
Sejak tadi kening Alice berkerut pertanda sedang berpikir keras.
“Aku juga bingung. Apa mungkin kita yang terlalu berlebihan menganalisis situasinya? Bukankah tadi Hayley menelpon Harper untuk mencari tahu? Sepertinya Zack melakukan itu semua semata-mata karena ingin membalas budi pada Afzal karena sudah menyelamatkan nyawa anak perempuannya!”
“Soal lukisan, kurasa Zack hanya mencari alasan agar Afzal tidak merasa malu, bagaimanapun hutang budi Zack pada Afzal memang bukan hal yang sepele.”
Kemungkinan-kemungkinan itu membuat Alice merasa jauh lebih baik.
“Sepertinya itu lebih masuk akal. Aku tidak bisa bayangkan bahwa Afzal itu ternyata orang kaya! Membayangkannya saja aku merasa pengen mati!” Ujar Jacelyn sambil menghela napas panjang.
“Apa? Mestinya kamu memanggil dia Tuan Afzal, dong?”
Mendengar itu, mereka kompak tertawa-tawa.
“Kalau dia bisa membujuk Tuan Lyle untuk memberiku pekerjaan di perusahaannya, aku tidak keberatan untuk memanggilnya dengan sebutan Tuan! Setidaknya masa depanku akan lebih terjamin dan aku sanggup melakukan apapun untuk itu, apalagi cuma memanggil Tuan Afzal!”
“Afzal sangatlah beruntung. Aku tidak menyangka Tuan Lyle memaafkan soal lukisan itu, padahal dia sudah melakukan banyak hal dan semua itu sudah lebih dari cukup untuk membayar hutang budinya pada Afzal.”
Para gadis cantik itu masih terus saja bergosip.
Alice bertambah lega mendengarkan yang dikatakan teman-temannya. Entah mengapa dia semakin tenang kalau Afzal tetap menderita.
Sebuah perasaan yang aneh.
Sementara itu, Afzal sudah melupakan semuanya.
Sesampainya di asrama, Afzal dan teman-temannya langsung tertidur karena lelah beraktivitas di luar seharian.
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk kuliah seperti biasanya.
Afzal melihat Harper dan teman-temannya sibuk membubuhkan nama mereka di atas selembar cek.
Ternyata sudah waktunya untuk membayar kuliah, Afzal sadar setelah melihat percakapan di WAG.
“Afzal, apa kamu masih ada uang untuk bayar kuliah? Atau kamu harus menunggu dua minggu lagi setelah subsidimu cair?”
Awalnya Harper bermaksud menyarankan Afzal meminta Tuan Lyle untuk membayarkan biaya kuliahnya.
Tetapi Harper mengurungkan niatnya setelah mengingat soal lukisan yang terjadi semalam.
Harper mengkhawatirkan Afzal yang kembali menjadi miskin hari ini.
__ADS_1
Afzal tersenyum dan berkata, “Jangan kuatir. Aku masih punya sedikit uang di tabungan dan mestinya cukup untuk bayar kuliah. Ngomong-ngomong aku akan menyusul nanti karena aku harus ambil uang dulu ke bank!”
Harper tahu bahwa Afzal tidak berbohong. Afzal mungkin sengaja menyisakan sedikit uang di tabungan untuk bayar kuliah. Mengetahui hal itu Harper merasa lega.
Afzal berada di bank di depan kampus.
“Saya mau menarik uang seribu lima ratus dolar!” Afzal menjawab pertanyaan petugas bank sambil menyerahkan buku tabungannya.
Teller di bank terkejut.
Setelah mengecek tabungan Afzal, dia memandang Afzal dan buku tabungan yang ada di tangannya bergantian.
Teller itupun bertanya, “Mengapa kamu membuat banyak sekali perubahan dengan tabunganmu? Apa yang terjadi?”
“Ada apa dengan tabunganku?”
Giliran Afzal yang terkejut sekarang.
Ditilik dari penampilannya, Afzal sama seperti kebanyakan mahasiswa lainnya yang punya sedikit saja uang di tabungannya.
Itu sebabnya sejak awal petugas itu melayani Afzal dengan gaya tidak sabaran dan sedikit kurang sopan.
