Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Pesta ulang tahun


__ADS_3

"Sayang, apakah baju ini cocok dipakai oleh Gerald?" tanya ibuku yang sedang kebingungan memilih baju.


"Yang mana saja bagus sayang,ayo cepat pilih bajunya", jawab ayah yang terlihat buru-buru.


"Tapi yang ini juga bagus dan terlihat nyaman", ujar ibuku.Apakah sesulit itu memilih pakaian untuk bayi?


"Kalau begitu gunakan saja yang ini", ujar ayah sambil menunjuk baju berwarna merah.Pilihan ayah tidak terlalu buruk juga.Aku cukup menyukai desain bajunya.


" Kau benar, sekarang bantu aku menyiapkan Gerald untuk pesta", sahut ibuku sambil memakaikan baju kepada ku.


Hari ini adalah hari ulang tahun Lilia yang ke 5.Karena itulah ibu dan ayah repot-repot memilihkanku baju.Padahal aku tidak masalah menggunakan baju manapun.


"Ibu, ayah apa kalian sudah siap?" tanya Lilia yang tiba-tiba membuka pintu kamarku.Kulihat Robert juga mengikuti dari belakang.Lilia terlihat sangat anggun dengan gaunnya yang berwarna lavender.Sementara itu Robert terlihat sangat berwibawa dengan tuxedo hitamnya.


"Kami sudah siap Lilia, lihat Gerald juga sudah siap," jawab ibu sambil menggendongku.Lilia langsung berlari mendekatiku dengan mata berbinar-binar.


"Gerald! kamu terlihat sangat tampan!" ujar Lilia sambil mengelus kepalaku.


"Apa hanya Gerald saja yang dipuji?" tanya ayah seolah merasa tersaingi.


"Tidak kok, ayah juga terlihat tampan", jawab Lilia sambil tersenyum manis.


Kulihat Robert yang masih berada di pintu.Dia hanya tersenyum melihat ku tanpa sepatah kata pun.


"Robert, kemarilah", panggil ibuku.Sepertinya ibu tidak ingin Robert merasa sendirian.Robert berjalan mendekati aku dan ibu.Penampilannya sungguh membuatku terpana.Tuxedo hitam dan dasi kupu-kupunya membuat aura Robert terpancar.


" Kau tampan Gerald", puji Robert.Aku hanya terdiam, tidak menyangka Robert akan memujiku.


"Kau juga terlihat tampan Robert, Gerald pasti juga berpikir begitu", balas ibu seolah mengerti apa yang kupikirkan.Robert kembali tersenyum.Ia kemudian mengelus kepalaku dengan wajah tersenyum lebar.


"Kalau begitu mari kita turun, para tamu pasti sudah menunggu", ajak ayah sambil menggandeng tangan Robert dan Lilia.


Kami pun keluar dari kamar, dan bersiap untuk menikmati pesta yang terlihat akan sangat meriah ini.


...*****...


Mataku terbelalak melihat tamu yang datang ke pesta.Dari orang tua sampai anak-anak semuanya ada.Aku mulai berpikir bahwa sepertinya keluargaku ini cukup terpandang di kerajaan Heragon, mengingat jumlah tamu yang datang.


"Bagaimana kabarmu Albert?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di samping ayahku.

__ADS_1


"Arthur! kau ternyata datang ke pesta ini!", jawab ayahku.


"Tentu saja aku datang, Diana merengek padaku untuk ikut pada pesta ini", jawab Arthur sambil tertawa.


Sementara itu aku melihat seorang anak berambut cokelat di samping Arthur.Sepertinya itu adalah anaknya yang disebut tadi.Ia terlihat membawa kotak yang diikat dengan sebuah pita merah.


"Selamat ulang tahun Lilia", ujar Diana sambil menyerahkan kotak tersebut.


"Terimakasih Diana! ayo sini ikut denganku", sahut Lilia sambil menarik tangan Diana.


"Anak-anak semakin cepat tumbuh yaa", ucap seorang perempuan bergaun biru di dekat Arthur.


"Halo Rachel ternyata kau datang juga", sahut ibuku sambil kegirangan.Aku rasa Rachel dan ibuku berkawan dengan baik, mengingat suami dan anaknya berteman baik dengan keluargaku.


"Jadi ini si bungsu?" ujar Rachel sambil melihat ke arahku.


"Terlihat tampan seperti saudaranya ya", lanjut Rachel sambil tersenyum melihatku dan Robert.Kulihat wajah Robert yang masih terlihat dingin.Kurasa Robert tidak terlalu suka dengan keramaian.Lagipula aku yakin Robert akan merasa risih bila diperhatikan oleh banyak gadis seumurannya.


Pesta ini cukup meriah.Selain banyaknya tamu yang datang, aku juga melihat pelayan yang terlihat sangat sibuk.Mereka mondar-mandir sambil membawa piring, gelas, bahkan ada yang membawa troli berisi camilan untuk para tamu undangan.


