Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Kesalahan Fatal


__ADS_3

"Apa rencanamu Gerald?" tanya Erina dengan wajahnya yang ketakutan padaku.


Ini situasi yang cukup sulit.Sudah sekitar 15 menit kami bersembunyi dibalik semak semak dari tatapan undead tersebut.


Ku lihat undead tersebut berjalan sambil membawa pedang karatan miliknya, berusaha mencari keberadaan kami.Baunya yang menusuk membuat ku dan Erina terpaksa menutup hidung kami masing masing.


"Hei Gerald, apa rencanamu?" tanya Erina sambil menarik lengan bajuku.


Kami tidak mungkin bisa melawan Undead tersebut.Tidak mungkin anak berusia 5 tahun mampu mengalahkan monster busuk yang membawa pedang panjang karatan.Hal ini memaksaku untuk berpikir cepat dan sebisa mungkin menghindari pertarungan dari Undead tersebut.


Pertama aku harus melihat situasi terlebih dahulu.Seingatku Undead tersebut muncul dari balik pohon dan mengincar Erina dan aku.


"Erina, tunggu disini sebentar", pintaku pada Erina yang hanya terdiam menahan tangis.


Aku harus kembali melihat situasi.Kuintip Undead tersebut dari balik semak-semak, dan saat itulah hal yang tidak ku sangka terjadi.


Kali ini tidak hanya 1 Undead, melainkan ada 5 Undead.Bau mereka semakin menusuk hidungku sehingga aku terpaksa menggunakan sapu tanganku untuk menutup hidung.


Begitu pula dengan Erina, ia menutup hidungnya menggunakan sapu tangan miliknya.Anak ini cukup pintar untuk anak berusia hampir 5 tahun.


Kelima Undead tersebut terlihat berpencar dan membuat sebuah ruang kesempatan bagi kami berdua untuk melarikan diri.


Aku kembali mendekati Erina yang terlihat cukup tenang.Kita memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari kelima Undead sialan ini.


"Baiklah Erina, aku memiliki rencana", ujar ku kepada Erina.


Erina hanya diam memandang diriku, menunggu sebuah rencana penyelamatan diri keluar dari mulutku.


"Rencana ini hanya bisa berhasil apabila kau percaya denganku", ucapku sambil memegang bahu Erina.

__ADS_1


"Apa kau percaya denganku?" tanyaku pada Erina yang masih menutup hidungnya dengan sapu tangan miliknya.


Erina mengangguk dengan cepat kepadaku.Aku hanya bisa tersenyum padanya.


"Kau harus lari dari sini sementara aku akan mengalihkan perhatian mereka", ujar diriku sambil menggenggam erat bahu Erina.


Erina terlihat terkejut dengan rencana yang terlihat seperti mengorbankan diriku sendiri.Tetapi itu tidak sepenuhnya salah, taman ini sebenarnya cukup luas dan memiliki banyak semak semak sehingga memungkinkan diriku untuk berlari dan bersembunyi dari para Undead tersebut.


"Tapi kau bisa terluka, atau paling parah kau bisa...", jawab Erina yang terlihat tidak mau melanjutkan perkataannya.


"Pokoknya aku tidak setuju dengan rencanamu Gerald! apa tidak ada rencana lain? rencana yang bisa menyelamatkan kita berdua sekaligus?" tanya Erina yang mulai putus asa.


"Sayangnya tidak ada", jawabku.


Erina terlihat meneteskan air matanya kembali.Entah mengapa aku merasa bersalah padanya.


"Kau harus lari dari tempat ini dan biarkan aku mengalihkan perhatian mereka, setelah kau keluar dari taman ini, segera panggil orang dewasa untuk datang kemari", ucapku dengan yakin.


Erina mengusap air matanya dan menatap wajahku.


"Kau berjanji akan kembali?" tanya Erina sambil menyodorkan jari kelingkingnya padaku.


"Janji", jawabku sambil menautkan jari kelingkingku pada Erina.


Baiklah kalau begitu, rencana dimulai.


...****************...


"Hei kalian makhluk jelek sialan!" teriakku dari balik semak-semak kepada para Undead tersebut.

__ADS_1


Kelima Undead itu menatapku dengan tatapan kosong mereka.Beberapa dari mereka bahkan terlihat memiliki luka yang besar di tubuhnya.


Para Undead tersebut dengan cepat mendekati semak-semak yang aku tempati.Tidak ku sangka Undead bisa bergerak segesit ini.Setauku Undead adalah makhluk jelek yang bergerak dengan lambat.


Tetapi rencana ini berhasil.Kulihat Erina yang sudah keluar dan pergi dari semak-semak tempat kita berdua bersembunyi tadi.Setidaknya kali ini dia aman.


Sekarang fokus utamaku adalah para Undead ini.Aku tidak memiliki senjata apapun di tubuhku.Bahkan sihir juga tidak ada.Kekuatan sihir biasanya hanya muncul ketika seseorang berumur 6 sampai 8 tahun.Jadi tidak mungkin bagi anak berusia 5 tahun sepertiku memiliki sihir.


Pilihanku satu-satunya hanyalah bertahan hidup sampai bantuan yang dipanggil Erina datang kemari.


Dengan cepat aku segera berlari dan bersembunyi di semak-semak sekitar para Undead.Ini akan mudah karena setahuku Undead adalah makhluk yang tidak memiliki kecerdasan sama sekali yang diakibatkan karena pada dasarnya mereka sudah mati, begitu pula dengan otaknya.


Tetapi ada yang berbeda dengan kelima Undead ini.Mereka bergerak dengan terorganisir dan memiliki strategi.


Salah satu Undead terlihat berlari mendekatiku sembari mengangkat pedang karatan nya, siap untuk menebas ku.


Aku segera menghindar dan melompat ke samping, masuk ke dalam semak-semak.Ini gawat, aku tidak menyangka para Undead ini memiliki kepintaran.Mereka bukan Undead biasa.Mereka lebih mirip makhluk yang dimodifikasi oleh seseorang.


Aku berlari menjauhi mereka ke arah gerbang taman.Kulihat ke arah belakang para Undead itu mengejarku dengan mengangkat pedang mereka.


Kualihkan pandanganku ke depan, memutuskan untuk tetap fokus mencari jalan untuk bersembunyi dari mereka semua.Rencanaku berantakan, aku tidak memperhitungkan kemampuan para Undead itu sama sekali.Ini adalah kesalahan yang sangat fatal.


Tiba-tiba saja salah satu Undead tersebut melompat ke arahku sehingga menyebabkan aku terjatuh.


Aku dikelilingi oleh para Undead yang sudah bersiap menebas ku dengan pedang karatan mereka.


Aku menutup mataku.Kurasa aku tidak bisa menepati janjiku pada Erina.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2