Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Janji


__ADS_3

Semenjak hari itu, aku dan kedua saudaraku terus dihantui perasaan yang tidak nyaman.Diperlihatkannya sisi lain kerajaan ini oleh ayah, bukanlah tanpa alasan.Melainkan ayah berharap pada kami agar di masa depan nanti, kami bisa merubah nasib mereka.


Malam itu aku bermimpi buruk mengenai para Puddler.Bayang-bayang mengenai kakek tua yang diperlakukan secara kasar oleh Sentinel, membuatku terus memikirkannya.


"Gerald? Apa kau sedang sakit?" tanya Erina ketika kami berada di taman.


Aku tersadar dari lamunanku.Erina hanya melihatku dengan wajah cemas, mengira bahwa aku sedang sakit atau semacamnya.


"Ah, tidak apa-apa.Aku baik-baik saja kok", jawabku.


"Kau yakin?" tanya Erina yang masih saja terlihat khawatir.


"Ya, aku yakin, aku baik-baik saja Erina", ujarku.


Jujur saja, aku merasa cukup tidak enak badan hari ini.Semenjak ayah mengajak kami melihat para Puddler, Robert, Lilia, dan aku kehilangan nafsu makan kami.Seperti merasa bersalah karena hidup mewah tanpa mengetahui sisi dimana orang lain hidup sengsara.


"Tapi ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan disini?", tanyaku pada Erina.


Erina seketika mengerucutkan bibirnya.Kedua tangannya mengepal. Wajahnya kali ini terlihat kesal.


"Kau kan sudah berjanji padaku bahwa kau ingin bermain di taman bersamaku", jawab Erina.


Aku terdiam.Astaga, aku yang mengajaknya kemari dan aku melupakannya?


Aku bangkit dari posisi tidurku dan mulai duduk disebelah Erina.Angin sejuk musim panas bertiup dengan tenang di halaman rumahku.Waktu yang tepat untuk bersantai dan tidur siang.


Hanya saja aku sudah mengajak Erina kemari.Aku akan menjadi seseorang yang jahat bila mengabaikannya.


"Kalau begitu Gerald, aku ingin bertanya padamu", ucap Erina memulai percakapan.


Aku mengangguk mengiyakan.Erina hari ini terlihat lebih santai dibandingkan hari-hari biasanya.Ia memakai pakaian lengan panjang dan rok yang membuatnya terlihat tetap anggun.Rambut panjang pirangnya berkibar tertiup oleh angin.


"Saat kita sudah besar nanti, apa kita masih bisa bersama seperti ini?" tanya Erina sembari menatap awan yang bergerak perlahan.


Aku menatap wajahnya.Erina terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.Aku tersenyum tipis padanya.


"Tentu saja kita masih bisa seperti ini", jawabku sembari mengelus pelan kepala Erina.


"He-hentikan itu", ujar Erina berusaha menepis tanganku.

__ADS_1


Wajahnya terlihat sangat merah merona.Mungkin ia mulai kepanasan akibat kondisi cuaca di musim panas ini.Tentu saja aku bercanda, aku bukanlah orang yang tidak peka dengan kondisi ini.


Aku tertawa lebar melihatnya.Erina terlihat sangat imut bila wajahnya sedang tersipu.Rasanya aku ingin mencubit pipinya.


"Kau ingin menjadi apa bila sudah besar Erina?"


Erina mengalihkan pandangannya padaku.Kedua mata kami saling bertatapan.Sinar matahari terlihat menembus daun-daun di pohon dekat kami.


"Emm, mungkin aku ingin menjadi orang yang bisa diandalkan.Aku juga ingin bisa memberikan kebahagiaan bagi orang di sekitarku", jawab Erina dengan senyuman hangatnya.


Aku terdiam.Impian Erina terdengar sangat baik.Sangat cocok dengan sifatnya yang lembut.Meskipun terdengar cukup dangkal, tetapi aku yakin ia bisa mewujudkan impiannya itu.


"Lalu bagaimana denganmu Gerald?" ujar Erina balik bertanya padaku.


"Bagaimana denganku? Entahlah, aku sama sekali belum memikirkannya", kataku." Mungkin menjadi seorang petualang atau semacamnya"


Keheningan tiba-tiba menguasai keadaan.Masing-masing dari kami tidak ada yang berbicara.Pembicaraan ini mulai terlihat buntu.


