
Afzal berpikir sejenak dan menimbang-nimbang. Jika dia meninggalkan aula ini, maka semua orang akan yakin bahwa dia di sini untuk mengemis makanan. Dia berpikir mungkin sebaiknya dia menerima ajakan Aiden untuk duduk di meja depan. Paling tidak, dengan begitu orang-orang yang tadi mengejeknya akan tutup mulut.
Afzal lalu menganggukkan kepalanya, “Okay!”
Afzal segera berjalan menuju area depan diikuti pandangan semua orang di dalam aula, lalu duduk di kursi kosong di antara Aiden dan Elena.
“Tidak tahu malu!”
“Tidak sadar diri!”
“Beraninya pengemis itu duduk satu meja dengan orang-orang terpandang.”
“Dia bahkan duduk sangat dekat dengan Nona Elena!”
Para tamu yang lain berbisik-bisik mencemooh Afzal dengan perasaan iri dan benci.
Alice, Yuri, Xavia dan grubnya memandang Quinton dengan pandangan penuh tanda tanya. Mereka sungguh tidak suka melihat Afzal duduk bersama tamu istimewa, di meja terdepan tepat di depan panggung. Sementara meja Alice dan teman-temannya ada di tengah ruangan.
“Jadi kalau ada orang yang mengajakmu duduk di meja itu, apa kamu harus menerimanya?”
Quinton merasa sangat tersinggung dan iri. Harusnya dia yang jadi pusat perhatian malam ini.
Quinton lalu menghampiri meja Aiden dan berbisik padanya, “Tuan Aiden, apa yang Anda lakukan? Bagaimana mungkin orang ini duduk di sini?”
Aiden segera berdiri dan mendengus kesal, “Memangnya kenapa kalau dia duduk di sini? Kalau dia tidak boleh ada di sini, kami juga akan keluar!”
Beberapa tamu lain yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Aiden juga ikut berdiri. Jika Aiden meninggalkan acara, maka mereka juga akan mengikutinya.
“Ini...”
Ekspresi wajah Quinton langsung berubah gugup dan takut. Acara pembukaan Restoran Grand Marshall ini disokong oleh Aiden dan orang-orang kaya di sekitarnya. Quinton sadar tidak akan mampu melawan keluarga Baker.
__ADS_1
Quinton juga tidak habis pikir, bagaimana mungkin Aiden yang sangat arogan itu bisa bersikap begitu sopan pada Afzal.
“Tentu saja dia boleh duduk di sini. Sesuai perintah Anda, Tuan. Ya, orang ini boleh duduk di sini.”
Setelah berkata demikian, Quinton melirik Afzal dengan tatapan marah dan segera berbalik menuju tempat duduknya.
Di tempat duduknya, Quinton langsung diberondong pertanyaan oleh Alice dan yang lain. “Quinton, apa yang terjadi? Kenapa Aiden mengajak si sampah itu duduk di meja depan?”
“Aku kurang yakin, tapi mungkin karena Aiden tidak suka kalau keluargaku yang dapat izin mengelola Grand Marshall. Keluarga Baker awalnya mau mengambil hak untuk mengelola restoran ini, tapi ayahku berupaya keras dan memanfaatkan jejaringnya sampai kemudian Ayah sukses mendapatkan izin pengelolaan restoran. Sepertinya itu alasan Aiden sinis padaku. Ya, karena ini acara pembukaan restoranku jadi aku nggak mungkin membuat keributan dengan melawan Aiden dan grubnya. Ditambah lagi mereka adalah orang-orang yang disegani di kota Mayberry.”
“Ah, iya pasti itu alasannya!” Teman-teman Quinton akhirnya paham yang terjadi.
Alice dan Xavia menghela napas lega.
Seandainya Afzal benar-benar memiliki hubungan dekat dengan Aiden dan keluarga Baker, Xavia akan merasa sangat menyesal. Yuri saja tidak bisa mengenal Aiden, bagaimana mungkin orang macam Afzal bisa berkawan dengan Aiden dan grubnya?
Sebaliknya, di meja depan Afzal tidak mau ambil pusing dengan pikiran Xavia dan yang lain tentang dirinya saat ini.
