Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 47


__ADS_3

Sekarang Vanessa yakin bahwa Afzal menuju ruangan manajer untuk melaporkan dirinya.


Manajer pasti akan menimpakan semua kesalahan kepadanya dan sebagai SPG dia pasti akan disalahkan, memang seperti itulah aturannya!


Harinya akan bertambah menyedihkan kalau dia gagal meyakinkan pasangan muda itu untuk melanjutkan transaksi.


Sudah terlambat baginya untuk mengejar dan menghentikan Afzal karena dia sudah masuk ke ruangan manajer.


“Nona Vanessa, jangan khawatir. Kami pasti membeli Gallardo hari ini. Jika pria itu melaporkanmu, aku akan pastikan bahwa manajer tidak akan menghukummu!” Sang pria muda berkata sambil terkekeh.


“Terima kasih, Tuan!”


Afzal masih memegangi kepalanya yang sakit ketika kakinya melangkah masuk ke ruang manajer.


Nampak seorang pria paruh baya sedang asyik mencermati dan menganalisis laporan penjualan tahunan dengan hati-hati.


Perlahan dia menyandarkan tubuhnya ketika Afzal memasuki ruangan.


Lalu buru-buru dia berdiri.


Pria muda ini berpakaian biasa saja tapi sebagai seorang manajer dia harus menunjukkan sikap terbaiknya.


Pria paruh baya itu seperti melihat tatapan tajam dari sepasang mata pria muda di hadapannya itu.


Dia merasa perlu untuk bersikap hati-hati.


“Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Aku datang untuk membeli mobil, tapi SPG tidak mengizinkan aku melihat-lihat interior mobil. Bahkan dia bertindak kasar padaku! Apakah seperti itu standar pelayanan di kantor Anda?”


Afzal langsung melayangkan protes kepada manajer.


Sejujurnya, sejak terbentur tembok beberapa hari lalu, Afzal mulai kehilangan kesabarannya. Dia merasa kesal dan malu ketika SPG itu mengeluarkannya dari dalam mobil dengan kasar.


Terlebih lagi, dia hendak membeli mobil.


“Benarkah? Maaf Tuan, boleh saya tahu mobil jenis apa yang Anda inginkan?”


Pria paruh baya itu sudah matang dan berpengalaman, sekilas melihat cara berpakaian Afzal yang sangat santai dia menduga bahwa Afzal tidak akan mampu membeli Lamborghini. Jadi wajar saja dan bukan sesuatu yang aneh kalau SPG itu memandang rendah padanya.


Manajer itu berasumsi bahwa Afzal menghadap dan melapor padanya semata-mata karena tidak terima dan tidak ingin kehilangan muka akibat ulah SPG kepadanya.


Itulah alasan manajer itu langsung bertanya jenis mobil mana yang diinginkan Afzal.


“Reventon sport seharga dua milyar enam ratus ribu dolar!” Afzal menjawab ringan.

__ADS_1


“Hahaha. Tuan, mobil itu...”


Brak!


Sebelum pria paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya, Afzal sudah meletakkan kartu Black Gold di atas meja.


Manajer itu mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat dan lalu mengambilnya, ekspresi wajahnya berubah seketika.


Dia paham betul mengenai kartu Black Gold.


Hanya sedikit orang di dunia ini yang memiliki kartu jenis tersebut.


“Ada kurang lebih 3 milyar dolar di kartu Black Gold ini. Bukankah itu lebih dari cukup untuk aku membeli Reventon itu?” Afzal bertanya santai.


“Ya, bahkan lebih dari cukup!”


Manajer paruh baya itu masih sedikit skeptis meski dia menjawab pertanyaan Afzal dengan baik.


Bagaimanapun, pria yang sedang berdiri di hadapannya sama sekali tidak terlihat seperti layaknya seorang pemegang kartu Black Gold.


“Bolehkah saya mengecek kartunya?”


Pria paruh baya itu menyunggingkan sebentuk senyum yang menyiratkan permohonan maaf pada Afzal.


Lalu dia menyalakan sebuah mesin dan menggesek kartu Gold Card itu.


“Siapa nama Anda, Tuan?”


Manajer paruh baya itu bertanya dengan ramah dan penuh rasa hormat.


“Afzal Crawford.”


“Tuan Crawford, maafkan sikap saya, Tuan. Tadi saya bersikap agak sombong.”


