
"Bagaimana perasaanmu setelah lolos dari para Undead pada beberapa waktu yang lalu?" tanya Xander dengan senyum lebar yang menyebalkan nya.
"Aku baik-baik saja", jawabku dengan tenang.
Hal seperti ini sudah sering kulakukan di kehidupanku yang dulu.Aku selalu dipanggil ke ruang guru untuk diminta pertanggungjawaban karena aku membela diri dari orang-orang yang menggangguku.
Ini tidak jauh beda dan sepertinya aku bisa melalui ini.
"Apa berkatmu?" ujar Xander melanjutkan pertanyaannya.
"Eh? Berkatku? Bukankah aku masih di bawah umur?" jawabku dengan percaya diri.
"Ya kau benar, betapa bodohnya aku, hehe", balas Xander dengan wajahnya yang tetap menyebalkan.
"Baiklah kalau begitu, kau boleh keluar", lanjut Xander.
Eh? Sudah selesai? Begitu saja?
Aku hanya terdiam menatap Xander yang sedang menuliskan sesuatu di atas kertas.
"Apa? Kau mengira aku akan menahan mu? Oh tentu tidak kawan", jelas Xander yang melihatku terdiam tidak percaya.
Kupikir pertanyaan yang diberikan akan memakan waktu yang sangat lama.Ternyata pertanyaan yang diberikan sangat singkat dan mudah.
"Kau tidak akan keluar?" tanya Xander sembari membukakan pintu untukku.
Aku tersadar dari lamunanku dan melompat turun dari kursi.Di depan pintu terlihat ayah dan Robert yang sudah menunggu.
Entah mengapa ayah terlihat sangat cemas, sedangkan Robert hanya diam tidak berbicara sedikitpun.
"Ahh halo Albert, bagaimana kabarmu?" tanya Xander setelah melihat ayah.
Ayah hanya diam tidak menjawab Xander sama sekali.
"Ayo Gerald, kita pulang sekarang", ujar ayah yang langsung menggenggam erat tanganku.Sementara itu Robert mengikuti kami dari belakang.
__ADS_1
"Kau masih sama seperti dulu ya, sombong dan angkuh.Karena itulah Elva mati olehmu", lanjut Xander menyilang kan tangannya.
Tiba-tiba saja ayah melepaskan genggaman tangannya dan langsung menarik kerah baju Xander.Ayah terlihat sangat marah dengan wajahnya yang merah padam.
"Kau tidak tahu apapun dasar keparat, kau hanya berlari menyelamatkan diri sendiri saat itu.Jadi tutup mulutmu dan pergi dari hadapanku", balas ayah.
Mendadak keadaan di sekitar kami menjadi sangat dingin.Ini berbeda dengan aura sihir Robert.Aura sihir ini terasa lebih kuat.Dan akhirnya aku menyadari lapisan tipis es yang muncul dari wajah ayah.
Robert menggenggam tangan kananku.Robert terlihat cukup ketakutan dengan ayah yang marah pada Xander, begitu pula denganku.
"Ada apa disini?" tanya 2 Sentinel yang datang dari belakang kami.
Ayah melirik para Sentinel itu dan melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Xander.
"Ahh tidak ada apa-apa disini, kalian boleh kembali", jawab Xander pada para Sentinel yang datang pada kami.
"Siap Letnan!" balas kedua Sentinel itu sembari memberi hormat pada Xander.Kedua Sentinel itu langsung pergi dari hadapan kami setelah diperintahkan oleh Xander.
"Kau harus menghilangkan sikap sombong mu itu Albert, kau tidak mau kan ada orang yang mati karena ulah mu?", lanjut Xander yang terlihat seperti berusaha memancing amarah ayah.
Ayah hanya diam dan menarik tanganku dan Robert dari tempat ini.Walaupun suhu diluar cukup panas, entah mengapa berada di dekat ayah terasa sangat dingin.
Sepulang dari pusat kota, ayah langsung memasuki ruang kerjanya dan menguncinya dari dalam.Ibu dan Lilia yang keheranan melihat ayah menanyakan apa yang terjadi pada ayah.
Robert menjelaskan semuanya kepada ibu dari mulainya interogasi ku di markas besar Sentinel hingga keributan antara ayah dan Letnan Xander.
Ibu seketika paham apa yang terjadi dan menyuruh kami untuk pergi ke kamar Robert dan menunggu makan malam di sana.
"Kak buku apa ini?" tanya Lilia menunjuk buku bersampul merah begitu kami sampai dikamar Robert.
"Itu buku mantra kakak, Lilia", jawab Robert sambil mengambil sebuah buku besar bersampul hitam.
"Ada apa dengan ayah kak?" tanyaku pada Robert.
Jujur saja aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi.Mengapa ayah bisa semarah itu ketika bertemu dengan Letnan Xander?
__ADS_1
"Entahlah Gerald, aku juga tidak tau", jawab Robert dengan pelan.
Sementara itu Lilia terlihat asik melihat-lihat koleksi buku Robert.Kami memang sangat jarang memasuki kamar Robert.Biasanya jika ingin bersantai atau bermain, kami lebih sering berada di kamarku atau kamar Lilia.
Dan setiap kami datang kemari, kamar Robert selalu diisi oleh buku-buku baru yang belum pernah kami lihat sebelumnya.
Kulihat buku yang dipegang oleh Robert.Ukurannya cukup besar dan ditulis dengan huruf kuno.
"Kak, apa kau bisa bacakan buku itu?" tanyaku pada Robert.
"Tidak boleh Gerald, buku ini adalah milik ayah. Dan aku akan mengembalikan pada ayah nanti", jawab Robert sambil tersenyum padaku.
Aku menghela nafas kecewa.Tetapi mau bagaimana lagi? Mungkin umurku memang belum cukup sehingga aku tidak diperbolehkan membaca buku itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar.Lilia dengan cepat berlari kearah pintu kamar Robert untuk membukakan pintu.
"Halo anak-anak", sapa ibu dengan senyuman hangatnya.Sangat berbeda dengan senyuman Xander yang menyebalkan.
Kami langsung berlari dan memeluk ibu dengan erat.Lilia yang penuh penasaran, langsung bertanya pada ibu apa yang terjadi dengan ayah.
"Ayah kalian sedang membutuhkan waktu sendiri, jadi biarkan ayah kalian tenang dahulu ya", jawab ibu menjawab pertanyaan Lilia.
Aku dan Robert saling bertukar pandangan.Jujur saja kami sangat ingin mengetahui alasan ayah marah tadi, tapi kurasa tidak mungkin bertanya itu pada ayah sekarang.
"Oh ya, Robert apakah ketika ayahmu marah ada sesuatu yang mengganggu?" tanya ibu pada Robert.
Robert terdiam mendengar pertanyaan dari ibu. Ia terlihat gemetar sekarang.
"Saat ayah marah, keadaan sekitar menjadi sangat dingin dan rasanya sangat menusuk bu. Dan saat itu muncul lapisan tipis es di wajah ayah", jawab Robert dengan tubuhnya yang gemetar ketakutan.
Ibu hanya tersenyum dan memeluk tubuh Robert untuk menenangkannya.Biasanya Robert adalah anak yang pemberani dan dingin, sehingga kejadian ini cukup mengejutkanku dan Lilia.
Sementara itu Lilia hanya diam tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi.
"Baiklah anak-anak, mari kita makan malam di bawah ya", ajak ibu kepada kami bertiga.
__ADS_1
Dengan hangatnya, ibu berhasil menenangkan Robert dan menggandeng kami semua menuju lantai bawah untuk makan malam bersama.
Bersambung...