Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 21


__ADS_3

Afzal, Harper, Naomi dan teman-temannya sedang menikmati momen berada di atas awan di Paviliun Micro Dining.


Mereka asyik menikmati pemandangan yang luar biasa indah.


Afzal belum ingin menjelaskan secara detail ketika Naomi juga bertanya tentang cara dia bisa melakukan semuanya. Sebenarnya Afzal juga tidak mengira bahwa Zack akan menyiapkan sampai segitunya. Afzal juga tahu bahwa untuk menikmati hidangan di Paviliun Micro Dining sangatlah mahal.


Tetapi sebenarnya wajar saja Zack melakukan semua itu untuknya karena bagaimanapun Afzal dan saudara perempuannya adalah pemilik villa. Pikiran itu membuat Afzal merasakan senang di hatinya, sebuah rasa senang yang berbeda.


Alice dan para gadis cantik lainnya sudah bergabung di Paviliun Micro Dining. Begitu bertemu Afzal wajah Alice langsung jutek, mungkin karena dia selalu menganggap Afzal sebagai orang miskin yang sudah selayaknya dipandang rendah.


Entah mengapa kali ini Alice tidak lagi sanggup memandang tajam ke muka Afzal, dia lebih banyak memandang punggungnya. Hal ini membuat Alice merasa tidak nyaman.


“Afzal! Gimana caranya kamu mampu membayar semua ini?”


Buru-buru Alice mengajukan pertanyaan begitu sampai di atas. Dalam hati Alice sebenarnya takut, dia belum siap untuk mendengar jawaban atas pertanyaannya.


Alice tidak berani membayangkan kalau nanti Afzal benar-benar mengatakan bahwa sebenarnya dia adalah seorang kaya raya dan berpengaruh. Membayangkan semua itu Alice semakin merasa tidak nyaman.


“Benar! Aku juga penasaran bagaimana kamu bisa membayar semuanya? Ini kan mahal sekali!” Jacelyn bertanya dengan nada suara yang lebih halus karena dia mulai merasa malu dengan Afzal.


Quinton dan Harold juga bergabung.


Afzal tersenyum dan berkata, “Oh, aku kenal dengan manajer tempat ini dan dia yang mengatur supaya aku bisa makan bareng kalian semua.”


Jawaban Afzal membuat semuanya semakin bingung. Pernyataan bahwa dia mengenal manajer villa belum bisa menjelaskan bagaimana dia mampu membayar semua fasilitas yang sedang mereka nikmati.


Alice memandang tak percaya pada Afzal.


Naomi tidak tahan untuk tidak menyampaikan kebenaran yang dia ketahui.


Naomi menceritakan apa yang dia ketahui, tentang bagaimana Afzal bisa kenal dengan manajer dan mengapa manajer villa ini mengundang dia untuk datang.


Alice merasa lega mendengar cerita Naomi.


“Naomi, jadi maksudmu ini berkaitan dengan tas Hermes mahal itu? Jadi ini semua adalah hadiah dari manajer yang anak perempuannya diselamatkan oleh Afzal? Benarkah hanya karena itu Afzal mendapatkan semua kemewahan ini?”


Naomi mengangguk ragu.


“Afzal sangat beruntung. Dan menurutku wajar orang sebaik dia mendapatkan keberuntungan!”

__ADS_1


‘Huh kayak mau mati saja rasanya!’ Alice membatin. Alice benar-benar lega. Quinton merasakan hal yang sama, dia juga menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan lega. Namun harus diakui bahwa apa yang dinikmati Afzal ini sangatlah mewah, bahkan anak orang kaya seperti Quinton pun belum pernah merasakannya.


Tetapi semu ini hanyalah pemberian dari seseorang. Keluar dari tempat ini, Afzal akan jadi apa nanti?


Penjelasan itu membuat Alice dan teman-temannya merasa sedikit lebih baik.


Alice sudah tidak lagi memperlihatkan raut muka jutek seperti yang selalu dia tunjukkan dia hadapan Afzal. Meski begitu dia belum mau untuk menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun. Mungkin Alice berpikir bahwa kehadirannya di situ sudah cukup menunjukkan rasa terima kasihnya.


Afzal tersenyum sendiri memikirkan hal itu.


“Oh, apakah ini lukisan yang terkenal itu? Menurutmu apakah ini lukisan cat minyak karya seniman besar?”


