
Suara pengumuman intercom menyadarkanku bahwa MRT ku akan segera tiba.Pukul 06:30 ini waktunya bagiku untuk berangkat ke sekolah.Jarak antara rumahku dan sekolah memang agak jauh sehingga mengharuskanku untuk menaiki MRT supaya bisa menghemat waktu.Tetapi karena semalam aku begadang terlalu larut untuk menonton anime yang kusuka,aku baru bangun sekitar jam 6 pagi.Entah mengapa alarm ku tidak bersuara sama sekali tadi pagi.
Suara peluit petugas MRT berbunyi,dari kejauhan kulihat kereta tersebut berjalan semakin dekat.
Aku menaiki gerbong dari MRT tersebut.Semenjak peresmian pertamanya,aku selalu menggunakan MRT ini untuk pergi ke sekolah.Selain karena murah,menaiki MRT ini sangatlah menghemat waktu daripada harus ikut berkeringat di jalan raya.
“Hei bro gimana kabarmu? Dah selesai nonton anime yang aku kasih kemarin?”,sahut seseorang yang menepuk punggungku dari belakang
“Udah dong seru banget sumpah,lain kali kalo kamu nemu anime bagus jangan lupa kasih tau aku ya?”,balasku kepada orang tersebut.
Namanya Bagas,dia teman dekatku sejak aku masih SD.Aku memang anak yang pemalu,sejak ayah dan ibuku bercerai ibu hanya bisa menjadi pekerja pabrik untuk menghidupi aku dan kedua adikku.Tapi aku bukanlah tipe orang yang hanya bisa diam melihat orang bekerja.Aku menulis novel dan mengirim tulisanku ke redaksi yang ada.Walaupun sampai sekarang belum ada yang diterima satu pun.
“Dasar laki-laki yang kalian bicarakan anime aja terus”,kata seorang gadis dengan rambut hitam panjang
Perempuan itu adalah Tina,dia adalah salah satu teman dekatku saat aku masih SD.Sejak masih bersekolah dasar,Tina memang sering sekali ribut dengan Bagas walau hanya masalah sepele.Tidak heran mereka dijuluki kucing dan anjing oleh siswa lain.Dan tentu saja selalu aku yang menjadi penengah antara 2 manusia yang tidak akur ini.
“Ha?”,sahut Bagas.“Memang kalian kaum cewe tau apa tentang anime?”
“Tch,anime hanyalah tontonan bagi kalian kaum cowo yang menyebalkan”,jawab Tina.
“Kau salah besar,anime itu adalah sebuah karya terbaik yang ada di muka bumi ini.Lihat desain wajah perempuan ini”,jawab Bagas sambal mengeluarkan baju gantinya bergambar Totsuka-chan.
“Hiii dasar cowok stress pacaran kok sama kartun”
“Beraninya kau…”
“Okeee,berhenti sekarang dan Bagas masukin lagi bajumu,kita lagi di tempat umum”,ucapku yang segera melerai mereka sebelum terjadi keributan lebih jauh.Dasar,mereka berdua ini kalau ribut selalu tidak kenal waktu dan tempat.
Dengan wajah merah Bagas memasukkan kembali baju gantinya.Sepertinya orang ini baru menyadari bahwa dia baru saja melakukan hal yang cukup memalukan.
Aku Kembali mengarahkan wajahku pada Tina.Muka dia juga merah padam seperti kepiting rebus.Sepertinya ia juga baru menyadari bahwa mereka berdua sudah melakukan hal yang kekanakan.
“Baiklah kurasa kamu cukup beruntung untuk sekarang”,sahut Tina sambal memalingkan wajahnya.
“Yeah mungkin kalau gak ada Danny,kau dan aku sudah saling jambak”,jawab Bagas sambil berdiri.
Beruntung bagi kami,gerbong yang kami tempati tidak terlalu banyak orang sehingga kami bisa mengambil tempat duduk yang kami suka.Aku pun kembali menggunakan earphone ku dan menikmati lagu yang diputar di Handphone ku.
***
__ADS_1
“Jadi gimana kamu mau ikut gak nanti sore kita ke bioskop bareng?”,ujar Bagas Ketika kami keluar dari stasiun.
“Boleh saja paling nanti aku kabarin ibuku terlebih dahulu”,jawabku sambil memasukkan kembali kartuku ke dalam dompet.
“Berarti kalau jadi kita berangkat bareng,deal?”
“Deal”
“Mmm aku boleh ikut gak?” kata Tina menyela pembicaraaan kami.
“Hah?”,balas Bagas sambil memasang raut wajah kebingungan “Bukannya kamu gak suka nonton film action begitu?”
“Aku bukannya tertarik sama filmnya,hanya saja kali ini actor yang aku sukain lagi main di film itu,jadi aku boleh ikut ya Danny?” tanya Tina sambal memasang wajah memohon kepadaku
Aku memalingkan wajahku kepada Bagas.Dia hanya mengangkat bahu dan menyerahkan semua keputusan kepadaku.
