Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
"Aku akan melindungimu"


__ADS_3

"Ayolah Gerald, ibu mohon ikutlah dengan ibu", ujar ibu yang memohon padaku.


Aku menggelengkan kepalaku, tidak setuju dengan ibu.Beberapa menit yang lalu, ibu mengajakku untuk pergi ke pesta bersamanya.Pada awalnya aku tidak masalah, sampai pada akhirnya ibu memberitahuku bahwa Erina akan hadir juga.


Bukannya aku benci dengannya, hanya saja keberadaan gadis kecil itu membuatku merasa tidak nyaman.


"Tidak", jawabku yang menolak permintaan ibu.


"Ayolah Gerald, ibu sangat memohon padamu.Disana tidak hanya ada Erina saja kok", lanjut ibu dengan tatapan memelas nya.


Bahkan itu lebih buruk lagi, berada di tengah-tengah anak kecil yang baru bisa berbicara.Itu akan membuatku mati dalam penderitaan.


"Tidak!" aku berteriak sambil berlari dari ibu.Aku tetap tidak akan mau pergi dengan ibu.


Tiba-tiba kakiku tidak sengaja menyandung sofa yang ada dikamar sehingga menyebabkan aku terjatuh.


"Gerald!" jerit ibu menghampiri diriku yang terjatuh di dekat sofa.


Ibu yang terlihat panik dengan cepat mengangkat ku dan mengelus kepalaku.Sementara itu aku hanya diam, tadi itu tidak terasa sakit sama sekali.


"Astaga, sayangku apa kau baik-baik saja", ucap ibu sembari mengelus kepalaku dengan lembut.Bahkan wajahnya terlihat berkaca-kaca.


"Maafkan ibu Gerald, ibu merasa sangat bersalah, maafkan ibu yang memaksamu", ujar ibu sambil menangis.


Bukankah yang terjatuh itu aku? kenapa ibu yang menangis?


Ini buruk, entah mengapa aku merasa cukup bersalah pada ibu.


"Mau", bisik ku pelan pada ibu.


"Eh?", ibu terlihat terkejut melihatku, kali ini wajahnya terlihat kebingungan.


"Aku mau ikut", jawabku yang akhirnya menyerah juga pada ajakan ibu.

__ADS_1


Sementara itu ibu terlihat tersenyum lebar.Ia terlihat seperti seorang prajurit yang telah selesai menuntaskan misinya, sehingga membuatnya tersenyum sangat lebar.


"Kau serius Gerald?" tanya ibu untuk memastikan.


Aku hanya mengangguk pelan pada ibu.Sejujurnya aku tetap tidak mau ikut, hanya saja tingkah ibu tadi membuatku merasa tidak enak.


"Kalau begitu kita harus segera bersiap-siap Gerald", ajak ibu sambil menggendongku pergi ke kamar untuk disiapkan pergi ke pesta.


Kuharap aku kuat menghadapi anak kecil.


...****************...


Diluar dugaanku, pesta ini hanya di hadiri oleh para ibu dan anak-anak mereka yang masih kecil.Di seluruh penjuru taman terlihat banyak anak kecil yang berlarian ke sana kemari.Tidak sedikit pula dari mereka yang menangis kencang.


"Gerald", sapa seorang gadis kecil dengan rambut pirang.


Ku alihkan pandanganku pada seorang gadis kecil di belakangku.


Ya, itu adalah Erina.Rambutnya yang pirang dan matanya yang biru sangat menarik untuk dipandang.Wajahnya terlihat tersenyum padaku sambil menyembunyikan tangannya di belakang.


Erina mengulurkan tangannya dan mengeluarkan isi tangannya.Ternyata itu hanyalah permen saja.Padahal kukira dia memegang sesuatu yang lebih penting.


Dengan tiba-tiba Erina menarik ku pergi dari pesta tersebut menuju ke bagian taman yang lebih dalam.Aku terpaksa ikut dengannya karena ia menarik ku dengan tiba-tiba.


Erina baru berhenti berjalan setelah melihat ada sekawanan kupu-kupu yang terbang di dekat bunga.Sementara itu aku hanya duduk diam memperhatikan Erina yang bermain dengan kupu-kupu tersebut.


"Gerald!" panggil Erina padaku yang hanya duduk diam memperhatikan.


Aku adalah orang yang sangat malas bila harus melakukan permainan anak kecil.Itu adalah hal yang sangat membosankan dan kekanak-kanakan.


"Gerald!" kali ini Erina lebih terlihat seperti memaksaku untuk mendekati dirinya.


Aku bangun dari posisi dudukku, mendekati Erina yang memanggilku terus menerus.

__ADS_1


Tiba-tiba hidungku kembali mencium sesuatu yang tidak asing.Bau ini adalah bau yang sama dengan yang ada di taman rumahku pada hari itu.Ini adalah... Bau Undead.


Dengan gesit aku menarik tangan Erina dan menutup mulutnya.Kami bersembunyi di semak-semak taman.Undead tersebut terlihat seperti menyadari bahwa ia tidaklah sendirian.


Selama kami diam, kami akan aman.Terlalu beresiko untuk melawan nya secara langsung karena kami belum memiliki kekuatan sihir sama sekali.


Sementara itu, Undead tersebut mengarahkan pandangannya ke seluruh taman.Ia sudah mengetahui bahwa dirinya telah dilihat oleh seseorang hanya saja ia tidak bisa menemukannya.


"Mmmm" gumam Erina dengan mulut yang kututup dengan tanganku.Tersadar akan hal tersebut, kulepaskan tanganku dari mulutnya.


"Apa itu?" tanya Erina begitu dia kulepaskan.


Aku hanya mengisyaratkan dirinya untuk diam dan jangan mengeluarkan suara.Terlalu beresiko untuk menceritakan Undead disini.


Wajah Erina terlihat ingin menangis.Tentu saja ia akan merasa panik dan ketakutan karena aku juga begitu saat pertama kali melihat Undead.


Hanya saja saat ini hanya ada kami berdua, yang tidak bisa keluar sama sekali dari tempat persembunyian.Bila kami keluar, sudah pasti kami akan dikejar oleh Undead tersebut.


Kali ini Erina benar-benar menangis.Bahkan ia mulai memanggil ibunya.


Aku taruh tanganku yang kecil ke kepala Erina dan mengelusnya sambil tersenyum.


"Jangan takut", ujar ku pada Erina yang menangis.


"Aku akan melindungimu", lanjut ku memastikan Erina yang ketakutan.


Erina tersenyum tipis padaku.Air matanya kini telah berhenti mengalir.Ia menghapus sisa-sisa air matanya dan tersenyum melihatku.


"Aku percaya", jawab Erina dengan senyumannya yang terlihat sangat manis.


Baiklah Erina sudah terlihat tenang.Wajahnya sudah kembali tersenyum seperti semula. Sekarang masalahnya hanya satu.


Bagaimana cara kami berdua melewati Undead ini?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2