Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Kisah para Roh agung


__ADS_3

Pesta kemarin malam berlangsung sangat meriah.Lilia dan ayah terlihat sangat kelelahan.Maklum saja, kemarin malam Lilia mengajak teman-temannya bermain ke taman belakang rumah.Mereka berlarian kesana kemari sampai kelelahan.


Sedangkan ayah terlalu banyak minum semalam, sehingga membuatnya tertidur terlalu lama.Sementara itu, Felix dan Arthur diantar pulang dengan dibantu oleh para pelayan karena terlalu mabuk.


"Apakah Gerald sudah bangun?", tanya ibu pada pelayan yang menjagaku.


"Sudah nyonya", jawab pelayan itu sambil membungkukan badannya.


"Selamat pagi Gerald ", sapa ibu sambil mengangkatku dari kasur.


Aku sangat bersyukur karena aku sudah terlalu bosan di kamar.Ibu segera membawaku pergi menuju ke taman.Taman adalah tempat terbaik bagiku disini.Selain karena keindahannya, hawanya juga membuatku merasa sangat tenang.


"Selamat pagi ibu", sapa seorang anak laki-laki.


"Selamat pagi Robert, bagaimana tidurmu? apakah nyenyak?", tanya ibu sambil mendekati Robert.


"Lumayan bu, ngomong-ngomong apa kalian mau ke taman?", balas Robert sambil membawa sebuah buku tebal.


"Apakah kamu mau ikut dengan kami, Robert?" ajak ibu sambil tersenyum.


Robert hanya mengangguk dan segera mengikuti kami.


Tempat tinggalku ini cukup luas untuk ditinggali.Entah ada berapa kamar yang ada disini, yang pasti tempat ini bisa menampung banyak sekali tamu seperti tadi malam.


"Dimana ayah dan Lilia bu?" tanya Robert sambil menarik pelan gaun ibu.


"Ibu rasa mereka masih tidur sayang...", jawab ibu sambil mengelus kepala Robert.


Robert hanya diam, wajahnya terlihat kecewa. Kurasa ia menantikan pagi hari untuk segera bermain dengan Lilia.


"Apakah aku boleh bermain dengan Gerald bu?" tanya Robert dengan muka penuh harap.


"Tentu saja boleh sayang, jaga baik-baik adikmu nanti ya", jawab ibu dengan lembut.

__ADS_1


Robert tersenyum mendengar itu.Wajahnya terlihat lebih cerah ketika ibu membolehkannya bermain denganku.


"Terimakasih banyak bu, aku pasti akan menjaga Gerald dengan baik", jawab Robert sambil tersenyum manis.


Ibu hanya tersenyum dan menggandeng tangan Robert.Bersama-sama kami pergi ke taman belakang rumah ini.


...*****...


Kondisi taman hari ini terlihat sangat menenangkan.Pohon bunga Xiomara masih menjatuhkan kelopak bunganya, terlihat sangat indah di waktu pagi ini.


"Apakah aku boleh bermain dengan Gerald sekarang?" tanya Robert yang sudah tidak sabar.


"Tentu boleh sayang, ini jaga adikmu baik-baik ya", jawab ibu sambil menyerahkanku pada Robert.


Mata Robert terlihat berbinar-binar.Ia segera menggendongku dengan hati-hati.Wajahnya tersenyum dan mengangguk pada ibu, pertanda bahwa ia siap menjagaku dengan baik.


Robert membawaku pergi ke bawah pohon rindang.Berbeda dengan Lilia yang lebih suka membawaku ke pohon Xiomara, Robert lebih suka membawaku ke pohon biasa.


Robert meminta para pelayan untuk memasang tikar yang akan digunakan oleh kami berdua.Sepertinya Robert serius dengan perkataannya yang akan menjagaku.


"Apakah kau mau kuceritakan sebuah kisah, Gerald?" tanya Robert sambil membuka bukunya.


Aku tidak bisa menjawab apapun, bagaimanapun juga aku hanyalah seorang bayi berumur 1 bulan lebih.Robert melihat kepadaku sambil tersenyum, kemudian dia mulai berkisah.


"Pada zaman dahulu, ada perang besar yang dikenal sebagai perang 2 dunia.Perang ini melibatkan para Roh , iblis, serta manusia.Masing-masing kubu tidak pernah berhenti saling serang", ujar Robert yang mulai berkisah.


