Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Sihir Lilia


__ADS_3

Pada hari Robert mengamuk, kami tidak membicarakan apa-apa mengenai 7 elit akademi.Kurasa ayah dan ibu tidak mau membuat perasaan Robert terluka.Pembicaraan mengenai ayah dan ibu yang mantan 7 elit akademi juga ditunda.


"Maafkan Lilia kak, Lilia merasa sangat bersalah", ujar Lilia sambil terisak di hadapan Robert.


Robert tersenyum dan segera memeluk Lilia.


"Kakak lah yang harus minta maaf padamu Lilia, akulah yang bersalah karena membuatmu menangis ketakutan, aku sungguh minta maaf" jawab Robert sambil memeluk Lilia dengan erat.


Sementara itu aku hanya melihat mereka sambil memegang sebuah buku.Aku sudah mulai bisa membaca huruf di dunia ini.Aku sangat berterimakasih pada Robert dan ibu yang telah membantuku belajar huruf di dunia ini.


Tiba-tiba Robert berdiri di hadapanku.Wajahnya terlihat seperti sangat menyesal.Ia membungkuk dan memelukku sama seperti Lilia.


"Maafkan kakakmu ini Gerald, aku sungguh minta maaf", ujar Robert sambil terisak.


Aku membalas pelukan Robert sambil menepuk pelan kepala Robert.Anak ini sungguh menyedihkan.Bahkan kami tidak mengetahui apa yang dialami oleh Robert di akademi.


Robert melepas pelukannya dariku dan tersenyum.Kali ini tidak ada aura menekan dari senyuman tersebut.Lebih ke senyuman hangat yang biasa ia tampilkan pada kami.


"Bagaimana bila kakak dan Gerald melihat latihan sihir ku?" ajak Lilia sambil memeluk lengan Robert.


Aku dan Robert saling menatap satu sama lain.Sementara itu Lilia hanya tersenyum menunggu keputusan kami berdua.


Aku mengangguk pada Robert.Robert menghela nafas dan akhirnya menyetujui ajakan Lilia.


Lilia tersenyum dan segera menarik ku dan Robert keluar kamar.Entah kemana Lilia akan membawa kami pergi, tetapi kurasa itu tidak akan buruk.


...****************...


Lilia membawa kami ke sebuah area latihan sihir.Tempat ini diselubungi oleh medan pelindung, sehingga bisa mencegah sihir yang tidak terkendali.


"Kakak dan Gerald lihat dari sana ya!" teriak Lilia di tengah arena kepada kami yang duduk di tribun penonton.

__ADS_1


"Sepertinya ini akan menarik ya Gerald", ujar Robert sambil tersenyum tipis.


Kurasa Robert juga penasaran dengan sihir Lilia.Begitu pula denganku.


Seingatku, saat serangan Undead di taman rumah, Lilia mengeluarkan sihir bertipe petir.Itu cukup mengejutkan, mengingat ia mengeluarkan sihir itu secara spontan.


"Lihat baik-baik ya kak!" ujar Lilia sambil melambaikan tangannya.


Dibelakang Lilia terdapat seseorang yang sedang mengawasi Lilia.Kurasa itu adalah instruktur sihir Lilia.


Lilia mengulurkan tangannya ke depan, mengarah pada suatu boneka yang akan menjadi target serangan sihir Lilia.Mulut Lilia terlihat bergerak seperti mengucapkan sesuatu.


Tiba-tiba dari tangan Lilia keluar sebuah petir berwarna kuning yang dengan cepat menyambar target.


Ledakannya terdengar sangat menggelegar.Bahkan menggetarkan kursi para penonton.


Wajah Gerald terlihat terkejut.Matanya terbuka dengan lebar dengan mulutnya yang menganga.


"Aku tidak menyangka itu sama sekali", ujar Robert sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


Sementara itu Lilia terlihat cukup berkeringat.Mungkin Lilia terlalu banyak mengeluarkan energi untuk satu serangan sihir.Stamina Lilia masih belum cukup kuat untuk melakukan serangan sihir kedua.


"Kakak! Gerald! apa kalian melihatnya?" teriak Lilia sambil melambaikan tangannya pada kami.


"Ya! kami melihatnya!" balas Lilia sambil mengacungkan jempolnya pada Lilia.


Itu sangat mengesankan.Robert dan Lilia memiliki sihir yang sangat kuat dan keren.Robert menguasai sihir es, sesuai dengan sifat dia yang dingin.


Sementara itu Lilia adalah penguasa sihir petir.Meskipun staminanya masih terbatas, ia sanggup mengeluarkan satu serangan yang cukup dahsyat.


Kami turun dari tribun, menuju ke area Lilia beristirahat.Instruktur Lilia terlihat memberi Lilia sebuah handuk untuk mengelap keringatnya yang bercucuran.

__ADS_1


"Tadi itu sangat keren Lilia!" ujar Robert sambil mengacungkan jempol pada Lilia.


Lilia hanya tersenyum.Kelihatannya ia cukup lelah setelah melakukan serangan besar tersebut.


"Nona Adelio, kenapa anda tidak melakukan seperti apa yang saya sarankan?" ujar pelatih Lilia sambil menepuk keningnya.


"Hehe 'maafkan aku, aku terlalu bersemangat menunjukan kemampuanku pada kedua saudaraku.Maafkan aku ya Eri" jawab Lilia dengan wajah tanpa dosanya kepada instruktur bernama Eri.


Eri hanya menghela nafasnya.Ia memberikan sebotol minuman untuk Lilia minum.


"Kalau begitu, latihan hari ini cukup sampai disini saja.Minggu depan pastikan anda melakukannya sesuai instruksi dari saya", ujar Eri pamit dari area latihan.


"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf ya Eri!" jawab Lilia sambil melambaikan tangannya pada Eri.


Eri membalas lambaian Lilia dengan tersenyum dan keluar dari area latihan.


Setelah Eri pergi, Lilia mengemas kembali barang-barang yang ia bawa.Aku dan Robert memperhatikan wajah Lilia yang kini terlihat cukup serius.Kurasa ia memikirkan ucapan Eri tadi.


Robert mendekati Lilia yang sedang mengemas barangnya.Robert menepuk punggung Lilia dengan pelan.


Lilia mengalihkan pandangannya pada Robert.Robert hanya tersenyum kemudian mengelus kepala Lilia sambil tersenyum.


"Itu tadi sangat hebat Lilia" ujar Robert menyemangati Lilia.


Lilia terlihat lebih bersemangat setelah disemangati oleh Robert.Wajahnya kini terlihat lebih cerah.


"Bagaimana kalau kita pergi membeli kue di kedai dekat sini sebelum pulang ke rumah?" ajak Lilia sambil memandangku dan Robert.


Aku dengan cepat mengangguk.Sudah cukup lama aku tidak merasakan kue kedai tersebut.Rasa kue kejunya memiliki rasa yang sangat khas dan sangat menggoda selera.


Robert juga terlihat menyetujui ajakan Lilia.Kami meninggalkan area latihan ini bersama.Sementara itu kulihat boneka yang hancur akibat serangan sihir Lilia.

__ADS_1


Itulah hasil kekuatan kakak perempuanku yang bernama Lilia.Gadis muda dengan kekuatan petir yang dahsyat.


Bersambung...


__ADS_2