
"Kakak! apa yang harus kita lakukan?" tanyaku pada Robert.
Robert terlihat tidak bisa berpikir jernih sama sekali.Seluruh tubuhnya gemetar, bahkan ia hampir tidak bisa berdiri dengan baik.
Ini sangat gawat.Orang-orang itu mulai semakin mendekati kamar kami.Persetan dengan rencana Robert.
Aku dengan cepat segera menampar Robert dan menggenggam bahunya.
"Kak! kita harus cepat pergi dari sini atau kita semua akan mati!" bentak ku.
Robert mulai tersadar akibat tamparan ku.Ia hanya mengangguk padaku dan menggenggam tangan Lilia.Kami tidak mungkin bisa melawan orang-orang itu.Sihir kami tentu tidak cukup kuat dibandingkan dengan kekuatan orang-orang itu.
"Hei! aku tahu kalian ada di dalam! buka pintunya dan kami tidak akan melukai kalian!" bentak seseorang dari luar kamar Robert.
Celaka, mereka sudah berada di depan pintu kamar tempat kami bersembunyi.Robert terlihat berpikir keras.Setidaknya kami harus selamat dari amukan orang-orang ini.
"BRAAKK"
Pintu kamar kami berhasil di buka paksa.Terlihat ada sekitar 6 orang dewasa mulai memasuki kamar.Beberapa dari mereka terlihat memegang senjata tajam di tangan mereka.
"Ayo anak-anak, jadilah anak baik dan kemari ikut kami, terutama kau gadis kecil", ujar salah satu dari mereka.
"Tidak akan", bisik ku.
"Eh, apa? coba bicara lagi", ucap orang yang memegang pisau di tangannya.
"Kami tidak akan menuruti kalian!", teriakku menggema di seluruh ruangan.
"Kalau begitu kau mati disini sekarang juga!"
Orang yang memegang pisau itu menerjang maju.Pisau tajamnya terhunus, siap menusuk perutku.Orang ini sangat cepat, aku tidak bisa menghindar dari serangan pisau miliknya.
"Jangan sentuh adikku!" jerit Lilia.
Tiba-tiba saja kilatan petir menyambar lelaki yang menyerang ku.Ku alihkan pandanganku kepada Lilia.Bola matanya terlihat berubah warna menjadi kuning terang.Aura listrik terpancar dari dirinya.
"Maaf Gerald, sepertinya pilihan kita hanyalah melawan", ucap Robert.
Robert mengepalkan tangannya.Sebilah pedang es tajam muncul dari tangannya.Aku terpana melihat mereka.
Sialan, andai saja Nyx ada disini.Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku seenaknya saja.Nyx menyegel inti sihir ku supaya aku tidak melakukannya untuk tindakan kriminal.
"Gerald, tetaplah berlindung di belakang kami", ucap Lilia.
Kedua tangannya kini mengeluarkan dua bola petir, siap untuk dilemparkan kapan saja.Sementara itu Robert membuat dua pedang sihir dari kedua tangannya.Mereka sudah siap bertarung.
"Hah, kalian pikir aku akan takut dengan permainan anak-anak kalian?" ejek seorang pria gendut.
"Panggil yang lain kemari, kita cincang mereka bersama-sama", perintah pria gendut itu.
__ADS_1
Aku mengalihkan pandanganku pada jendela di dekatku.Orang-orang yang melakukan kerusuhan diluar mulai memaksa masuk ke dalam rumah kami.
Sentinel sialan.Mereka sama sekali tidak melindungi kami.Apanya yang penjaga kedamaian?
"Kalau begitu, majulah kalian semua", ucap Robert dengan nada mengejek.
Seorang pria dengan kapak maju menerjang Robert.Tubuhnya yang besar, membuatnya terlihat seperti seekor beruang yang menemukan mangsanya.
Tetapi itu adalah kesalahan besar.
Dengan gerakan yang mulus, Robert berhasil menghindari serangan tersebut.Tangan kanannya menusuk kaki kiri pria tersebut.Sementara itu tangan kirinya menebas lengan pria tersebut sehingga terpisah dari tubuhnya.
"Dasar bodoh, gerakan mu terlalu mudah dibaca", bisik Robert.
"Kakak! awas!" jeritku begitu melihat seseorang siap untuk menebas kepala Robert.
Sebuah kilatan cahaya menyelimuti ruangan.Lilia dengan tangannya yang mengarah langsung ke dekat Robert, telah melancarkan sebuah serangan.Aku tidak sengaja melihat seorang pria yang terkapar dengan tubuhnya yang telah hangus.
"Astaga, lebih berhati-hati lah kak!" omel Lilia.
Lilia dan Robert seperti sebuah kombinasi mematikan.Robert melakukan serangan mematikan dari jarak dekat, dengan pedang es nya.Sementara itu Lilia melindungi dari jarak jauh dengan petir kuningnya.Dan aku hanya menjadi seseorang yang tidak berguna disini.
"Baiklah Gerald, ayo kita pergi dari sini", ujar Robert begitu ia menaklukkan musuh terakhir.
Aku mengangguk mendengarnya.Orang-orang yang sebelumnya menantang kami, telah terkapar di lantai rumah kami.Aku tahu mereka tidak mati.Mereka hanya mengerang kesakitan setelah melawan Robert dan Lilia.