Mereka lalu asyik menikmati makanan dan minuman yang tersaji di tengah atmosfer cozy dan menenangkan di tempat itu.


Jacelyn masih memandang ke empat lukisan yang terpajang di ke empat pilar paviliun. Salah satu dari ke empat lukisan itu adalah mahakarya seorang pelukis besar dari luar negeri dan dengan sekali pandang Jacelyn dapat mengenali lukisan tersebut.


“Aku yakin itu asli....” Afzal menjawab sambil tertawa.


Nyaris tidak terlihat barang palsu atau tiruan di tempat itu.


Semua yang ada di tempat itu tampak mahal dan berkelas.


“Apa maksudmu? Tentu saja semua yang ada di sini asli!” Quinton menyela kata-kata Afzal dan bermaksud sedikit sarkas.


Meski si miskin Afzal terbukti mampu mengajak mereka semua ke tempat mewah itu, tapi dia tetaplah seorang yang tidak tahu apa-apa tentang kemewahan, apalagi tentang karya seni. Quinton merasa seperti mendapat celah untuk menyombongkan diri demi menyelamatkan mukanya.


“Harga lukisan itu seratus lima puluh ribu dolar. Itu lukisan yang sangat bernilai! Ketiga lukisan lainnya juga mahal, pantaslah kalau biaya makan di tempat ini sangatlah mahal!”


“OMG. Beneran harganya seratus lima puluh ribu dolar?


Para gadis itu takjub mengetahuinya.


Jacelyn semakin bersemangat.


“Aku harus Selfi dengan latar belakang lukisan-lukisan mahal ini!”


Semuanya tertawa.


Afzal berdiri lalu menurunkan lukisan cat minyak yang mahal itu dari dinding dan berkata, “Nah, sekarang kamu bisa melihatnya dengan lebih jelas.”

__ADS_1


“Hei! Hei! Hei! Ya, ampun, apa yang kamu lakukan, Afzal? Kamu yakin mampu mengganti rugi kalau terjadi apa-apa dengan lukisan mahal ini? Quinton berteriak dan matanya membelalak kaget.


Harold menimpali, “Benarkah yang kamu bilang bahwa kamu bisa mengajak kami semua ke sini karena undangan dari seseorang?”


Meski tanpa kata, Alice menggelengkan kepala dan memandang kecewa pada Afzal.


Alice semakin yakin bahwa Afzal tidak sebanding dengan Quinton. Meski sudah berusaha melakukan yang terbaik sejauh ini, tetap saja dia tidak keren.


Apapun itu, kelakuan Afzal tetap memalukan.


Afzal sengaja menurunkan lukisan karena berpikir itu akan membuat para gadis cantik itu senang.


Ternyata sebaliknya, semua tidak menyukai sikapnya yang sembrono!


Karena itu Afzal bermaksud menggantungkan kembali lukisan itu ke dinding.


Karena tangannya agak gemetar akibatnya lukisan itu tidak tergantung tepat pada temannya, pada saat yang sama angin berembus tepat ke arah lukisan itu dipajang.


Lukisan itu terbang dan jatuh ke dalam air terjun di depan mereka.


“Aduh!”


Semua berteriak kaget.


Alice bahkan terlonjak berdiri saking terkejutnya!


Aduh, gawat! Lukisan cat minyak itu benar-benar rusak!


Harganya seratus lima puluh ribu dolar!


semua tertegun dan menelan ludah.


Quinton dan Harold tertawa dalam hati masing-masing. Mereka sudah membayangkan bahwa Afzal pasti tidak sanggup membayar ganti rugi lukisan seharga seratus lima puluh ribu dolar. Meski manajer Wayfair Mountain Entertainment berhutang budi padanya, pasti tetap sulit baginya untuk memaafkan kesalahan Afzal begitu saja.


Hehehe!


“Afzal, ayo kita pulang! Lagi pula kita sudah selesai makan,” Naomi berkata hati-hati.


Mereka berpikir akan berbahaya kalau mereka tetap di situ. Afzal tidak akan mampu membayar ganti rugi lukisan yang rusak!

__ADS_1


“Wah, bahaya. Sepertinya seseorang sedang menuju ke tempat kita!”


Jacelyn menunjuk ke arah tangga dan Afzal menoleh ke arah yang ditunjuk Jacelyn. Rupanya Zack sedang menghampiri mereka bersama pramusaji yang membawa botol anggur mahal di tangannya.


__ADS_2