Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Air mata


__ADS_3

"Bukankah kita akan pergi sekarang?" tanya Lilia sembari memakai jubah yang baru saja kami curi.


"Aku tidak akan pergi begitu saja, aku akan berusaha menyelamatkan ayah dan ibu", jawabku.


Robert dan Lilia hanya terdiam.Aku tahu yang aku katakan adalah sesuatu yang mustahil.Tetapi aku akan tetap menyelamatkan kedua orang tuaku walaupun aku harus meregang nyawa.


"Gerald, tolong pikirkan baik-baik.Ibu dan ayah juga sudah pasti tidak ingin melihat kita terluka", bujuk Robert.


Aku menghela nafas.Kutatap wajah Lilia dan Robert yang tidak setuju denganku.


"Kita harus mencobanya kak!" jawabku.


"Dengan mengorbankan dirimu sendiri? Tentu tidak Gerald!" balas Robert.


Tatapan Robert sungguh terlihat menusuk.Hawa di sekitar kami mendadak menjadi sangat dingin.Lilia menatap kami berdua dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Aku tahu yang ku bicarakan hanyalah omong kosong, tetapi setidaknya..."


Robert dan Lilia menatapku dalam diam.Emosiku bercampur aduk.Rasa kesal dan sedih bercampur menjadi perasaan yang sangat menyiksa.


"Setidaknya biarkanlah aku melihat mereka untuk terakhir kalinya", lanjut ku.


Air mata membasahi wajahku.Aku tidak ingin orang terdekatku meninggalkan dunia secepat ini.Yang mereka lakukan padaku belum sempat ku balas.Aku hanya ingin mereka tetap bersama denganku.


"Baiklah, kita bisa pergi ke sana.Tapi sebelum itu makanlah terlebih dahulu", jawab Robert dengan tangannya yang menyodorkan sebuah roti.


Aku berdiri dari posisiku.Cuaca hari ini terasa sangat terik.Dari kejauhan, ku perhatikan rumah kami.Api yang semalam melahap habis rumah kami sudah padam di pagi ini.Dan rumah tempat kami tinggal sudah terlihat seperti reruntuhan.


"Rasanya aneh bukan?" tanya Lilia tiba-tiba duduk di sebelahku.


Aku menoleh kepada Lilia.Wajahnya masih terlihat suram, tidak seperti biasanya.Pribadinya yang aktif dan periang berubah menjadi pribadi yang terlihat suram dan kelam.


"Kemarin hari terasa baik-baik saja, tidak pernah terbayangkan kita akan mengalami hal seperti ini bukan?" ujar Lilia.


Lilia adalah orang yang pandai menyembunyikan perasaannya sendiri.Aku dan Robert tidak pernah bisa mengerti apa yang Lilia rasakan.Tetapi terkadang aku merasa kasihan melihat Lilia.Pribadinya yang periang terlihat seperti menyembunyikan pribadinya yang suram.Dan kejadian kemarin malam telah mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


"Hahh, aku merindukan masa lalu", lanjut Lilia.


Aku tidak bisa berkata apapun.Lilia hanya tersenyum tipis.Ia tidak memakan rotinya sama sekali.


"Kau tahu Gerald? sejak kecil kau adalah anak yang pendiam", ucap Lilia.


Angin bertiup kencang di atas menara ini, menerpa rambut panjang Lilia.Meskipun bajunya terlihat kotor, Lilia masih terlihat cantik.


"Kau anak yang cukup pendiam, lebih memilih untuk tidak banyak bicara.Tetapi aku tidak menyangka bahwa kepribadianmu cukup dewasa", lanjut Lilia.


"Dia benar Gerald", ujar Robert yang tiba-tiba duduk di sebelahku.


"Kepribadianmu yang tidak panik disaat genting, sangat berguna untukmu", lanjut Robert menepuk punggung ku.


"Kita percaya Gerald, kekuatanmu suatu saat nanti akan digunakan untuk mewujudkan keadilan", sela Lilia.


Robert dan Lilia tersenyum menatapku.Aku merasa air mataku akan keluar.


Robert dan Lilia sengaja menyembunyikan perasaan sedih mereka karena ku.Mereka tidak ingin terlihat lemah di hadapanku.