Kami segera pergi dari kamar tempat kami bersembunyi.Sejak awal, aku terus memikirkan sesuatu.Apa yang telah kami lakukan sehingga mereka berniat membunuh kami?
Kami berhenti bergerak.Kedua mata kami terbelalak melihatnya.Puluhan orang telah berada di lantai bawah menunggu kami.Beberapa dari mereka bahkan membawa sebilah pedang.Tetapi bukan itu yang membuat kami terkejut.
Kami melihat beberapa orang memakai zirah putih terang.Dengan topeng gasnya yang telah menjadi ciri khas dari mereka, berdiri dengan senjata mereka masing-masing.
Aku meremas kedua tanganku.Para Sentinel sialan ini benar-benar sengaja membiarkan orang-orang ini masuk.Mereka tidak ada keinginan untuk melindungi kami sedikit pun.
Aku mengalihkan pandanganku pada Lilia dan Robert.Keringat mengucur deras dari tubuh mereka.Menandakan mereka sudah kelelahan.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Robert dengan tatapan dinginnya.
"Yaa, sebetulnya kematian kalian bertiga adalah yang kami inginkan", jawab Sentinel yang berada di dekat pintu.
Tiba-tiba saja sekelompok orang memegang kami.Aku sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka yang berada di belakang kami.
"Lepaskan aku!" jerit Lilia.
Lilia terlihat sudah kehabisan tenaga.Ia hanya meronta-ronta tanpa melakukan serangan apapun.Begitu pula dengan Robert.Tenaga mereka berdua sudah tidak tersisa sama sekali.
"Katakan pada kami, apa tujuan kalian yang sebenarnya?" tanya Robert.
"Baiklah akan kami beritahu, lagipula kalian akan mati setelah ini", ujar salah satu Sentinel tersebut.
__ADS_1
"Sudahlah, kita bunuh saja mereka sekarang!" bentak seorang pria.
Sentinel yang berada di depanku mengalihkan pandangannya.Pria yang tadi berteriak mendadak ketakutan.Ia seperti seorang anak kecil yang baru menyadari bahwa ia melakukan kesalahan besar.
"Baiklah biar aku jelaskan", ucap Sentinel itu.
"Kedua orang tua kalian terbukti melakukan tindakan pemberontakan kepada Kerajaan Heragon ini, mereka terlibat dalam pendanaan senjata-senjata dan logistik para kelompok pemberontakan", jelasnya.
"Dasar orang-orang itu, bisa-bisanya mereka berbuat kekejaman di kerajaan ini", lanjut Sentinel tersebut.
"Apa katamu?" ucapku setelah mendengar kata-katanya.
"Aku bilang, orang-orang seperti mereka bisa-bisanya berbuat kejam.Padahal kerajaan ini jelas mencintai kedamaian", jawabnya.
Dasar pembual.Bisa-bisanya ia membual di hadapanku.Bisa-bisanya ia menyembunyikan fakta bahwa kondisi di luar tembok tidak sama dengan yang ada di dalam tembok.
"Yaa, kalau begitu sudah waktunya bagi kalian untuk meninggalkan dunia ini.Begitu pula dengan kedua orang tua kalian", ucap Sentinel tersebut.
"Hah? apa maksudmu?" tanyaku.
Aku harap aku salah mendengar apa yang dia katakan.Kematian sudah berada di depanku.Tetapi kedua orang tuaku? apa mereka akan di eksekusi?
"Ah dasar sialan, kau ini banyak bertanya", ujar Sentinel itu menampar wajahku.
Darah segar terasa mengalir keluar dari mulutku.Rasa panas dan perih terasa di pipi kananku.
"Kedua orang tua kalian akan dieksekusi di depan umum besok pagi.Pastikan kalian menyambut mereka dengan baik di surga", bisiknya padaku.
"Baiklah, lakukan apapun yang kalian inginkan pada mereka", perintah Sentinel tersebut.
Lilia dan Robert berusaha memberontak.Dengan sisa-sisa tenaganya, mereka berupaya melepaskan diri dari cengkraman para pria ini.
Sementara itu aku terdiam.Apa aku akan mati kembali? apa perjalanan ku di dunia ini selesai sampai disini saja?
Semua emosi bercampur aduk di dalam hatiku.Rasa marah, sedih, kecewa menguasai diriku.
"Kuharap kalian yang mati", bisik ku.
Tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam muncul dari kedua tanganku.Kedua tanganku membentuk sebuah pedang hitam dari energi kegelapan yang ada pada diriku.
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih sama sekali.Kutatap wajah semua pria yang ada di sana.Rasa takut terukir jelas pada wajah mereka.
"Iblis! anak itu adalah iblis! dia adalah makhluk kegelapan!" jerit seorang pria.
Lilia dan Robert hanya terdiam melihatku.Ini adalah pertama kalinya mereka melihat kekuatan sihir milikku.
"Bunuh anak itu!" perintah salah satu Sentinel di sana.
Tidak ada lagi yang kupikirkan.Yang ada di dalam diriku hanyalah rasa ingin membalas dendam.Hanyalah rasa kebencian.Dan rasa ingin membunuh.
__ADS_1
Dan semuanya menjadi gelap.
Bersambung....