Manajer itu berkata sambil melangkah memutari mejanya lalu Afzal seraya membungkukkan badannya.


“Nama saya Wilson, saya akan melayani Anda dengan sepenuh hati, Tuan Crawford!”


Wilson mulai berkeringat dingin setelah memastikan identitas pemilik kartu Black Gold itu.


Pria muda yang sedang berdiri di hadapannya terkonfirmasi sebagai pemilik kartu Black Gold meskipun baju yang dipakainya sangatlah biasa saja.


Dia pasti berasal dari keluarga kaya raya dan sangat berpengaruh.


Reventon hanyalah sebuah mobil seharga sekitar dua setengah miliar dolar. Wilson tahu bahwa sebagai pemegang kartu Black Gold, Afzal bisa saja membeli mobil senilai lima belas miliar dolar kalau dia mau.

__ADS_1


Sial! SPG mana yang sudah berlaku sangat buruk dan menyinggung seorang pria berpengaruh?


“Aku ingin membereskan semua prosedur dan dokumen segera karena aku ingin membawa pulang Reventon itu hari ini juga. Maaf merepotkan Anda, manajer Wilson.”


Afzal berkata dengan sopan kepada Wilson karena attitude manajer itu cukup baik.


Afzal memutar tubuhnya dan berjalan keluar ruangan.


“Ya, tentu saja, Tuan Crawford!”


Wilson menghapus keringat di dahinya sebelum dia mengambil kartu Black Gold itu lalu memanggil manajer keuangan.


Ketika Afzal keluar dari ruang kantor manajer, Vanessa masih sibuk menjelaskan seluk beluk Reventon kepada pasangan muda tadi.


Vanessa menyadari bahwa pasangan muda itu tidak akan mampu membelinya sekarang, tapi dia merasa sudah kewajibannya untuk memberikan layanan terbaik kepada calon pembeli potensial.


Dia bahkan meluangkan waktu untuk menjelaskan segala sesuatunya sampai detil terkecil.


“Wow, sayang! Mobil ini luar biasa keren! Tidak heran harganya mencapai dua milyar dan enam ratus ribu dolar. Sayangku, kapan kita mampu membeli mobil seperti ini?” Sang wanita muda bertanya begitu merasakan sensasi duduk di kursi Reventon, dia telah jatuh cinta dengan mobil sport itu.


Tampilan luar mobil sangatlah keren, tapi bagian dalam mobil itu bahkan lebih mengesankan. Semuanya serba otomatis, secara keseluruhan adalah sebuah perpaduan antara kecanggihan dan kemewahan yang memanjakan.


Wanita itu berseru kegirangan!


“Hmm... Kamu harus menunggu sampai aku mewarisi seluruh kekayaan ayahku...” Pria muda itu menjawab dengan raut muka masam.


“Aku tidak peduli. Yang penting, aku ingin punya mobil sport suatu hari nanti! Eh? Sayang, lihat! Si miskin itu kembali lagi melihat-lihat Reventon.”


Wanita muda itu merajuk manja kekanak-kanakan.


Ketika dia memutar tubuhnya, Afzal sudah muncul kembali setelah tadi menghilang.


Dan sekarang dia bahkan memeriksa lampu utama mobil.


Vanessa dan sang pria muda melihat Afzal yang berdiri di dekat Reventon.


Vanessa merasa kesal.


“Hei! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu datang lagi padahal aku sudah memintamu untuk pergi? Kamu pikir aku takut padamu karena kamu sudah melaporkan aku ke manajer?”


“Tepat sekali! Beberapa orang memang tidak paham apa yang baik untuk dirinya. Mereka tidak tahu diri...” Pria muda itu berkata sambil mengangkat arlojinya sekali lagi.


Afzal menatap dingin pada Vanessa dan berkata, “Nona, perkejaan Anda tidak hanya berhubungan dengan penjualan, tetapi juga industri jasa layanan. Jika suatu hari nanti Anda tahu bahwa orang yang coba Anda usir adalah pelanggan terbesar, bukankah Anda nanti akan sangat menyesali diri Anda sendiri?”


“Hahaha! Kamu benar-benar lucu dan memalukan. Kamu menantangku? Baiklah, aku akan menunggu datangnya hari itu. Sekarang, kamu bisa meninggalkan gerai ini?”

__ADS_1


Vanessa memandang Afzal seolah dia seorang penderita gangguan mental. Kemarahan dan rasa jijik tergambar jelas di matanya.


__ADS_2