"Sampai suatu hari, kaum manusia datang kepada para Roh untuk meminta persetujuan aliansi.Awalnya para Roh banyak yang menolak aliansi tersebut, karena menilai bahwa kaum manusia terlalu lemah", lanjut Robert dengan wajahnya yang terlihat serius.


"Pertemuan antara para Roh pun dilakukan, pertemuan yang memakan waktu 5 hari itu berlangsung dengan sangat panas, para Roh terbagi menjadi 2 pihak, yaitu pihak pendukung aliansi dan pihak penolak aliansi", lanjut Robert.


"Sampai akhirnya datanglah 10 Roh agung yang menengahi semuanya, mereka datang dengan keputusan bahwa para Roh bisa memberi kekuatan mereka pada manusia tetapi manusia yang harus bertarung melawan para iblis", lanjut Robert.


"Para Roh agung itu memiliki nama, Roh agung cahaya bernama Ellen, Roh agung Peperangan bernama Einar, Roh agung tanah bernama Affandra, Roh agung api bernama Phoenix, Roh agung badai bernama Corentin, Roh agung air bernama Aqua, Roh agung petir bernama Cerano, Roh agung langit bernama Ozora, dan Roh agung kedamaian bernama Annette", ujar Robert sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Dan ada satu Roh agung lagi bernama Shadow, dia adalah Roh agung penguasa kegelapan", lanjut Robert.


Ini semakin menarik, yang kutahu saat aku berada di kuil suci aku hanya melihat 9 Roh agung walaupun tersedia 10 kursi disana.Kualihkan pandanganku pada Robert yang masih asyik bercerita.


"Pada akhirnya semua Roh setuju dengan keputusan 10 Roh agung tersebut, mereka memberikan kekuatan mereka pada manusia sehingga manusia bisa berperang menggantikan mereka", lanjut Robert.


"Setelah itu para manusia segera berperang melawan para iblis menggantikan para Roh yang telah memberi mereka kekuatan, karena para Roh terkesan dengan para manusia yang mahir menggunakan kekuatan Roh, para Roh pun memutuskan untuk memberikan kekuatannya pada manusia untuk selamanya", lanjut Robert sambil memandang ke arahku.


"Kemudian pada suatu hari terjadi keributan antara 9 Roh agung dengan Roh agung kegelapan, Roh agung kegelapan tidak bisa menemukan manusia yang mampu menahan kekuatannya walaupun hanya sedikit, sehingga mengakibatkan manusia yang diberikan kekuatan akan mengalami kematian yang mengerikan", lanjut Robert yang kembali fokus melihat ke arah buku.


"Karena banyaknya manusia yang mati mengerikan, Roh agung kegelapan akhirnya dijuluki sebagai dewa kematian oleh para manusia, pernyataan itu membuatnya murka dan membuang gelarnya sebagai Roh agung", ujar Robert tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sedikitpun.


"Hingga sampai saat ini, keberadaan Roh agung kegelapan tidak pernah diketahui keberadaannya", lanjut Robert sambil menutup bukunya itu.


Cerita itu sangat menarik.Aku akhirnya paham kenapa hanya ada 9 Roh agung padahal terdapat 10 kursi di kuil suci.


Kualihkan pandanganku pada wajah Robert yang saat ini terlihat tersenyum padaku.Kurasa ia merasa sangat senang karena bisa menghabiskan waktu denganku.


"Bagaimana jika kita melakukan ini lagi lain waktu?" tanya Robert padaku.


Jelas sekali aku ingin melakukan ini lagi, tetapi aku hanya bisa menatap wajah Robert.Robert tersenyum sambil mengelus kepalaku.


"Kuanggap itu sebagai setuju", ujar Robert sambil mencium kening ku.


"Robert, Gerald kemarilah sudah waktunya untuk makan siang", panggil ibu dari kejauhan.


Robert langsung bangun dan menggendongku.Wajahnya yang kini terlihat lebih cerah daripada kemarin malam.


"Baiklah ibu! kami akan segera ke sana", jawab Robert sambil berjalan menggendongku.


"Lain kali kalau kau sudah besar, kita bermain bersama lagi ya Gerald?" ujar Robert sambil tersenyum lebar.


Aku hanya bisa diam melihat wajahnya yang terlihat ceria.

__ADS_1


Aku akan sangat menantikan hari itu.


Bersambung...


__ADS_2