whitney mencoba memastikan apakah itu benar-benar dan terkejut ketika tahu memang benar dia.
“Ya, ada apa?”
Afzal tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang dikenalnya padahal dia sudah meminta Aiden menurunkannya jauh dari kampus. Dia sudah mengira pasti Whitney penasaran dia pulang diantar Ferrari. Tetapi Afzal pura-pura tidak tahu.
“Kamu...kamu.. tadi keluar dari mobil Ferrari? Bagaimana bisa?” Tanya Whitney.
__ADS_1
Selama beberapa kali bertemu dengan Afzal, dia mengalami banyak keterkejutan.
Yang pertama, Afzal memenangkan lotre sampai bisa mentraktir semua orang di Homeland Kitchen tadi malam, bahkan tidak ragu menghabiskan banyak uang. Karena penasaran, Whitney lalu menanyakan hal ini pada teman sekelas Afzal. Dia ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Jawaban yang dia dapat Adalah bahwa Afzal memenangkan lotre sebanyak tiga puluh ribu dolar. Tetapi banyak mahasiswa lain yang berspekulasi bahwa Afzal sebenarnya mendapatkan lebih dari itu.
Hal ini membuat Whitney terusik. Bagaimana bisa seorang Afzal, pria miskin dan terhina di kampus bisa mendapatkan keberuntungan begitu besar? Apa Tuhan tidak salah?
Sangat wajar kalau Whitney berpikir demikian. Pasti akan terasa aneh dan mengganggu jika orang yang di bully sepanjang hidup tiba-tiba nasibnya berubah jauh lebih baik dan sejahtera dari pada orang yang membullynya.
Whitney sengaja mencari Afzal dan ingin mendapat penjelasan. Berapa banyak sebenarnya uang yang Afzal dapat dari lotre itu? Dan sangat kebetulan, saat akan meninggalkan kampus, Whitney melihat Afzal hari ini keluar dari sebuah Ferrari.
“Ya, itu tadi mobil temanku. Dia mengantarku pulang ke asrama.” Afzal menjawab santai.
“Hahahaa... mobil temanmu? Teman yang mana? Apakah seorang Afzal punya teman yang sangat kaya? Sumpah matipun aku tak akan percaya!” Whitney sama sekali tidak bisa mempercayai perkataan Afzal.
“Terserah mau percaya atau tidak. Lagi pula apakah aku punya teman yang kaya atau tidak juga bukan urusanmu, kan?” Jawab Afzal dengan nada jengkel. Gadis ini benar-benar tidak masuk akal, pikirnya.
Seiring berjalannya waktu sejak Afzal tahu bahwa dirinya berasal dari keluarga kaya, ia perlahan merasa kepribadiannya sudah mulai berubah. Sebelumnya, dia tidak berani berkata demikian pada Whitney.
Whitney benar-benar dibuat jengkel karena jawaban Afzal.
“Kamu ini benar-benar tak tahu diri, ya! Aku cuma khawatir kamu ditipu organisasi macam MLM. Dalam menipu orang? Pertama, mereka akan memberimu iming-iming yang menggiurkan, setelah itu mereka akan membuatmu menjadi sombong dan materialistis. Setelah kamu terbiasa dengan gaya hidup mewah, mereka akan terus memaksamu bekerja agar bisa mempertahankan itu. Jika tidak, mereka akan membuatmu seperti tidak berguna!”
“Lagian, sebagai presiden mahasiswa, aku juga berhak tahu kehidupanmu, kan? Kalau kamu benar ikut MLM, akan meruntuhkan citra persatuan mahasiswa. Aku cuma memperingatkanmu karena selama ini kamu hidup miskin dan tidak tahu apa-apa.” Lanjut Whitney.
__ADS_1
Afzal tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.