
"Apakah kalian menikmati festivalnya?" tanya ayah begitu kami kembali ke kereta kuda.
"Ya! aku cukup menikmatinya", sahut Robert dengan tangannya yang membawa sebuah sarung pedang.
Saat festival berlangsung, aku sempat melihat Robert membeli sebuah sarung pedang di salah satu toko di sana.Ketertarikannya terhadap ilmu berpedang, sudah pasti membuatnya tertarik untuk membeli benda itu.
Sangat berbeda dengan Lilia.Ia kembali dengan kondisi baju yang kotor oleh saus makanan.Bahkan saat ini pun ia sedang mengunyah sepotong daging dengan kerah bajunya yang kotor.
Tentu saja sifat Lilia membuat Claude cukup kerepotan.Rambut Claude sudah sangat berantakan.Kerah bajunya terlihat terbuka, memperlihatkan otot dadanya yang dikarenakan dirinya yang sibuk mengejar Lilia.
"Apa yang kau beli Gerald?" tanya Robert.
Aku memperlihatkan patung seorang pria berjubah hitam yang kubeli.Entah mengapa aku cukup menyukai desain dari patung ini.Tangannya yang memegang sebilah pedang hitam membuatnya terlihat semakin gagah.Jubahnya juga dibuat seolah-olah berkibar tertiup oleh angin.
"Wahhh, darimana kau mendapatkan barang itu?" tanya Robert dengan mata yang berbinar.
"I-itu dari seorang gadis kecil kak", jawabku.
"Kenapa kau tidak bilang padaku? lihat desain patung ini.Sungguh sebuah mahakarya yang indah", ujar Robert yang terpana melihat patung itu.
"Kakak tidak bilang padaku, lalu apa kakak mau mengambil patung ini?" jawabku menyodorkan patung pria tersebut.
"Tidak, untukmu saja.Lagipula kakak sudah memiliki barang yang lebih hebat", ujar Robert sambil tertawa.
Aku dan Lilia hanya terdiam.Sangat jarang seorang Robert Adelio bisa tertawa lepas seperti ini.Lilia bahkan tidak berkedip sama sekali.
"Baiklah anak-anak, cepat masuk ke dalam kereta.Kita akan pergi ke tujuan selanjutnya", ajak ayah.
Ajakan ayah membuatku dan Lilia tersadar kembali.Jujur saja, Robert memang anak yang sangat tampan.Dan senyumannya membuat pesonanya semakin bertambah.Aku sangat yakin ia akan mudah mencari jodoh.
"Ehhh bukannya kita akan pulang?" tanya Lilia.
"Tidak sayang, kita akan menuju suatu tempat terlebih dahulu.Pakai ini untuk keamanan kalian", jawab ayah.
__ADS_1
Ayah memberikan kami semua sebuah jubah dengan penutup kepala.Rasanya kami seperti akan melakukan misi rahasia.Dalam sebuah film yang pernah kulihat, pakaian seperti ini biasa digunakan untuk menutupi identitas si pemakai.
Ini sangat keren.Kami semua bahkan Claude juga akan mengenakan jubah ini.Begitu kami memasuki kereta kuda wajah ayah tidak terlihat girang seperti sebelumnya.Kurasa ada sesuatu yang sangat penting untuk kami.Sesuatu yang akan membuat kami mengingat betapa busuknya dunia ini.
...****************...
"Ayah kemana kita akan pergi?" tanya Lilia begitu kami keluar dari gerbang ibu kota.
Ayah hanya diam tidak menjawab.Itu membuat Lilia terlihat resah.Wajah Lilia yang biasa tersenyum ketika sedang melakukan perjalanan, tidak terlihat sama sekali.Yang ada di wajahnya hanyalah ekspresi gelisah.
Begitupun dengan Robert.Ia tidak mengucapkan sepatah kata sama sekali.Tatapannya terlihat serius.Kedua tangannya memegang erat sarung pedang yang baru dibelinya.
"Anak-anak, lihatlah keluar", ujar ayah.
Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela.Sejauh ini tidak ada yang aneh dari tempat ini, sampai aku melihat sesuatu.
Para Sentinel.Apa yang mereka lakukan di tempat ini?
"Tunggu sebentar lagi nak, kau akan mengetahui apa alasan mereka berada disini", jawab ayah dengan tatapan yang dingin.
Kami menunggu beberapa saat sampai akhirnya kami melihat beberapa orang.Pakaian mereka terlihat sangat lusuh.Beberapa dari mereka bahkan tidak memiliki tangan atau kaki.