"Ah, aku tahu!" seru Erina yang mendadak berdiri.


"Astaga kau membuat jantungku terasa berhenti sementara", ujar ku sembari mengelus dada.


"Bagaimana kalau kita berdua membuat janji? Janji yang akan kita pegang sampai kita sudah besar nanti?" sahut Erina yang mendekat kepadaku.


Tangan kanannya terlihat merogoh sesuatu dari balik sakunya.Ia mengeluarkan 2 buah liontin dari saku bajunya.


"Pegang ini dan ikut denganku Gerald", ajak Erina sembari menarik tangan kananku.


Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang.Ia membawaku menuju pohon bunga Xiomara.Bunga-bunga dari pohon ini terlihat seolah bersinar.Pohon ini adalah tempat favoritku dan Lilia, dan sepertinya Lilia memberitahu Erina perihal keberadaan pohon ini di taman rumah kami.


"Kemari Gerald!", seru Erina menarik ku menuju pohon itu.


Erina membungkukkan badannya, seperti sedang mencari sesuatu.Aku memutuskan untuk mengikutinya.


"Apa yang kita cari Erina?" tanyaku.


"Kelopak bunga yang berwarna putih Gerald", jawab Erina.


Apa yang dia bicarakan? Sudah jelas bahwa seluruh bunga di pohon ini berwarna merah muda.Sama sekali tidak ada yang berwarna putih.

__ADS_1


"Apa yang kau maksud kelopak berwarna merah muda?" tanyaku untuk memastikan bahwa Erina tidak bercanda.


"Tidak Gerald, memangnya kau tidak pernah membaca buku?", balas Erina tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


Ahh, anak ini benar-benar meremehkan ku.Andai saja ia melihat berapa banyak buku yang sudah ku baca di dunia ini.


"Aku pernah membaca tentang pohon ini Erina, Pohon ini hanya menumbuhkan bunga berwarna merah muda.Yang berarti mustahil untuk pohon ini menghasilkan bunga dengan warna yang berbeda.Lagipula pohon ini adalah pohon yang cukup langka, dan para ahli juga menggambarkan bahwa pohon ini hanya menghasilkan bunga berwarna merah muda", jelas ku dengan bangga pada Erina.


"Ohh begitu, kalau begitu ini untukmu.Aku berhasil menemukannya", balas Erina.


Eh? Apa dia bilang?


Aku segera menatap Erina.Kedua tangannya terlihat memegang 2 kelopak bunga berwarna putih terang.


Aku hanya terdiam.Bisa-bisanya aku terlihat bodoh di hadapan anak seperti Erina.Padahal dari semua buku yang ku baca, pohon ini sama sekali tidak pernah menghasilkan bunga berwarna putih.


"Ta-tapi darimana kau tahu?", tanyaku penasaran pada Erina.


"Sebuah buku"


"Buku apa yang kau baca?"


"101 cerita pengantar tidur", jawab Erina dengan polosnya.


Kali ini aku benar-benar terdiam.Rasanya aku akan menangis.


"Ambil kelopak bunga ini Gerald, lalu masukan ke dalam liontin mu", ujar Erina menyerahkan kelopak bunga putih pohon Xiomara.


Aku mengambil kelopak bunga itu dari tangan Erina.Kutekan bagian tengah liontin itu sehingga liontin itu membuka.Cukup untuk menyimpan sebuah benda kecil seperti kelopak bunga yang ku pegang.


"Apa kau mau berjanji padaku?" tanya Erina.


Aku hanya mengangguk, mengiyakan apa yang Erina ingin lakukan.


Erina menyodorkan jari kelingkingnya.Siap untuk membuat janji padaku.Aku ikut menyodorkan jari kelingking ku, sehingga jari kami berdua saling bertaut.


"Kita berjanji bahwa sampai kita besar nanti, kita tidak akan melupakan satu sama lain.Kita juga harus tetap bersama saat kita besar nanti", ucap Erina.


Kami berdua tersenyum.Dengan jari yang bertaut, kami membuat sebuah janji.Sebuah janji yang akan tetap ada sampai kami besar nanti.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2