Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Kemarahan Robert


__ADS_3

"Apakah akademinya indah?" tanya ibu pada kami begitu kami pulang dari mengantar Robert.


"Sangat indah bu! Lilia sampai tidak bisa melepaskan pandangan dari bangunan akademinya!" jawab Lilia dengan antusias.


Di perjalanan pulang, Lilia tidak hentinya mengoceh padaku tentang ambisinya belajar di akademi kerajaan.Bahkan ayah sampai kewalahan menenangkan Lilia yang penuh semangat itu.


Ibu tersenyum sambil mengelus kepala Lilia.


"Ibu yakin, Lilia akan belajar dan menjadi salah satu dari 7 elit akademi, begitu pula kakakmu.Ibu akan selalu mendukung kalian", ujar ibu yang membuat Lilia tersenyum sendiri.


Tujuh elit akademi kerajaan.Dari yang kudengar dari Robert, 7 elit akademi kerajaan merupakan tujuh siswa terbaik di akademi kerajaan Heragon.Tetapi gelar ini hanya bisa dimiliki oleh siswa berumur 15-17 tahun dan memiliki keahlian sihir yang sangat kuat.


Meskipun begitu, aku cukup yakin dengan Robert.Ia adalah anak yang cerdas dan memiliki sihir yang sangat kuat.Tinggal menunggu waktu saja sampai ia berumur 15 tahun.


"Bagaimana denganmu Gerald? apakah kau ingin masuk ke akademi kerajaan juga?" tanya ibu padaku yang sedang melamun.


Aku tersadarkan dari lamunanku dan menatap wajah ibu yang tersenyum melihatku.


"Apakah kalian berdua tahu? Ayah dan ibu pernah termasuk dalam anggota 7 elit akademi lohh", ujar ibu dengan wajah yang hanya tersenyum.


Mendadak suasana sangat hening.


"Apa! kenapa ayah dan ibu tidak pernah menceritakannya?!" teriak Lilia yang mengejutkanku dan ibu.


Kali ini ibu terlihat salah tingkah.Sementara itu kulihat ayah yang membuka pintu dari belakang.Sepertinya ayah tidak sengaja melihat Lilia yang terus menghujani ibu dengan pertanyaan sehingga membuat nya melambaikan tangan dan pergi dari kamar.


Sementara itu, ibu terlihat cukup kewalahan dengan Lilia yang semakin penasaran.


"Nanti setelah makan malam ibu ceritakan ya Lilia, kita tunggu kakakmu kembali dari akademi ya?" ujar ibu yang berusaha menenangkan Lilia.


Sepertinya Lilia menyetujui keputusan ibu sehingga ia hanya tersenyum sendiri.


Aku yakin malam kali ini akan terasa lebih menyenangkan.Karena ibu sudah berjanji akan bercerita yang berarti ayah juga harus ikut dan menceritakan semuanya pada kami.


...****************...

__ADS_1


"Apakah kau penasaran juga dengan cerita ibu Gerald?" tanya Lilia sambil membaca sebuah buku.


"Hmmm", aku hanya bergumam.Jujur saja aku sangat penasaran sehingga entah berapa lama aku melamun menantikan waktu makan malam.


Lilia menutup bukunya dan berdiri dari kursinya.Ia berjalan menuju jendela yang terbuka dan hanya diam di sana.


Aku mengerti perasaan Lilia yang sangat penasaran dengan cerita ibu.Aku juga sangat menantikan cerita ibu dan ayah yang merupakan mantan 7 elit akademi.


"Aku pulang", suara seorang anak lelaki yang tiba-tiba masuk ke ruangan tempat aku dan Lilia membaca buku.


"Kakak!" sahut Lilia sambil berlari ke arah Robert dan memeluknya.


"Kenapa kakak lama sekali di akademi?" tanya Lilia setelah melepas pelukannya dari Robert.


"Kakak mengikuti seleksi kompetisi antar kelas, Lilia.Jadi maaf saja bila kakak pulang terlambat", jawab Robert sambil tertawa karena tingkah Lilia.


Wajah Robert terlihat lebih cerah dari biasanya.Wajah Robert biasanya terlihat seperti memiliki aura yang sangat menekan.Ditambah dengan sikapnya yang dingin.


Tetapi entah apa yang terjadi di akademi, sehingga membuat wajah Robert terlihat lebih cerah.Dan aku bersyukur dengan apa yang terjadi.


