
Afzal merasa terganggu mendengar informasi itu. Karena dia - lah yang waktu itu menyelesaikan masalahnya. Tentu saja Afzal melakukan itu bukan untuk Alice. Satu-satunya alasan Afzal mau mengambil langkah dan menyelesaikan masalah malam itu adalah demi Naomi.
Sayangnya, hari ini Alice malah salah paham mengira bahwa Quinton yang telah berjasa. Alice bahkan sangat terkesan pada Quinton sampai mau menjadikannya pacar. Ah, sayang sekali. Alice yang sangat cantik dan belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Alice benar-benar bidadari di muka bumi. Bohong kalau Afzal sama sekali tidak merasa tertarik pada Alice.
Apakah dia harus mengambil kesempatan dengan mengatakan pada Alice yang sebenarnya? Kalaupun Alice tidak akan berterima kasih padanya, minimal dia tidak akan berpacaran dengan orang yang salah hanya karena kesalahpahaman belaka.
Afzal masih berpikir keras.
Anak-anak muda itu masih berbincang dan bercanda sebelum kemudian memesan taksi dan menuju ke Restoran Grand Marshall di Mayberry Commercial Street.
Acara pembukaan Restoran Grand Marshall berlangsung sangat meriah. Orang-orang yang mereka kenal memadati lobby di lantai satu. Semua yang datang dan pergi di restoran itu adalah orang-orang kaya dan berada.
“Quinton sangat mengagumkan! Alice, jadi apa ini artinya Restoran Grand Marshall di Mayberry Commercial Street akan jadi milik keluarga Ziegler? Jadi kita boleh nggak sering main ke sini kapanpun kita mau?” Jacelyn bertanya dengan penuh harap pada Alice.
“Tentu saja! Alice nggak akan mungkin melupakan kita hanya karena sudah punya Quinton. Benar, kan, Alice?” Tanya teman yang lain.
Sejak Alice dan teman-temannya memasuki restoran, mereka tidak henti-hentinya berdecak kagum.
“Kalian, kan teman-temanku. Pasti kalian boleh datang kapanpun kalian mau!”
“Ada hal yang mungkin belum kalian tahu. Sebenarnya, Restoran Grand Marshall tidak secara penuh dimiliki keluarga Ziegler,” Kata Alice sambil berkeliling di dalam restoran.
“Apa? Lho, bukannya keluarga Ziegler sudah membeli Restoran Grand Marshall?”
__ADS_1
“Nggak, keluarga Ziegler cuma mendapat hak untuk mengelola restoran. Pemilik sesungguhnya adalah seorang bos besar yang juga pemilik Mayberry Commercial Street. Jadi si bos besar ini yang punya seluruh Mayberry Commercial Street,” Lanjut Alice menjelaskan.
“Semua yang ada di Mayberry Commercial Street dimiliki satu orang? Bukannya tempat ini dikelola Mayberry Chamber of Commerce?”
“Ya, ampun! Siapa yang nggak tahu kalau Mayberry Commercial Street itu adalah tempat perputaran uang yang nggak ada habisnya. Sudah ada di berita kalau jumlah total yang dihabiskan di Mayberry Commercial Street setiap hari itu sekitar empat belas juta dolar. Ada miliaran dolar uang di sini!”
“Dan tentu saja, Restoran Grand Marshall menyumbang jutaan dolar setiap bulan dan lebih dari puluhan juta dolar setiap tahun! Pemilik tempat ini menghasilkan uang bahkan tanpa mengangkat jari.”
Jacelyn dan gadis-gadis lain terbelalak mendengar penjelasan Alice.
Jadi ternyata Mayberry Commercial Street tidak dimiliki oleh Mayberry Chamber of Commerce. Tetapi ada satu bos besar yang memiliki hampir seluruh bisnis di sana.
Wow! Jadi berapa nilai seluruhnya?
“Ah, membayangkan saja aku sudah merasa gila! Hmm, aku jadi ingin tahu. Bos besar itu punya anak laki-laki nggak, ya? Kalau dia punya anak laki-laki, aku mau deh nikah sama dia!” Jacelyn dan teman-temannya mulai terobsesi.
Alice mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Laki-laki itu pasti orang yang luar biasa. Alice berpikir keras caranya supaya bos muda itu bisa tertarik pada gadis biasa seperti dirinya. Alice sudah berusaha mencari tahu identitas bos muda itu di internet tapi dia tidak menemukan apapun.
Huh!
Afzal yang berada di sana mendengar obrolan gadis-gadis itu dan merasa sedikit tersipu, terutama ketika Alice mengatakan bahwa Tuan Crawford adalah bos muda yang keren. Apa dia memang sangat keren?
Apakah orang-orang akan salah paham jika tahu Afzal memukul Elena dan teman-temannya? Afzal tiba-tiba merasa bersalah.
__ADS_1
Afzal berpikir bagaimana jika Alice dan Jacelyn tahu kalau bos besar yang mereka bicarakan sebenarnya adalah dirinya.
“Alice! Kamu kok nggak bilang kalau sudah di sini?”
Para gadis yang sedang mengobrol soal restoran tiba-tiba dikagetkan oleh suara Quinton. Terlihat Quinton dengan pakaian formal dan rapi berjalan menghampiri mereka di dampingi Harold.
Quinton benar-benar terlihat tampan hari ini. Ya, paling tidak begitulah kesan yang di dapat para gadis itu.
“Iya, tadi aku lihat kamu masih sibuk menyambut para tamu. Kamu capek?”
Kata Alice dengan senyum lembut. Alice tidak pernah berpacaran dan tidak terbiasa bersikap genit seperti Jacelyn. Dia bertanya dengan sedikit malu karena masih canggung.
“Aku nggak apa-apa, kok. Beberapa pemilik bisnis di Mayberry Commercial Street juga datang, tapi tenang saja aku sudah menyiapkan meja untuk mereka. Ayo, Alice dan kalian semua, aku carikan meja untuk kalian,” Quinton berkata dengan senyum dan mata berbinar.
Quinton lalu melihat Afzal yang berdiri di belakang kerumunan.
Terlihat Afzal sedang menyentuh dan melihat-lihat patung kuda kayu di rak hiasan. Patung kecil yang terbuat dari kayu cendana itu terlihat sangat halus. Afzal merasa tertarik dan penasaran.
“Hei! Benda itu sangat rapuh. Hati-hati, Afzal!” Terdengar teriakan Quinton memperingatkan Afzal. Sebenarnya Quinton masih merasa iri dan tidak suka pada Afzal karena dia merasa dipermalukan di Wayfair Mountain Entertainment tempo hari.
Ya, meskipun alasan kenapa Afzal bisa membawa mereka menikmati hidangan di Wayfair Mountain Entertainment adalah karena jasanya menyelamatkan putri Zack, tetap saja Quinton merasa iri. Tetapi sekarang Quinton merasa lebih baik karena keluarganya sudah menjalin hubungan baik dengan Zack.
Quinton yakin relasi antara Afzal dan Zack tidak akan berlangsung lama. Lagi pula tidak mungkin kan orang akan merasa berhutang budi selamanya. Apalagi Afzal hanya anak bodoh dan tidak berguna.
__ADS_1
“Hei! Jangan sampai kau jatuhkan patungnya, Afzal. Bagaimana kalau kau ceroboh lagi? Bagaimana kalau kau merusakkan patung itu seperti kau merusak lukisan minyak tempo hari? Quinton nggak ada utang apapun padamu. Bagaimana nanti kau membayarnya?”
“Iya, dasar udik! Semua yang dilihat malah di sentuh!”