Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Acara makan malam


__ADS_3

"Sayang! apa kalian semua baik-baik saja?" teriak ibuku dengan panik saat memasuki kamarku.


Kabar Undead yang muncul di taman rumah kami, menyebar cepat ke seluruh penjuru ibukota.Sepertinya kemunculan Undead yang ada di taman rumah kami dianggap sangat tidak wajar.


Karena itu ibu dan ayah langsung pergi menuju rumah untuk memastikan kami baik-baik saja.


"Kami semua baik-baik saja bu, kak Robert tadi melindungi aku dan Gerald", jawab Lilia sambil memeluk ibu.


"Kau hebat Robert, ayah dan ibu sangat bangga padamu", ujar Ayah sambil memeluk Robert.


Robert hanya terdiam dengan wajahnya yang memerah.Sepertinya dia itu cukup pemalu.


"Oh Gerald, kau baik-baik saja kan sayang?" tanya ibu sambil mulai memelukku.


Sebagai respon aku mengangguk sambil tersenyum kepada ibu.


"Kau hebat Gerald, kau tidak menangis kan?" ibu mulai bertanya lagi.


"Gerald sangat hebat bu! Gerald tidak menangis sama sekali saat Lilia jaga", jawab Lilia sambil bersemangat melihat kearah ku.


"Oh sayang, ibu sangat khawatir pada kalian", ujar ibu sambil memeluk kami bertiga.


Sementara itu ayah segera pergi keluar dari kamar menuju taman.Kulihat ayah berbicara pada pengawalnya yang sedang mengurus Undead tersebut.


Walaupun kejadian tadi begitu mengerikan, tetapi itu juga sangat keren.Aku sangat takjub pada Robert dan Lilia yang menggunakan kekuatannya untuk melindungi satu sama lain.


"Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja", ucap Ibu sambil memandangi kami bertiga.


"Bagaimana bila kalian ikut ibu pergi ke pusat kota?" tanya ibu sambil mengelus kepala kami bertiga.


Lilia dan Robert saling melihat satu sama lain.Kelihatannya mereka tidak akan menolak ajakan dari ibu.


Sesaat setelah itu, mereka mengangguk dengan cepat.Aku pun ikut mengangguk, karena ini adalah kesempatan untukku mengenal dunia ini lebih jauh.


"Baiklah kalau begitu, segera bersiap-siap ya", sahut ibu sambil tersenyum.


Robert dan Lilia langsung berlari dari kamarku.Kelihatannya mereka tidak sabar untuk segera pergi keluar.Sementara itu, aku digendong oleh ibu untuk bersiap-siap pergi ke pusat kota.


...*****...

__ADS_1


Pusat kota terlihat sangat hidup di malam hari.Lampu-lampu di jalan terlihat bersinar sangat terang.Warga juga terlihat berjalan dengan teratur di tempat yang disediakan.


Selain itu kereta kuda juga terlihat bergerak secara teratur.Kota ini sangatlah indah, sehingga aku tidak bisa diam sama sekali di perjalanan.


Kami pergi menuju restoran kelas atas di pusat kota.Entah apa nama dari restoran itu, karena aku belum bisa mengerti huruf di dunia ini.


"Apakah anda nona Elise Adelio?" tanya seorang pelayan restoran sesaat setelah kami memasuki restoran tersebut.


"Ya, aku ada janji disini", jawab ibuku.


"Baik, sebelah sini nona", ujar pelayan itu sambil mengarahkan kami menuju ke lantai 2.Lilia tidak hentinya menarik lengan Robert sambil menunjuk ke segala arah.


"Lihat itu kak! lukisan itu seperti sedang melihat kita!" teriak Lilia sambil menarik Robert.


"Iya Lilia kakak lihat, dan rendahkan suaramu, ini di tempat umum", jawab Robert sambil melirik ke arah Lilia.


Kami menaiki tangga untuk menuju lantai 2.Sepertinya ibu sudah ada janji dengan orang disini.


"Hei Elise, kemarilah", sahut seorang perempuan yang ternyata adalah Rachel.


Ibu langsung menuju meja tempat Rachel berada.Sedangkan Lilia dan Robert disapa oleh Diana yang menyambut mereka dan menarik mereka menuju tempat bermain anak-anak.


"Apakah Tiffany sudah datang?" tanya ibuku pada Rachel.