“Iya,kau boleh ikut”,jawabku kepada Tina yang sudah memohon-mohon.
“Yesss! Makasih Danny kamu baik banget dah”,ujar Tina kegirangan.
Aku tersipu malu mendengar perkataannya.Sedangkan Bagas hanya bisa tersenyum jahil sambal terkikik geli melihatku yang tersipu malu terlihat seperti kepiting rebus.Aku memalingkan wajahku dari Bagas,memutuskan untuk menatap gedung pencakar langit disekitar stasiun.
Terkadang aku juga sering dicemooh oleh siswa lain dikarenakan ibuku hanya buruh pabrik.Maklum saja,sekolah yang kumasuki bisa dibilang sebagai sekoah elit.Beruntung aku mendapat beasiswa dari ujian yang ku ikuti dengan nilai sempurna.
“Ngomong ngomong hari ini jalanan kota cukup ramai ya?”ujar Tina yang tiba-tiba menepuk pundakku
“Ya kau benar”,balasku,”Sepertinya ini karena adanya festival ulang tahun kota”
“He? Hari ini?”,Bagas tiba-tiba datang menyela pembicaraan aku dan Tina sambal membawa sekotak susu,cukup menyebalkan.
“Wahh tau begitu aku izin saja gak masuk sekolah”,sahut Bagas sambil menyeruput susu kotak yang baru dia beli.Dasar orang ini tidak mempunyai rasa bersalah sama sekali
"Memangnya kalau kau izin kau mau melakukan apa?", tanya Tina
" Tentu saja pergi bersenang-senang dan pergi ke stan jejepangan ", jawab Bagas sambil memasang muka penuh khayalannya
" Tch dasar cowo stress", sahut Tina dengan nada ketus
"Ha? Apa yang kau bilang?", ucap Bagas sambil meremas kotak susunya yang telah habis.
__ADS_1
" Apa? Kau mau marah? Kau ini memang kekanakan ya"
"Seenaknya kau bilang begitu dasar nenek sihir", balas Bagas sambil menunjuk ke arah Tina.
Tina yang tidak terima mulai maju dengan muka yang sedikit menyeramkan. Ini buruk, mereka akan bertengkar hebat bila tidak dipisahkan.
" Oke sudah cukup kalian berdua, gimana kalau kita lanjutkan saja perjalanan ke sekolahnya?", ujarku yang dengan sigap melerai mereka berdua
Mereka berdua menatapku dan akhirnya mengangguk mengiyakan ajakan dariku.Kulihat wajah Tina yang sedang cemberut sambil berjalan.
"Imut", ucapku tanpa sadar.
" He? Apa? ", tanya Tina sambil mengarahkan wajahnya padaku.
" Tidak, itu... balonnya imut yaa", jawabku dengan muka yang memerah
"Iya imut yaa", jawab Tina
Aghhhh! Andaikan hari ini libur, pasti akan kuajak Tina pergi menikmati festival ini.
Festival ini tidak begitu jauh jaraknya dari area konstruksi gedung pencakar langit.Pemerintah bilang bila gedung ini selesai dibangun maka ini akan menjadi gedung tertinggi di negara ini.Sepertinya akan menyenangkan bila gedung ini selesai seutuhnya.
"DUARRR", tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah area konstruksi. Seketika kami ber-tiga terkejut dan melihat ke atas area konstruksi gedung itu.Sebuah api berkobar begitu besar beserta reruntuhan yang jatuh dari atas.
" Heii kalian kesini!", teriak seorang pemuda kepada kami. Kami pun langsung menjauh sambil berpegangan tangan dari area konstruksi untuk menghindari reruntuhan yang jatuh.
Tanpa sengaja mataku melihat bahwa ada anak kecil perempuan yang hanya diam terpaku melihat reruntuhan yang mulai jatuh. Ini gawat, anak kecil itu bisa tertimpa reruntuhan itu,seseorang harus bertindak.
Tanpa berpikir panjang aku melepaskan pegangan tangan kami dan segera berlari menuju anak kecil itu.
"DANNY!!!", teriak Tina sambil berusaha mengejarku. Tapi apa daya dirinya ditahan oleh orang lain yang segera menariknya dari area konstruksi.
Aku segera mendorong anak kecil itu sehingga menyebabkan ia terpental jauh.Dalam posisi berbaring kulihat potongan besi tajam jatuh kearah ku dengan cepat.
"Maaf ya Tina, Bagas kayaknya aku gak bakal ikut kalian menonton filmnya", bisikku
Sayup-sayup terdengar suara Tina yang berteriak sambil menangis,disertai suara Bagas yang memberontak dari cengkraman para warga.
Seketika semuanya gelap.
__ADS_1
Bersambung...