Seketika Robert terdiam.Dari raut wajahnya ia juga terlihat terkejut dengan perkataan Lilia.


"Lilia, kau tidak bercanda kan?" tanya Robert dengan senyumnya yang menekan.


Tubuh Lilia mendadak gemetar.Begitu pula dengan diriku.Kami berdua merasa sangat tertekan dengan tatapan Robert walaupun dia hanya tersenyum.


"Ti-tidak kak, aku tidak berbohong", jawab Lilia sambil terbata-bata.


Robert terlihat sangat menyeramkan kali ini.Wajahnya tidak terlihat tersenyum lagi.Kini wajahnya terlihat seperti menahan amarah.


"Baiklah, kalau begitu kakak pergi dulu", ujar Robert keluar dari ruangan.Hawa ruangan menjadi lebih hangat setelah Robert keluar.


Entah apa yang terjadi dengan Robert, tetapi ia terlihat membenci 7 elit akademi.Lilia terduduk dengan badannya yang masih gemetar.


Aku menghampiri Lilia dan berusaha menenangkannya.Robert tidak pernah terlihat semarah itu di depan kami.Aku tidak mengerti alasan Robert membenci 7 elit akademi.Tetapi itu cukup mengerikan, padahal Robert hanya tersenyum pada kami tetapi senyuman itu berbeda dari yang biasanya.

__ADS_1


"Apakah aku melakukan kesalahan?" bisik Lilia yang seperti menyesal.


Aku menepuk punggung Lilia sambil menggeleng.Lilia tidak melakukan kesalahan sama sekali.Kami berdua tidak mengetahui sama sekali ada apa dengan Robert dan 7 elit akademi.


Aku mengesampingkan hal itu, kini aku harus mengurus Lilia yang hampir menangis.


...****************...


Aku berjalan perlahan-lahan menuju kamar Robert.Sejak kejadian itu, aku dihujani oleh rasa penasaran.Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan Robert di akademi.


Ku intip sedikit kamar Robert yang terbuka.Terlihat Robert yang sedang dipeluk oleh ayah dan ibu di sana.Kondisi kamar Robert sangat berantakan, dengan banyak barang yang membeku karena kekuatan sihirnya.


"Maafkan ibu dan ayah Robert, seharusnya kami mengetahui itu dari dulu", ujar ibu sambil memeluk Robert dan menangis.


"Maafkan kami Robert, tetapi kami tidak bisa melakukan apapun mengenai masalahmu.Kami sangat minta maaf", ujar ayah sambil memeluk erat Robert.


Sementara itu Robert terlihat menangis dengan memegang buku yang telah beku ditangannya.


"Aku membenci para elit itu! aku sangat membenci mereka! merekalah yang membuatku tidak punya teman! merekalah yang melakukan manipulasi pada nilai sekolah! merekalah yang terus berusaha melukaiku!" teriak Robert sambil meremas buku ditangannya hingga membeku dan hancur berkeping-keping.


Akhirnya aku mengerti.Aku mengerti alasan Robert membenci yang namanya elit akademi.Ia sudah tidak percaya dengan para elit akademi.


Mendengar Robert berteriak membuatku ikut merasa sedih dan marah.Beraninya para elit akademi itu membuat seorang anak berumur 8 tahun frustasi.Beraninya mereka menghancurkan impian anak-anak.


"Maafkan kami Robert, kami akan segera memindahkan mu dari akademi kerajaan pergi ke akademi lain", ujar ibu memberi solusi sambil menangis


"Tidak perlu bu" jawab Robert.


"Aku akan tetap bertahan di akademi kerajaan, dan duduk di kursi 7 elit akademi, aku akan merubah sistem sekolah, aku akan tetap berdiri walaupun aku berusaha dijatuhkan berkali-kali", lanjut Robert sambil berdiri menatap ibu dan ayah.


"Maafkan aku yang sudah marah tanpa alasan yang jelas, maafkan aku yang sudah merepotkan kalian, aku sungguh-sungguh minta maaf", ujar Robert sambil menghapus air matanya.


Ibu kembali memeluk Robert, kali ini dengan perasaan yang sangat bangga.


Aku segera pergi dari sana.Aku yakin suatu saat nanti Robert akan bisa mengubah akademi.Dan bila Robert gagal, akulah yang akan melanjutkannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2