Tidak perlu waktu lama, Tiffany tiba-tiba datang sambil membawa seseorang.Orang itu adalah Erina.Erina terlihat memakai baju berwarna kuning sama seperti ibunya, terlihat sangat serasi.


"Kudengar anak-anakmu di serang oleh Undead, benarkah itu Elise?" tanya Tiffany setelah mendudukkan Erina di sebelahku.


"Itu benar, tetapi aku bersyukur tidak ada yang terluka sama sekali", jawab ibu sambil tersenyum tipis.


"Anak-anakmu hebat sekali Elise! entah mengapa aku juga ikut bangga mendengar anak-anakmu yang berhasil menghadapi Undead itu" sahut Rachel menyemangati ibu.


Ku lirik Erina yang hanya diam memegang boneka nya.Kurasa anak ini tidak pernah melepas bonekanya sama sekali.


Tiba-tiba saja Erina melihat kearah ku.Aku terkejut dan segera mengalihkan pandanganku ke arah jendela.Entah mengapa aku selalu tidak sanggup ditatap dalam waktu yang lama oleh Erina.


"Buuu", ujar Erina sambil memegang tanganku.


Kulihat wajahnya yang hanya tersenyum sambil memegang tanganku.Setiap kali aku melepaskan pegangan Erina, ia kembali menarik tanganku.

__ADS_1


"Awww mereka imut sekali", sahut Rachel yang melihat kami berdua.


Erina hanya tersenyum sedangkan aku terlihat seperti orang yang panik.


"Sepertinya mereka benar-benar akan berteman sampai dewasa nanti", ujar ibuku.


Erina membuatku terlihat seperti orang yang panik.Kuraih gelas berisi air didekatku untuk ku minum.


"Bagaimana bila suatu saat nanti mereka jadi pasangan?" sahut Rachel sambil melihat kearah ku.


Aku menyemburkan air yang berada di mulutku.Aku sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Rachel, sementara itu Rachel hanya tertawa melihatku yang basah oleh air.


Ibu langsung mengelap air yang berada di mulutku.Kulihat wajah ibu yang hanya tersenyum melihat kelakuanku dan Erina.


Rachel sangat menyebalkan, ia hanya tertawa tanpa ada rasa bersalah sama sekali.Sedangkan aku basah kuyup oleh air.


Ku alihkan pandanganku ke arah Erina.Sepertinya ia juga terkejut denganku.Wajahnya terlihat seperti akan menangis.


Tentu saja aku sangat tidak ingin melihatnya menangis, apalagi ini adalah akibat ulahku.Aku mendekati Erina yang hampir menangis dan menaruh tanganku dikepalanya.


Erina melihat ke arahku.Dugaanku benar, ada sedikit air mata yang keluar dari mata birunya.


Aku mengelus kepala Erina untuk menenangkannya, seperti yang dilakukan ibu kepadaku.Erina melihat ke arahku, wajahnya sekarang terlihat tersenyum tipis dengan sedikit air mata di kelopak matanya.


"Oh, sekarang mereka benar-benar terlihat sangat imut", ujar Tiffany.Padahal tadi aku mengira Rachel yang akan bicara begitu.


Beruntung pelayan datang ke meja kami sambil membawa makanan yang dipesan.


Erina memakan pasta yang ia pesan dengan cukup lahap.Cukup mengesankan melihatnya makan tanpa ada makanan yang jatuh sama sekali.


Aku mengunyah roti daging yang dipesankan oleh ibu.Rasa roti ini membuatku ingin memesan lebih banyak lagi.Daging di dalam roti ini tidak sedikit dan kaya akan rasa.


Sementara itu Robert, Lilia, dan Diana terlihat makan malam bersama di meja yang berbeda.Melihat mereka tertawa bersama terkadang membuatku cukup iri.


Tiba-tiba sebuah tangan mungil mendarat di kepalaku.Erina yang tadi hampir menangis karena ku, sekarang memperlihatkan senyum manisnya sambil mengelus kepalaku.


Aku terdiam melihatnya.Anak ini seperti mengetahui apa yang kupikirkan di dalam pikiranku.


Erina menurunkan tangannya dari kepala ku dan kembali tersenyum melihatku.Aku kembali terdiam dengan apa yang dilakukan Erina.

__ADS_1


Sepertinya makan malam ini tidak akan dilupakan oleh para ibu, yang sedang asik melihat kami berdua.


Bersambung...


__ADS_2