
1 tahun kemudian
Suara derap langkah kaki mendekati kamarku.Seperti suara anak-anak yang sedang berlari menuju ke kamarku.
"Selamat ulang tahun Gerald!" teriak Lilia ketika ia membuka pintu kamarku.
Aku terkejut dengan Lilia yang membawa kotak besar dengan pita merah di atasnya.Sementara itu Robert terlihat membawa sebuah kado yang diikat oleh pita hitam.
Hari ini adalah hari ulang tahunku.Satu tahun yang lalu, aku datang ke dunia ini disambut oleh keluarga yang sangat ramah.Dan ini adalah hari dimana keluargaku akan mengadakan pesta kembali, dan tentu saja akan sangat meriah.
Ayah dan ibu terlihat sibuk menyiapkan pesta ulang tahun untukku nanti malam.Karena itu aku dititipkan kepada Lilia dan Robert.
"Hei Gerald lihat apa yang kakak berikan untukmu", ujar Lilia.
Lilia membuka kotak berpita merah itu untukku.Ia mengangkat apa yang ada di dalam kotak itu.
"Lihat ini Gerald! ini hadiah untukmu dariku!"
ujar Lilia sambil mengangkat tinggi sebuah boneka besar dari dalam sana.
Aku hanya melihat boneka itu dalam diam.Aku itu lelaki, tentu saja aku tidak suka bermain boneka.Tetapi aku kasihan melihat wajah Lilia yang terlihat berbinar-binar.
Aku mengambil boneka itu dengan tanganku yang mungil.Wajah Lilia terlihat sangat bahagia ketika aku menerima hadiahnya.
"Kau lihat kan kak? Gerald menerima hadiah ku!" sahut Lilia pada Robert.
Robert hanya terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bagaimana Gerald? apa kau menyukai hadiah dariku?" tanya Lilia padaku.
Aku hanya bisa mengangguk, mengisyaratkan bahwa aku suka dengan hadiahnya.
Lilia berteriak kegirangan, ia berlari keluar kamar sambil berteriak bahwa aku menyukai hadiah yang dia berikan.
Tersisa aku hanya aku dan Robert di ruangan ini.Kulihat wajah Robert yang terlihat dingin.Kurasa ia tidak menyangka akan ditinggalkan lagi oleh Lilia.
Robert menggenggam erat hadiah yang akan dia berikan padaku.Kurasa ia merasa hadiahnya tidak pantas di berikan padaku.Mengingat sebelumnya Lilia memberikan hadiah yang terlihat sangat mahal.
Aku merangkak mendekati Robert yang hanya diam menatap hadiahnya.Kutarik pelan celana Robert untuk memanggilnya.
Robert melihat ke arahku.Aku tersenyum menatap wajahnya.Aku merasa cukup kasihan pada Robert.
__ADS_1
"Aku juga punya hadiah untukmu Gerald", ujar Robert sambil duduk menghadapku.
Kulihat kotak yang dibungkus oleh kertas hitam dan diikat pita hitam yang dibawa oleh Robert.Ukurannya tidak sebesar yang dibawa Lilia, bahkan jauh lebih kecil dibanding yang dibawa oleh Lilia.
"Ini hadiah dariku Gerald, semoga kau suka", ucap Robert sambil menyerahkan benda yang dibungkus oleh kertas hitam tersebut.
Kuterima hadiah yang diberikan oleh Robert.Sejujurnya aku cukup penasaran dengan hadiah yang diberikan olehnya.Kurobek bungkus yang melapisi hadiah tersebut.
Ini adalah buku.Sebuah buku bergambar dengan huruf yang tidak dapat ku pahami.
"Suatu saat nanti, apa kau mau kubacakan buku ini?" tanya Robert padaku.
Aku tersenyum kepadanya dan mengangguk.Robert tersenyum padaku.
"Nanti akan kakak bacakan ya", lanjut Robert sambil mengelus rambutku.
"Halo Robert, apakah Gerald baik-baik saja?" tanya ibuku yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
"Gerald baik-baik saja bu", jawab Robert.
"Wahh lihat ini Gerald, ini hadiah yang diberikan oleh kedua kakakmu bukan?" tanya ibu kepadaku.
Aku mengangguk pada ibuku.Ibu terlihat kelelahan setelah mengatur pesta untukku.
