Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Keluarga Adelio


__ADS_3

"Lihat sayang, mata dan rambutnya mirip sepertiku".


"Tetapi coba lihat hidungnya, hidungnya sangat mirip dengan hidungku".


"Kau benar sayang".


Sayup-sayup aku mendengar 2 orang sedang berbincang.Suaranya seperti sepasang lelaki dan perempuan.Semenjak dari tempat para roh agung,aku terjebak didalam kegelapan ini.Ahh sejak dulu aku memang membenci kegelapan.Aku tidak tau apa yang akan muncul mendekatiku dari dalam kegelapan.Karena itulah aku membencinya.


Aku mencoba untuk membuka kedua mataku.Walaupun terasa cukup sulit,aku bisa membukanya perlahan-lahan.


"Sayang! lihat si kecil membuka matanya!" teriak si perempuan.


Ha? Si kecil? Siapa yang wanita itu maksud?


"Mana aku mau lihat!" sahut si pria.


Setelah berhasil membuka mata, hal yang pertama kulihat adalah 2 orang pria dan wanita.Si pria memiliki rambut hitam dan memiliki mata merah terang,wajahnya juga terlihat cukup tampan dengan bahunya yang terlihat tegap.


Sementara itu si wanita terlihat sangat anggun dengan rambut pirangnya,ia terlihat sangat cantik dengan matanya yang berwarna cokelat.Dia terlihat seperti putri yang ada di novel yang pernah kubaca.Dan keduanya terlihat tersenyum melihatku.


"Selamat datang di keluarga Adelio anakku", ujar keduanya bersamaan.


Eh? Keluarga Adelio? Dimana aku berada? Siapa mereka? Dan siapa aku?


...*****...


1 bulan setelah datang ke dunia ini,aku mulai mengetahui beberapa hal.Aku adalah anak ke-3 dari keluarga bangsawan Adelio di Kerajaan Heragon.Ibuku bernama Elise Adelio sedangkan ayahku bernama Albert Adelio.Aku juga memiliki saudara kandung satu laki-laki dan satu perempuan.


Kakak laki-laki ku bernama Robert Adelio berumur 7 tahun, sedangkan kakak perempuanku bernama Lilia Adelio berumur 4 tahun.Sedangkan namaku sendiri adalah Gerald Adelio seorang putra bungsu dari keluarga Adelio.


Menjadi bayi tentu sangat tidak menyenangkan.Sehari-hari hanya ku habiskan dengan tidur,minum susu, mandi, tidur kembali.Aku sama sekali belum bisa berjalan ataupun merangkak.Seingatku seorang bayi baru bisa merangkak setelah berumur 6 bulan, dan aku harus menunggu selama itu.Ini menyebalkan.

__ADS_1


"Haloo adikku tersayang", suara seorang anak perempuan terdengar di sebelahku.


Aku menolehkan kepalaku dan melihat Lilia sedang tersenyum melihat kepada wajahku.Di mataku Lilia terlihat sangat mirip dengan wajah ibuku.Rambutnya yang pirang serta hidungnya yang agak mancung.Untuk anak seumuran dirinya dia terlihat sangat cantik.


"Lilia, jangan terlalu dekat dengannya, kau bisa membuatnya menangis", tegur seorang anak laki-laki dari belakang Lilia.


Itulah Robert, wajahnya terlihat sangat tampan untuk anak seusia dirinya.Wajahnya yang sangat mirip dengan ayah membuatnya terlihat sangat keren.Rambutnya berwarna hitam legam serta matanya yang berwarna cokelat.Mungkin bila berada di sekolah, dia adalah sosok yang sering dikejar perempuan.


Robert terlihat sangat dingin, bahkan pada keluarga sendiri.Tetapi tidak ku sangka ia adalah sosok orang yang sangat menyayangi keluarganya, dan akan melindungi keluarganya apapun yang terjadi.


"Tapi Lilia hanya menyentuh pipinya Gerald, lihat pipinya yang sangat empuk ini", jawab Lilia sambil menekan jarinya ke pipiku.Baiklah itu cukup mengganggu, tolong hentikan.


"Tapi kau bisa membuatnya menangis Lilia", balas Robert yang berupaya menghentikan Lilia.


" Baiklah kalau begitu, setidaknya bolehkah aku memberinya kecupan di pipi?" tanya Lilia.Oh yang benar saja, itu akan memalukan.


"Hmm baiklah kurasa kau boleh melakukannya", jawab Robert setelah mempertimbangkannya.