"Kita berhenti disini Claude", ujar ayah pada Claude sembari mengetuk kaca depan.
"Baik tuan"
Claude menghentikan kereta kuda yang kami tumpangi.Bahkan orang seperti Claude terlihat sangat serius dengan keadaan ini.Di pinggangnya terlihat sebuah sarung pedang berwarna biru tua.Claude membukakan pintu untuk kami, memperlihatkan kenyataan yang mengerikan.
Seketika bau busuk menusuk hidung kami.Lilia bahkan terlihat menahan mual akibat bau ini.Aku dan Robert mengernyit melihat apa yang ada di hadapan kami.
"Lihatlah anak-anak, mereka adalah hal yang disembunyikan oleh Kerajaan ini.Mereka adalah orang yang tidak diterima di Kerajaan Heragon.Merekalah kaum yang terbuang.Merekalah para Puddler", jelas ayah tanpa mengalihkan pandangannya.
Ini sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam tembok.Bila anak-anak di dalam tembok menghabiskan waktu mereka dengan bermain dengan gembira di taman, berbeda dengan anak-anak di luar tembok.
__ADS_1
Sejak kecil mereka sudah menjalani kehidupan yang keras.Pembunuhan, pencurian, perdagangan obat ilegal seolah sudah menjadi hal yang wajar disini.
"Mari kita mendekat, pastikan wajah kalian tidak terlihat", ujar ayah.
Kami menutup wajah kami dengan kain.Lilia tidak melepaskan genggamannya dari Robert.Begitu pula denganku yang terus memegang erat tangan kiri Robert.
Perlahan kami mendekat ke arah kerumunan para Puddler.Orang-orang ini terlihat sangat kelaparan dan sengsara.Bekas luka terlihat jelas di tubuh mereka, pertanda mereka menjalani kehidupan yang sangat keras.
"Tuan aku mohon berikan kami sedikit hartamu", ucap seorang pria tua yang tiba-tiba menarik kakiku.
Aku terjatuh ke sebuah genangan lumpur, menyebabkan jubahku menjadi berwarna cokelat.Ayah dengan cepat menarik ku dan membawaku menjauh.Begitu pula dengan Lilia yang diangkat oleh Claude.Sedangkan Robert dengan kelincahannya mampu keluar dari kerumunan para Puddler.
Ayah membawa kami ke balik dinding di sebuah rumah.Nafasnya terengah-engah karena ia harus berlari sambil mengangkat ku.
Tiba-tiba saja aku melihat sosok yang tidak asing di mataku.4 orang Sentinel mendekati pria yang sebelumnya menarik kakiku.Para Sentinel itu menggunakan topeng gas mereka dengan zirah yang berwarna hitam.
Biasanya bila berada di dalam tembok, para Sentinel menggunakan zirah berwarna putih.Sangat berbeda dengan yang digunakan di tempat ini.
Dari jauh kami melihat para Sentinel tersebut sedang berbicara sesuatu pada pria tersebut.Dikarenakan jarak, kami tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Perhatikan baik-baik nak, kalian akan melihat kenyataan di dunia ini", bisik ayah.
Para Sentinel tersebut berbincang satu sama lain.Pria tua yang sebelumnya menarik kakiku terlihat memohon-mohon sesuatu kepada para Sentinel itu.Sampai akhirnya pria itu memegang kaki dari salah satu Sentinel.
Dari jauh, kami hanya melihat.Melihat seorang pria tua dipukuli dan diinjak-injak tanpa ampun oleh para Sentinel.Seorang pria tua yang hanya memohon sedikit harta untuk melanjutkan hidup, kini tengah dipukuli dan diinjak oleh mereka.
Robert menutup mulutnya, sementara itu Lilia mengalihkan pandangannya dan memeluk ayah.Dan aku sama sekali tidak melepaskan tatapanku dari kejadian itu.
Para Sentinel yang merupakan penjaga kedamaian Kerajaan Heragon, melakukan tindakan yang tidak manusiawi.Sebuah ketidakadilan yang terlihat sangat jelas.
Di hari itulah, untuk pertama kalinya.Aku, Robert, dan Lilia mengetahui sisi lain dari kemewahan yang bersinar di kerajaan ini.Sebuah sisi dimana orang tidak bersalah dijadikan bersalah.Sebuah sisi dimana rasa keadilan dan kemanusiaan sama sekali tidak berlaku.
Bersambung....
__ADS_1