Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Sentinel


__ADS_3

Tepat di saat kematian sudah di depan mata, aku merasakan sebuah cairan lengket menutupi wajahku.Dengan perlahan ku beranikan diri membuka mataku.


Terlihat sesosok Undead dengan kepala yang sudah hancur berkeping-keping.Kualihkan pandanganku ke arah belakang.Bukan ibu atau orang dewasa manapun yang datang, melainkan orang-orang berseragam lengkap menggunakan helm dan penutup muka seperti masker gas.


Mereka adalah para Sentinel.Petugas keamanan kerajaan Heragon.Beberapa dari mereka ada yang membawa senjata api dan pedang.Sedangkan beberapa orang lagi terlihat membawa sebuah tongkat sihir.Jubah mereka terlihat berkibar diterpa oleh angin, membuat pesona mereka semakin bertambah.


Secara mendadak salah satu Undead yang berada di sebelahku melompat ke arah para Sentinel tersebut.Salah satu dari para Sentinel tersebut terlihat maju menerjang ke arah Undead yang melompat kearahnya.


Dengan pedangnya yang tajam, Sentinel tersebut mengayunkan pedangnya ke arah Undead yang berada di hadapannya.Menebas kepala Undead tersebut hingga terpisah dari badannya.


Aku hanya terdiam melihatnya.Kepala Undead tersebut terlihat menggelinding kepadaku yang hanya duduk terdiam melihatnya.


Pedang dari Sentinel tersebut terlihat meneteskan darah berwarna merah gelap dari Undead tersebut.Beberapa Sentinel maju ke arahku sembari mengarahkan senapannya.


Hei, Hei.Mereka tidak akan menembak para Undead ini bukan? Apakah mereka tidak melihat keberadaan ku disini? Bagaimana bila aku terkena tembakan dari para Sentinel tersebut?


Salah satu dari Sentinel tersebut mengangkat tinggi pedangnya yang berlumuran darah.Seperti akan memberi aba-aba untuk pasukan penembak melepaskan tembakan.


Dengan cepat aku mengambil posisi tiarap dan melindungi kepalaku.


"Mereka gila", bisik ku sambil mengambil posisi tiarap.


"Tembak!" teriak salah satu Sentinel di sana dan mengayunkan pedangnya ke arahku dan para Undead yang berkumpul.


Suara tembakan menyalak dengan keras dibelakang ku.Bersamaan dengan jatuhnya para Undead tersebut, sebuah peluru melintas tepat disebelah telingaku.Orang-orang ini benar-benar gila.Mereka bahkan tidak memperdulikan adanya warga sipil di jalur tembakan mereka.


Perlahan ku beranikan diri melihat ke arah para Sentinel tersebut.Bau bubuk mesiu hasil tembakan para Sentinel menusuk hidungku.


Dengan susah payah aku berusaha berdiri dari posisiku.Kakiku terasa cukup sakit bila digerakkan, tetapi syukurlah aku bisa memaksa kakiku untuk berdiri tegak.

__ADS_1


"Siapa kau?" tanya salah satu Sentinel yang mendekat kearah ku.


Betapa terkejutnya aku.Sentinel tersebut mengarahkan moncong senapannya tepat ke arah kepalaku.Cukup dengan menarik pelatuk senjata, maka nasibku akan sama seperti Undead yang telah terkapar disekitar taman ini.


"Ku tanya sekali lagi, siapa kau? Apakah kau yang memanggil para Undead ini? " lanjut Sentinel itu masih dengan posisi yang sama.


Tidak ku sangka, seorang petugas keamanan kota tidak segan mengarahkan senjatanya ke arah warga sipil.Bahkan seorang anak kecil ia nilai sebagai ancaman berbahaya.


"Mau kau apakan anakku dasar sialan!" teriak seorang wanita dari balik gerbang taman.


Aku mengenali teriakan ini.Kulihat ibu di gerbang taman dengan tatapan tajam dan wajah marahnya ke arah seorang Sentinel yang berada di depanku.


Ohh kau sekarang dalam bahaya dasar Sentinel sialan....


...****************...


"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya ibu sambil mengusap kepalaku yang berlumuran darah Undead.


Beberapa saat yang lalu, Sentinel yang mengarahkan senapannya ke arahku menerima pukulan kencang dari ibu.Sehingga menyebabkan ia merintih kesakitan di tanah.


Ibu memang menyeramkan bila sudah marah.Mungkin Sentinel itu tidak mengenali wajahku dikarenakan tertutup oleh darah gelap Undead yang melumuri seluruh wajahku.


"Gerald!" teriak seorang anak kecil dari arah tempat pesta.


Erina berlari dengan bajunya yang terlihat kotor ke arahku.Ia segera melompat dan memelukku sehingga menyebabkan aku terjatuh.


"Kukira kau tidak akan selamat, aku sangat khawatir denganmu", ucap Erina sambil menangis di pelukanku.


"Bukankah kita sudah berjanji?" ujar ku pada Erina.

__ADS_1


Erina menatap wajahku dengan wajahnya yang basah oleh air mata.Perlahan ia tersenyum tipis.


"Ya kau benar, kita sudah berjanji kan", jawab Erina sambil tersenyum ke arahku.


Erina berdiri dan mengusap air matanya dengan sapu tangan miliknya.Anak ini benar-benar hebat.


"Mohon maaf mengganggu tuan Adelio", ucap salah satu Sentinel di belakangku.


"Kami membutuhkan beberapa informasi mengenai kemunculan makhluk kegelapan ini langsung dari mulut anda, apakah anda keberatan?" tanya Sentinel tersebut padaku.


Aku melirik ibu yang hanya diam menatap Sentinel itu dengan tatapannya yang menyeramkan.Kurasa lebih baik aku tidak meminta pendapatnya dulu.


Kurasa tidak masalah untuk menerima permintaan Sentinel ini.Sementara itu Erina terlihat cukup tegang melihat Sentinel ini.


Maklum saja, pakaian Sentinel ini terlihat sangat berwibawa dan keren.Sebuah lambang kepala harimau di dada kirinya terlihat menambah pesona hebat dari seragamnya.


"Aku tidak keberatan", jawabku kepada Sentinel tersebut.


"Baiklah, kalau begitu akan ku kirimkan surat pemanggilan pada dirimu nanti", ujar Sentinel tersebut sambil memberikan sebuah kartu kepadaku.


"Itu adalah lokasi markas besar Sentinel kerajaan Heragon, pastikan kau datang ke sana tuan", lanjut Sentinel itu.


"Bersihkan semuanya lalu kita pergi dari sini!" perintah Sentinel itu memberi komando kepada para pasukannya.


Beberapa dari Sentinel yang memegang tongkat sihir terlihat merapal suatu mantra.Tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya yang menyerap sisa-sisa tubuh para Undead tersebut ke dalam cahaya yang dirapal oleh para Sentinel.


Ini mengesankan.Mereka adalah pasukan yang benar-benar sudah terlatih dan memiliki pengalaman.


Dan aku yakin, bahwa di kerajaan ini masih banyak Sentinel seperti mereka.Atau bahkan lebih kuat dari mereka.Dan itu akan menjadi sebuah keuntungan bagi kerajaan ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2