
Meskipun sang pembicara tidak punya maksud tertentu dengan ucapannya, tetapi pendengar yang kurang akal akan menanggapi kata-katanya dengan serius.
Nathaniel mengerutkan kening mendengar Afzal membayar teh susu untuk Mila.
Nathaniel dapat melihat bahwa Afzal dan Mila memang benar telah saling mengenal. Terlebih Afzal membayar teh susu untuk Mila? Apakah itu artinya di antara mereka berdua ada hubungan yang lebih jauh?
Sambil memikirkan kemungkinan itu, Nathaniel segera mengirim pesan singkat untuk Victor.
Lalu Nathaniel melihat ke arah Afzal yang kelihatannya hendak melanjutkan obrolan dengan Mila, dan berkata, “Afzal, kamu ke sini untuk latihan menyetir atau kamu ke sini untuk ngobrol dengan gadis-gadis? Pasti susah banget buat kamu ngumpulin uang untuk bayar biaya kursus nyetir. Bukankah lebih baik kamu fokus dengan latihan nyetir dibanding ngobrol?”
Beberapa orang gadis yang sedang berdiri tidak jauh dari situ ikut melihat Afzal dengan kemarahan di hati mereka. Mereka awalnya berpikir bahwa Afzal adalah orang yang cukup jujur dan bukan tukang gombal, tapi sepertinya Afzal juga kehilangan akal sehatnya ketika bertemu gadis cantik.
Mila menyadari bahwa Nathaniel sedang mencoba menyerang Afzal. Dengan cepat Mila membela Afzal.
“Nathaniel, apa kamu bilang? Kenapa kamu menyerang Afzal? Kamu sendiri gagal di latihan Tahap 2 sebanyak 2 kali, tapi kok malah menyerang orang lain. Kalau kamu kurang kerjaan, mestinya kamu yang harus fokus belajar.”
“Aku...” Wajah Nathaniel seketika merah padam.
Vroom!
Terdengar raungan suara mobil di dekat tempat latihan.
Semua orang melihat ke arah datangnya suara.
Beberapa orang gadis menunjuk ke luar dan berseru, “Wow! Lihat mobil Audi A6 yang cantik itu!”
“OMG! Apa itu mobil Bro Victor yang tadi dia ceritakan? Aku dengar dia adalah wakil presiden mahasiswa dari jurusan bahasa dan sastra!”
“Keren banget!”
__ADS_1
Sekelompok gadis itu melihat ke arah datangnya mobil dengan antusias.
Sementara itu, mobil akhirnya berhenti di depan Mila dan Victor yang tinggi keluar dari mobil diikuti oleh Whitney.
Begitu keluar dari mobil, otomatis tatapan mata Victor tertuju pada Mila dan Afzal.
Victor tidak percaya ketika membaca pesan singkat yang dikirim Nathaniel. Namun kemudian, Victor melihat dengan mata kepala sendiri, Mila sedang berdiri di samping Afzal sekarang.
“Mila, apa kamu mengenal Afzal secara pribadi?” Victor bertanya menyelidik.
Victor khawatir Mila terpadaya oleh bujuk rayu dan kebohongan Afzal.
“Kami bertemu dan mengenal satu sama lain hari ini. Ada masalah?” Mila sangat tidak senang dengan nada bicara Victor.
“Tidak ada yang salah. Apakah Afzal mengatakan sesuatu hal yang mencurigakan? Apa Afzal bilang kalau dia punya teman yang mengendarai Ferrari edisi limited? Dengarkan aku, ya. Itu semua palsu! Kami sudah menyelidiki dan Afzal sedang berbohong tentang apapun yang dia sebut sebagai teman-temannya itu!”
Tidak terbayangkan bahwa Afzal juga naksir Mila.
Mila mengernyitkan kening mendengar kata-kata Victor.
Afzal melihat ke arah Whitney yang sedang berdiri di samping Victor.
Tidak salah lagi, Whitney mengambil hati semua perkataan Afzal tempo hari, dan bahkan Whitney sudah melakukan penyelidikan dan repot-repot menelusuri masalah ini.
Ada apa dengan wanita ini? Mengapa dia sangat tertarik dengan urusan pribadi Afzal?
“Baiklah, Afzal, aku peringatkan kamu sekarang! Mulai sekarang dan seterusnya kamu sebaiknya menjauhi Mila. Mila adalah gadis yang tidak mungkin bisa kamu dapatkan dalam hidupmu! Lagi pula, kamu sangat hipokrit dan aku sungguh jijik denganmu!”
Whitney masih ingat dengan semua yang Afzal katakan ketika dia memergoki Afzal keluar dari dalam mobil Ferrari tempo hari. Afzal mengatakan bahwa dia diantar oleh temannya yang punya Ferrari.
__ADS_1
Whitney masih memendam amarah karena dia tidak percaya bahwa Afzal adalah pembohong besar!
Ditambah lagi Victor mengatakan bahwa Afzal telah membayarkan teh susu untuk Mila.
Sepertinya sang kodok sedang mencoba daging angsa?
Kata-kata Whitney membuat Nathaniel dan semua orang di North Playground melihat Afzal dengan mencibir.
“Whitney, mengapa kamu bicara seperti itu tentang Afzal...”
Sejak peristiwa di auditorium, Mila sudah tahu bahwa Whitney sangat dingin dan tidak sopan kepada Afzal.
“Mila, saya hanya khawatir kamu tertipu oleh si brengsek ini! Afzal jujur dan simpel seperti yang kamu pikirkan!” Whitney menjawab sambil melihat Afzal dengan tatapan tajam. “Ngomong-ngomong, Mila, apakah kamu ada acara nanti malam? Victor ingin mengajakmu makan malam di Homeland Kitchen nanti malam! Aku bisa datang kalau kamu mau!” Whitney melanjutkan kata-katanya dengan nada getir.
“Aku harus latihan menyetir sore ini jadi aku mungkin tidak sempat untuk pergi keluar untuk makan malam...” Mila tidak ingin pergi makan malam dengan mereka.
“Oh, kenapa tidak kamu tunda saja latihannya? Benarkah kamu harus latihan nyetir hari ini? Mila, jangan bilang kalau alasan kamu menolak undangan Victor untuk makan malam karena kamu mau latihan nyetir bareng Afzal? Bukannya itu buang-buang waktu percuma?”
Kata-kata Whitney menempatkan Mila dalam posisi sulit. Serba salah jadinya, pergi salah, tidak pergi juga salah.
Kalau Mila setuju untuk pergi makan malam, artinya secara tidak langsung Mila mengatakan bahwa dia tidak ingin menghabiskan waktu dengan Afzal. Maka hal itu akan semakin membuat Afzal malu dan jatuh.
Sejujurnya, Afzal adalah seorang yang sangat baik, atau setidaknya itulah yang dirasakan oleh Mila.
Namu jika Mila menolak ikut makan malam, maka Whitney tidak akan membiarkannya begitu saja.
Akhirnya, Mila menjawab, “Okay, aku akan pergi untuk makan malam, tapi aku ingin mengajak seseorang bersamaku. Lagi pula, dia sudah membantuku hari ini. Aku yang akan mentraktir nanti malam dan kita semua bisa pergi sama-sama, Okay?”
Lalu, Mila memutar tubuhnya dan melihat Afzal yang sedari tadi berdiri mematung di sampingnya.
__ADS_1