Aku berjanji kepada Lilia dan Robert.Seperti aku berjanji kepada ayah dan ibu.Kekuatanku akan ku gunakan untuk keadilan.Kekuatanku akan ku gunakan untuk senyuman semua orang.Itulah janjiku kepada keluargaku.


...****************...


Kami berjalan berdesakan menuju alun-alun ibukota.Orang-orang berjalan dengan tatapan marah dan benci.Robert memegang erat tanganku dan Lilia.Dari kejauhan, kulihat para bangsawan duduk dengan tatapan benci.


Kata-kata kasar dan umpatan keluar dari mulut mereka.Tubuhku terasa sangat panas dan ingin meledakkan amarahku.Tetapi Robert menatap wajah kami dan seperti mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Hadirin, warga Kerajaan Heragon yang kami hormati.Kami ucapkan selamat datang", sapa seseorang menggunakan pengeras suara.


Wajah kami terlihat di dekat sana.Bertuliskan bahwa kami adalah buronan yang paling dicari.


"Dalam waktu beberapa menit lagi, kami akan mengeksekusi mati 2 tahanan bernama Albert Adelio dan Elise Adelio. Dengan kejahatan berupa pengkhianatan dan pembunuhan aparat keamanan", lanjut orang itu.


"Tetap diam dan jangan melakukan apapun", bisik Robert mengingatkan kami.

__ADS_1


"Dan kami mengingatkan kepada hadirin semua, bahwa kami membutuhkan laporan kalian bila kalian melihat orang-orang ini", ucap orang itu menunjuk gambar aku, Robert, dan Lilia.


Aku menaikan kain yang kupakai untuk menutup wajahku.Begitu pula dengan Robert dan Lilia.Kami berada di tengah kawanan singa.Apabila identitas kami diketahui, maka kematian kami sudah pasti.


"Dan perlu kalian perlu berhati-hati dengan mereka, Gerald Adelio adalah anak yang harus kalian waspadai.Ia telah membunuh 5 petugas Sentinel dan 20 pria dewasa dengan sihir kegelapan nya", lanjut orang itu.


Robert meremas tanganku, memastikan aku tidak meledakkan emosiku disini.


"Kalau begitu, mari kita sambut tamu kita hari ini!"


Pintu di belakang panggung terbuka.Para Sentinel dengan senjata lengkap terlihat mengamankan sesuatu.Dan itu membuatku benar-benar marah.


Ibu dan ayah terlihat babak belur.Kedua tangan dan kaki mereka dikunci oleh sebuah mantra sihir.


Lilia menutup mulutnya.Robert meringis melihat kondisi ayah dan ibu.Sementara itu, tubuhku gemetar melihat nya.Ayah dan ibu menaiki tangga tempat tiang gantungan menanti mereka.Aku tidak sanggup melihat ini.Rasanya aku ingin pergi dari tempat ini.


Tali gantungan digantungkan ke leher ayah dan ibu.Wajah mereka terlihat tetap mempesona walaupun babak belur.


Aku akan selalu mengingat mereka.Aku akan tetap menyimpan kenangan mereka.Aku tidak akan pernah melupakan mereka.


Merekalah orang yang selama ini ada bersamaku.Merekalah orang yang aku cintai.Dan hari ini, mereka akan pergi meninggalkan kami.


"Kami akan memberikan hak untuk berbicara kata-kata terakhir kepada terpidana", ujar orang dengan pengeras suara.


Ia mendekatkan tongkat sihirnya tepat di depan mulut ibu.Dan kata-kata dari ibu akan selalu ku ingat dalam hidupku.


"Hiduplah dengan bahagia anak-anakku", bisik ibu.


Aku meneteskan air mataku.Begitu pula dengan Robert dan Lilia.Air mata kami jatuh membasahi wajah kami.Menetes bagaikan air hujan yang membasahi tanah.


Aku menatap wajah mereka untuk terakhir kalinya.Mereka memberikan senyuman indah mereka untuk terakhir kalinya.Memberikan ucapan selamat tinggal kepada dunia ini.


Dengan teriakan amarah orang-orang dan tangisan 3 orang anak-anak, pintu di bawah kaki mereka terbuka.


Tepat pada saat itu petir menyambar istana kerajaan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2