"Halo Rachel, Elise, apa kabar kalian?"sahut seorang perempuan.Aku menoleh ke arah suara tersebut.Terlihat seorang perempuan bergaun kuning bersama dengan seorang lelaki berpakaian putih.Perut wanita itu terlihat buncit, apakah dia hamil?


"Halo Tiffany, kabarku sangat baik, aku tidak menduga kau akan datang ke pesta ini, bukankah kau sedang hamil?" ujar ibuku.Dugaanku benar, wanita bernama Tiffany ini sedang hamil tua.


"Bukankah bila sudah mau melahirkan kau harus banyak istirahat?" tanya Rachel.


"Terimakasih telah mengkhawatirkan ku Rachel, tapi aku sungguh baik-baik saja", jawab Tiffany sambil tersenyum.


"Hei Felix kemarilah kawan", panggil ayahku kepada lelaki di sebelah Tiffany.


"Aku pergi dulu ya sayang, bila kau butuh sesuatu segera minta seseorang memanggilku ya?" bisik lelaki yang bernama Felix itu pada Tiffany.


"Baiklah, jaga dirimu sayang, dan jangan terlalu mabuk ya", jawab Tiffany mengiyakan.


"Baiklah sayang, jangan terlalu kelelahan ya", balas Felix sambil mengecup kening Tiffany, dan langsung pergi bersama ayah dan Arthur.


"Berapa bulan umur kandungan mu Tiffany?" tanya ibuku pada Tiffany yang masih melambaikan tangan pada Felix.


"Sudah masuk 8 bulan", jawab Tiffany.

__ADS_1


"Wahh, kalau begitu semoga anakmu dan anakku bisa berteman baik ya", ujar ibuku sambil melihat kearahku.


"Wahh, jadi ini si bungsu?", ujar Tiffany sambil mendekatkan wajahnya padaku.


"Terlihat tampan bukan? sama seperti saudaranya", jawab Rachel.


Tiffany mengangguk mengiyakan, terlihat bahwa ia sangat setuju dengan Rachel.


Astaga! aku lupa bahwa Robert mengikuti pesta ini.Kualihkan pandanganku pada Robert.Ternyata ia masih saja berdiri mendengarkan percakapan disamping ibuku.Ini membuatku cukup kasihan padanya.


"Bagaimana kalau kita pindah ke balkon kamarku? pemandangannya terlihat bagus dari sana", ajak ibuku pada pada Rachel dan Tiffany.


"Baiklah aku setuju", jawab Rachel dan Tiffany bersamaan.


Kami pun berjalan keluar dari pesta ini menuju kamar ibuku.Kulihat Robert yang hanya diam tak berkata-kata pergi menuju ke kamarnya.Dia terlihat sangat tidak menikmati pesta ini, dan memilih untuk sendirian.


...*****...


Para ibu sedang berbicara di balkon kamar, sementara aku berada di kasur tidak melakukan apapun.Aku ingin cepat besar.Setidaknya agar hati-hariku tidak membosankan.Kulirik ke kiri dan ke kanan, tidak ada hal yang menarik.Ini sangat membosankan.


Tiba-tiba aku mendengar seseorang membuka pintu kamar.Terlihat sesosok anak kecil yang tak lain adalah Robert.Sepertinya tanpa Lilia ia menjadi anak yang sangat kesepian.Perlahan ia berjalan mendekatiku yang berada di kasur.


Robert duduk di sebelahku yang sedang berbaring.Ia melihat ke arahku dengan tatapannya yang dingin.


"Apakah menjadi bayi itu enak?" ucap Robert.


Ingin sekali aku berteriak kepada Robert.Menjadi bayi sangatlah membosankan.


"Apakah kau kesepian juga Gerald?" ujar Robert sambil mengelus kepalaku.


Jujur saja, dari tadi aku merasa sangat bosan dan kesepian.Kehadiran Robert setidaknya membuatku tidak merasa kesepian lagi.


"Cepatlah besar adikku, supaya kita bisa bermain dan berlarian bersama di luar", ucap Robert sambil memasang muka sedih.


Aku merasa kasihan pada Robert.Dia hanyalah anak kecil biasa yang menginginkan teman.Entah apa yang terjadi, sehingga membuatnya tidak mempunyai teman.Aku jadi semakin ingin cepat besar.Setidaknya supaya aku bisa menemani Robert bermain.


Robert mencium kening ku dan melangkah pergi dari kamar.Ia berbalik melihatku dan melambaikan tangannya dan menutup pintu kamar.


Setelah Robert keluar, aku kembali menatap langit-langit.Aku merenungkan apa yang Robert katakan tadi.

__ADS_1


Ahh aku jadi semakin ingin cepat besar...


Bersambung...


__ADS_2