Wajah Lilia semakin dekat dengan wajahku.Aku berusaha memberontak, dan tanpa sengaja kaki kecilku menendang wajah Lilia.


"Awww itu sakit", ujar Lilia sambil meringis kesakitan.Tetapi ia tidak menangis, padahal aku rasa tendanganku cukup keras.Aku merasa bersalah pada Lilia.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Robert sambil melihat muka Lilia.


"Ya aku baik-baik saja kak", jawab Lilia.Sudah kuduga, walaupun dia anak perempuan dia adalah anak yang kuat untuk seumurannya.


Entah mengapa aku merasa bersalah pada Lilia.Aku mengulurkan tangan mungilku kearah Lilia.Andaikan aku bisa berbicara, pasti sudah ku teriakkan permintaan maaf pada kakak perempuanku.


Lilia melirik kearah ku dan melihat diriku yang sedang mengulurkan tangan.Sontak Lilia segera memegang tanganku dan menggenggam cukup erat.


"Kakak tidak apa-apa adik kecilku, kau tidak perlu khawatir", ujar Lilia seolah bisa membaca pikiranku.

__ADS_1


Aku merasakan genggaman tangannya yang hangat.Aku alihkan pandanganku pada wajahnya.Meski kesakitan, Lilia tetap tersenyum seolah ingin meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja.


"Kali ini kakak boleh ya mencium pipimu", kata Lilia sambil mendekatkan wajahnya padaku.


Kali ini kurasa tidak masalah untuk dicium kakak sendiri.Aku membiarkan pipiku dicium oleh Lilia, dan Lilia terlihat senang setelah mencium pipiku.Kali ini matanya terlihat berbinar seperti telah melaksanakan misinya.


"Maaf mengganggu tuan muda dan nona muda, ini waktunya tuan Gerald untuk mandi", jelas seorang pelayan yang tiba-tiba datang ke kamarku.Robert dan Lilia memandang pelayan itu dengan muka yang terlihat kecewa.


" Baiklah kami mengerti, ayo Lilia kita ke taman", ajak Robert sambil memegang tangan Lilia.Lilia hanya bisa mengikuti Robert keluar dari ruangan sambil melambaikan tangan padaku.


"Sampai jumpa lagi Gerald, nanti kita main lagi ya", ujar Lilia sambil melambaikan tangan padaku.Aku melihatnya dan mulai menyadari bahwa, sepertinya aku akan baik-baik saja selama bersama keluargaku.


...*****...


Setelah mandi aku dibawa ibuku pergi ke taman tempat Robert dan Lilia bermain.Kami duduk di sebuah kursi taman sambil memperhatikan Lilia yang berlarian mengejar capung.Aku berusaha mencari keberadaan Robert.Anak ini sangat sulit dicari karena hawa keberadaannya tidak terasa sama sekali.


Mendadak mataku menangkap siluet anak berambut hitam legam sedang duduk dibawah pohon.Anak itu terlihat sedang membaca buku tebal dengan tulisan yang tidak kupahami.Itu pasti Robert, anak dengan sikap yang dingin tapi ternyata sayang keluarga.


"Gerald apakah kau mau main denganku?" tanya seorang anak perempuan yang tak lain adalah Lilia.Aku mengalihkan pandangan pada Lilia yang sudah mengulurkan kedua tangannya untuk menggendongku.Kulihat wajah ibuku yang hanya tersenyum mengiyakan.


"Jaga adikmu baik-baik ya sayang", jawab ibuku sambil menyerahkan diriku pada Lilia.Tidak ku sangka, gadis ini ternyata kuat juga.Lilia menggendongku dengan santai dan membawaku ke pohon yang sedang berbunga.Terlihat sangat indah.


" Lihat ini Gerald, indah ya... ", kata Lilia sambil mengambil kelopak bunga yang berjatuhan.


Andai aku bisa berbicara pasti kan kujawab, aku jadi ingin cepat besar.


" Tahukah kamu Gerald, bunga ini bernama bunga Xiomara yang berarti keindahan, kabarnya bunga ini sangat jarang ditemukan di hutan, dan hanya bisa ditanam bila suhu udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin," jelas Lilia sambil memegang kelopak bunga itu.


Setelah itu Lilia terus bercerita mengenai temannya yang akan datang pada saat pesta perayaan ulang tahunnya yang ke-5.Aku hanya diam mendengarkan dia berbicara, sampai akhirnya aku dan Lilia tertidur dibawah pohon keindahan bersama-sama.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2