Tidak terkecuali Elena.
“Nggak disangka ya, kita bertemu lagi secepat ini,” Kata Afzal tersenyum pada Elena.
“Ya, Tuan Crawford. Ini sudah di atur takdir.” Gadis yang lain menyahut dan memandang Afzal dengan tatapan manja.
Elena lalu teringat yang dikatakan ayahnya tadi sore. Dia mengangguk pelan pada Afzal.
“Tuan Afzal. Anda tidak berhubungan baik dengan Quinton, ya? Tanya Aiden.
“Ya, kami sama sekali tidak akrab” Jawab Afzal mengatakan yang sebenarnya.
“Itu bagus, Tuan Crawford, karena kami berencana mempermalukan dan menghancurkan reputasi Quinton dan keluarganya malam ini. Tetapi, kami sempat takut pada Paman Zack jadi kami tidak sempat melakukan apapun. Kalau Anda mendukung kami, kami pastikan akan menghancurkan Quinton malam ini. Hahaha!”
__ADS_1
“Jadi apa rencana kalian?” Tanya Afzal penasaran.
Ketika Quinton menghampiri Aiden tadi, Afzal bisa melihat meskipun Quinton bersikap sangat sopan pada Aiden, terlihat jelas bahwa Quinton dan Aiden sebenarnya tidak begitu akrab. Quinton hanya bersikap sopan saja karena sungkan dan menghormati keluarga Baker.
“Hahaha! Saya akan menunjukkan sebuah video.”
Setelah berkata demikian, Aiden lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman video. Video itu menunjukkan sebuah kamar tidur besar. Lalu terlihat Quinton masuk ke dalam kamar dengan seorang wanita yang sepertinya tidak sadarkan diri. Wanita cantik itu kisaran usia tiga puluhan.
Yang terjadi selanjutnya tidak perlu dijelaskan.
Video itu hanya berdurasi tiga menit, tetapi sudah membuat Afzal merasa ikut malu melihatnya.
“Kenapa kalian ingin menghancurkan dia? Wajar kalau pria muda seperti Quinton berhubungan dengan gadis?” Afzal bertanya dengan senyum pahit.
Aiden diam sejenak lalu menjawab, “Tuan Crawford, itu memang benar. Kami pun sering membawa gadis. Tetapi berbeda dengan kasus Quinton! Anda tahu siapa wanita di dalam video? Itu adalah ibu tirinya!”
“Berengsek!”
Mata Afzal terbelalak mendengar penjelasan Aiden.
“Kenapa kau sangat membenci Quinton sampai harus mengikuti dan menyelidikinya?”
Aiden menjawab, “Siapa suruh mereka melanggar aturan tidak tertulis diantara para pebisnis Mayberry Commercial Street? Tempo hari ada lelang besar dan kami, keluarga Baker berniat ingin membeli hak kelola Restoran Grand Marshall. Saat itu kamilah yang menjadi penawar tertinggi dan kami sangat yakin akan menjadi pemenang di lelang besar itu. Di tiga menit terakhir, biasanya para pelelang tidak diizinkan untuk mengajukan tawaran lagi. Tapi ternyata keluarga Ziegler menaruh tawaran di menit terakhir. Itulah yang menyebabkan mereka menang lelang dan mendapat hak untuk mengelola restoran!”
“... Karena dia sudah memulai perang dengan keluargaku, maka sekarang aku yang akan memulai perang dengannya!” Kata Aiden berapi-api.
Afzal paham sekarang. Quinton dan teman-temannya tidak berani mengambil langkah karena takut pada Zack dan khawatir Zack akan melanjutkan kasus ini dan meminta pertanggung jawaban mereka. Lagi pula, menjadi hal yang tabu bagi para pemilik bisnis di Mayberry Commercial Street untuk bermusuhan dengan kalangan mereka sendiri.
“Jadi, sekarang kalian minta persetujuanku?”
“Ya, Tuan Crawford. Selama Anda melindungi kami dan mengatakan pada Paman Zack untuk tidak menyalahkan kami. Maka kami siap mengurus sisanya.”
__ADS_1
Afzal tidak menjawab apapun, dia meneguk wine dari gelasnya.