Robert hanya mengangguk dan pergi dari kamarku.Sementara aku diserahkan kepada para pelayan untuk dimandikan.Kurasa malam ini akan cukup menyenangkan.
...*****...
Sesuai dugaanku, malam ini pestanya akan berlangsung sangat meriah.Para tamu undangan terlihat sangat banyak memenuhi rumah kami.
"Halo Elise, lama tidak bertemu", sapa 2 orang perempuan.
Mereka adalah Tiffany dan Rachel, teman dekat ibuku.
"Halo Tiffany, Rachel apa kalian sehat?" tanya ibuku pada mereka.
Aku hanya terdiam melihat mereka.Jujur saja aku juga tidak terlalu suka dengan tempat ramai seperti Robert.
"Tentu saja kami sehat", jawab Rachel.
"Wah, jadi ini yang bernama Erina ya?" tanya ibuku kembali.
__ADS_1
Kulihat seorang anak kecil perempuan yang digendong oleh Tiffany, kurasa ia seumuran denganku.Wajahnya terlihat cukup cantik walau hampir berumur 1 tahun.Rambutnya berwarna pirang seperti ayahnya, tetapi matanya berwarna biru seperti ibunya.
"Wah, dia terlihat cantik sekali yaa, sama seperti ibunya", goda Rachel sambil mengelus rambut Erina.
Tiffany hanya tersipu malu mendengar perkataan Rachel.
"Semoga Erina bisa berteman dekat dengan Gerald ya", ujar ibuku sambil menatap mataku.Entah mengapa wajahku terasa panas.
"Kita pindah ke kamarku ya?" tanya ibuku.
Rachel dan Tiffany hanya mengangguk setuju.Aku berusaha mencari Robert, yang entah pergi kemana.Oh tidak, setidaknya jangan biarkan aku berdua dengan Erina.
...*****...
Aku hanya bisa diam di kasur bersama Erina.Diluar dugaan ku, anak ini mempunyai kepribadian cukup tenang.Dia tidak menangis ataupun berteriak sama sekali.Erina tampak tenang dengan boneka beruangnya.
Tiba-tiba Erina menatapku dengan mata birunya.Kualihkan pandanganku dari tatapan Erina.Anak ini memiliki tatapan mata yang tajam, cukup mengerikan.
Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat dengan boneka beruang hadiah dari Lilia.Aku turun dari kasur dan merangkak mencari boneka beruang tersebut.
Sayangnya aku tidak bisa menemukan boneka tersebut.Entah dimana terakhir kali aku menyimpan boneka itu, tetapi aku harus tetap menemukannya.Aku akan merasa sangat bersalah pada Lilia bila boneka itu hilang.
"Buuuu!", suara seorang anak kecil perempuan.
Kualihkan pandanganku pada Erina.Kulihat ia memegang sebuah boneka besar di tangannya.
Erina merangkak perlahan mendekatiku sambil membawa boneka tersebut.Ia menyerahkan boneka itu padaku sambil tersenyum.
Kuambil boneka itu dari tangannya.Erina kemudian menarik tanganku untuk bermain bersamanya.Aku tarik kembali tanganku, tentu saja aku tidak ingin bermain boneka, itu sangat kekanakan.
Erina mengalihkan pandangannya padaku.Wajahnya terlihat ingin menangis.Tidak ingin mendengarnya menangis, aku langsung menarik tangannya untuk bermain bersama.
Erina tersenyum bahagia ketika aku mengajaknya bermain bersama.Wajahnya kembali cerah seperti semula.Kurasa tidak buruk juga bermain dengannya.
Tanpa kusadari, para ibu sedang mengintip kami lewat sela-sela pintu balkon.
"Kurasa anakku benar-benar akan berteman baik dengan Erina", ujar Elise sambil tersenyum pada Tiffany.
"Aku sangat setuju denganmu Elise", jawab Tiffany sambil tersenyum tanpa melepas pandangannya padaku dan Erina.
Malam itu adalah pertemuan pertamaku dengan Erina Valerie, anak dari Felix Valerie dan Tiffany Valerie.Dan malam itu berakhir dengan tertidur nya kami berdua setelah kelelahan bermain bersama.
__ADS_1
Bersambung...