Teller itu menyadari bahwa hanya nasabah utama di BANK itu yang dapat membuat perubahan sebanyak itu.
Petugas bank itu kembali mengamati Afzal dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mahasiswa di hadapannya itu adalah seorang kaya raya.
Siapa yang mengubah pengaturan tabunganku?
Afzal tahu siapa orangnya yang telah mengubah tabungannya.
Tidak salah lagi.
Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya, kecuali Jessica, saudara perempuannya.
Afzal sulit memahami jalan pikiran saudara perempuannya itu. Afzal bukanlah tipe seorang yang boros, kenapa Jessica mengatur batas minimal penarikan uang cash dari tabungannya sebanyak itu? Sepertinya dia ingin supaya Afzal mengubah gaya hidupnya seperti layaknya anak orang kaya!
Afzal mengeluarkan ponsel dan mulai melakukan panggilan.
Seseorang yang dia hubungi segera mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Jessica, apa maksudmu mengubah pengaturan batas minimal pengambilan di tabunganku?”
“Aku memang sengaja mengubahnya karena aku tahu bagaimana kehidupanmu selama ini. Aku ingin kamu mengubahnya dan mulai membiasakan diri hidup seperti layaknya anak seorang kaya raya. Aku ingin perlahan kamu beradaptasi dengan status barumu agar kamu bisa menjadi seorang yang bisa diandalkan di keluarga kita!”
Afzal tercengang.
“Ngomong-ngomong aku juga berencana menelponmu. Karena kamu yang menelponku duluan, ya sudah sekalian aku mau bilang kalau aku juga melakukan satu hal lagi selain mengubah minimal pengambilan tunai di kartu tabunganmu. Kamu masih ingat kan dengan kartu Universal Global Supreme shopper's yang aku kasih ke kamu?”
“Aku menaruh satu setengah juta dolar di kartu itu. Nah, aku sudah mengatur batas akhir penggunaan kartu itu adalah bulan ini. Kalau kamu tidak menghabiskannya maka semua uang yang aku taruh di kartu itu akan hilang begitu saja!”
“Apa?”
Afzal terbelalak saking kagetnya.
Keterlaluan!
Benar-benar kejam!.
Jessica memaksanya untuk bergaya hidup layaknya seorang kaya raya.
“Aku harap kamu segera menyesuaikan diri dengan status barumu secepat mungkin. Kalau tidak, orang tua kita dan aku akan terus sibuk memikirkan bagaimana cara mengeluarkan kamu dari bayang-bayang kemiskinan...”
Jessica menutup telepon segera setelah mengatakan itu semua.
“Hei, ada apa? Kamu jadi ambil uang atau tidak? Jangan buat kami terus menunggu dan membuang waktu percuma karena ulahmu?
Tanpa sadar, antrian mengular di belakang Afzal. Setidaknya ada lima atau enam orang mahasiswa yang sedang menunggu antrean mengambil uang.
Seseorang yang menegur Afzal dengan intonasi menahan marah adalah seorang mahasiswa berpenampilan rapi, mengantri ditemani oleh pacarnya yang cantik.
Hari itu adalah hari terakhir untuk melakukan pembayaran kuliah semester.
Maka tidak heran, banyak mahasiswa yang mengantri untuk mengambil uang untuk keperluan yang sama yaitu membayar kuliah.
Mahasiswa yang menegur Afzal tadi mengira pastilah Afzal menelepon keluarganya untuk meminta untuk karena ternyata di tabungannya sudah tidak ada uang lagi. Dia menduga seperti itu karena melihat penampilan Afzal yang biasa saja.
“Oh, jadi kamu sudah berhasil meminta mereka untuk mengirim uang untukmu? Kamu sadar nggak sih ulahmu ini bikin kita semua telat masuk kelas karena terlalu lama antri di sini?”
Pacar mahasiswa yang menegur Afzal itu juga memandang Afzal dengan kesal, tangannya melingkar pada lengan pacarnya selama menunggu antrean.
“Baiklah, aku akan ambil uang sesuai batas minimal pengambilan.”
__ADS_1
Melihat banyak orang antri di belakangnya, Afzal segera mengatakan keputusannya kepada teller.