
Cuaca di ibukota berubah dengan cepat.Cuaca yang sebelumnya cerah dan terik, berubah menjadi gelap dan dingin.Petir terus menyambar di sekitar ibukota, memaksa warga untuk berlindung di rumah masing-masing.
Aku menatap Lilia yang hanya berdiri menatap ayah dan ibu yang tergantung.Kedua matanya tidak berkedip melihat mereka.Perlahan air mata menetes dari kedua matanya yang telah berubah warna.
Ini buruk.Lilia bisa lepas kendali atas kekuatannya.Ia bisa saja membunuh rakyat yang tidak bersalah akibat kekuatannya.
Tiba-tiba saja sesuatu seperti kerikil menghantam kepalaku.Aku menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari seseorang yang melemparnya kepadaku.Tetapi aku salah.
Itu bukanlah kerikil.Itu adalah sebuah es kecil yang jatuh langsung dari langit.Aku menatap Robert yang hanya terdiam menatap tiang gantungan.Lapisan es tipis muncul dari kedua tangannya, menandakan ia akan hilang kendali.
"Kak! kumohon sadarlah!" sahutku sembari menggoyangkan Lilia.
Bagaimanapun juga, Lilia adalah orang yang harus ku sadarkan terlebih dahulu.Emosi yang ada pada dirinya bisa membuat ia menjadi seorang pembunuh sepertiku.
Lilia tetap bergeming menatap tiang gantungan.Petir kembali menyambar istana kerajaan.Aku menatap langit yang sudah dipenuhi oleh awan gelap.
Aku ketakutan.Seluruh tubuhku bergetar hebat.Para warga memutuskan lari meninggalkan alun-alun untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Lilia dan Robert telah membuat sebuah badai.Badai yang siap menghancurkan kota dalam sekejap mata.
"Kak! aku mohon! berhentilah kak!" jeritku sembari menarik tubuh mereka berdua.
__ADS_1
"Ayah dan ibu tidak akan pernah menginginkan ini kak! aku mohon!" lanjut ku.
Hujan menutupi air mata yang mengalir deras dari kedua mataku.Angin kencang bertiup seperti akan merobohkan bangunan disekitar kami.
Tetapi perlahan angin kencang itu hilang.Petir-petir sudah tidak menyambar seperti sebelumnya.
"Maafkan aku Gerald, sungguh maafkan aku", ujar Lilia yang sudah tersadar.
Dari kedua matanya, mengalir air mata kesedihan.Meskipun hujan menutupi air mata kami, tetapi kami bisa melihat raut wajah kesedihan satu sama lain.
"Berdirilah kalian berdua", ucap Robert.
"Ibu sudah bilang pada kita hiduplah dengan bahagia, apakah kalian tidak akan menjalankan permintaan terakhir dari ibu?" tanya Robert.
Aku dan Lilia terdiam.Robert tidak sepenuhnya salah, tetapi ia mengatakan hal tersebut sembari menangis.
Aku berdiri dari posisiku.Perlahan aku mendekati tiang gantungan.Wajah ayah dan ibu terlihat tersenyum di akhir hayatnya.Wajah mereka terlihat sangat damai meskipun sudah tidak bernyawa.
"Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan kalian", bisik ku di dekat mereka.
Hujan membasahi wajah dan rambut mereka.Air mengalir deras dari rambut panjang ibu.Luka-luka mereka tersamarkan oleh air hujan yang turun dari langit.Luka sayat dan luka lebam terlihat di sekujur tubuh mereka.
__ADS_1
Robert berdiri di sebelahku.Ia mengambil kalung dan gelang yang ada pada tubuh ayah dan ibu.Tubuhnya terlihat bergetar ketika ia menyentuh wajah ayah dan ibu.Robert kembali menangis dalam diam.
Menurut peraturan dari kerajaan, mayat dari orang yang dihukum gantung akan dibiarkan selama 3 hari.Hal ini akan menjadi sebuah pajangan dan peringatan bagi warga sekitar.
"Ambil ini Gerald", ujar Robert menyerahkan sebuah gelang hitam kecil kepadaku.
Aku menggenggam erat gelang tersebut.Ini adalah gelang yang biasa digunakan oleh ibu.Gelang ini adalah salah satu hal yang berharga dari ibu.Dan aku akan menyimpannya dengan baik.
"Baiklah, ayo pergi dari sini", ajak Robert beranjak meninggalkan tiang gantungan.
Lilia memeluk ayah dan ibu sebelum akhirnya pergi mengikuti Robert.Sedangkan aku masih terdiam di depan ayah dan ibu.
"Aku pamit ayah, ibu", bisik ku sembari menggenggam erat gelang milik ibu.
Aku beranjak pergi dari tiang gantungan.Dalam hujan, kami pergi meninggalkan tempat ini.Kupasang gelang milik ibu di tangan kananku.Kalung pemberian Erina ku gunakan di leherku.Dua benda ini akan menjadi benda paling berharga dalam hidupku.
Para warga tidak memperdulikan kami sama sekali.Membuat kami semakin mudah untuk pergi dari kota ini.Untuk terakhir kalinya aku menatap ayah dan ibu.Dan kami bertiga berbisik bersamaan.
"Selamat tinggal ayah, ibu".
Bersambung....
__ADS_1