
1 bulan kemudian
"Hei Gerald, bagaimana pendapatmu terhadap baju ini?" tanya Lilia yang sedang memilih baju untuk pergi ke rumah kakek.
"Terlihat bagus dan hangat untuk dipakai", jawabku.
"Baiklah, bagaimana dengan yang ini?" tanya Lilia, kembali memperlihatkan baju hangat berwarna biru.
"Aku lebih suka yang tadi kak", jawabku dengan jujur.
Lilia terlihat mempertimbangkan keputusanku dan memilih baju hangat berwarna merah gelap.
Kulihat ke arah jendela.Salju mulai turun di kota ini menutupi pohon pohon di halaman rumah.Kami semua akan pergi menuju ke rumah kakek dengan kondisi cuaca turun salju, karena itulah Lilia meminta pendapatku mengenai baju yang akan ia kenakan.
"Kenapa kakak tidak minta pendapat kak Robert saja?" tanyaku pada Lilia yang sedang memakai baju dibalik lemari.
"Kau tau kan Gerald, kak Robert itu sangat menyukai salju dan es.Percuma saja meminta pendapat pakaian hangat padanya, dia saja hanya akan menggunakan pakaian biasa untuk pergi", jawab Lilia mengomel mengenai sikap Robert.
Robert dan ayah tidak beda jauh, mereka berdualah yang paling bersemangat apabila salju mulai turun dari langit.Dan parahnya lagi mereka tidak pernah menggunakan pakaian hangat ataupun sarung tangan untuk melindungi mereka dari dinginnya cuaca.
Mungkin ini semua dikarenakan oleh kekuatan es mereka.Itu membuat mereka lebih kebal dari sesuatu yang dingin daripada siapapun.
Sementara itu Lilia yang merupakan pengguna sihir listrik jelas tidak bisa menahan dinginnya cuaca di bulan ini.Begitu pula dengan ibu yang merupakan pengguna sihir penyembuh.
Dan aku sama sekali belum menunjukan tanda-tanda kebangkitan sihir sama sekali.Entah apa sihir yang akan kudapat tetapi aku sangat berharap semoga sihir ku sangat berguna.
"Apa kalian belum selesai juga? Cepatlah, kita sudah mau berangkat", ucap Robert memasuki kamar Lilia tanpa mengetuk pintu sama sekali.
"Kau lihat kan Gerald?" tanya Lilia padaku.
Aku mengangguk cepat pada Lilia.Robert terlihat berdiri di depan pintu tanpa memakai pakaian hangat sama sekali.Tidak ada sarung tangan, tidak ada syal, dan juga baju hangat.
__ADS_1
Robert hanya memakai pakaian seperti biasanya.Mungkin Robert memang tidak membutuhkan pakaian hangat di musim ini.
Berbeda denganku dan Lilia, kami menggunakan pakaian hangat kami dengan sarung tangan dan juga syal.Cuaca hari ini sangatlah menusuk sehingga tidak mungkin kami kuat keluar tanpa menggunakan pakaian hangat.
"Kalau kalian sudah selesai bersiap-siap, segeralah ke bawah.Ayah dan ibu sudah menunggu", ujar Robert pergi dari kamar Lilia menuju ke lantai bawah.
Lilia dan aku saling bertukar pandang.Kami berdua terkekeh melihat sikap Robert yang persis dikatakan oleh Lilia sebelum Robert datang.
"Baiklah, ayo kita pergi Gerald", ujar Lilia sembari menggandeng tangan kananku.
Kami berdua segera turun ke lantai bawah.Di depan pintu keluar terlihat ayah, ibu, dan Robert sudah berdiri menunggu di sana.
"Kalian ini lama sekali, kami sudah menunggu dari tadi", omel Robert pada kami yang baru datang.
Aku dan Lilia hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali.
Ayah dan Robert terlihat tidak memakai pakaian hangat sama sekali.Mereka hanya menggunakan jas seperti biasanya.Berbeda dengan ibu, Lilia, dan aku.
"Baiklah ayo cepat masuk ke dalam kereta kuda, kita sudah cukup terlambat", ujar ayah membukakan pintu untuk kami.
Dia adalah Claude, seorang tangan kanan ayah yang paling terpercaya.Aku sudah cukup lama mengenal Claude semenjak masih menjadi bayi.
Selain Sherly, Claude juga sering masuk ke kamarku dan ikut menjagaku.Walaupun ia tidak sehebat Sherly dalam hal mengurus bayi, tapi setidaknya ia adalah salah satu orang yang aku percaya.
"Ahh halo tuan Gerald, kabarku baik", jawab Claude dengan tersenyum dan sedikit membungkuk.
Aku tersenyum melihatnya dan segera memasuki kereta kuda.Disebelahku Lilia tidak hentinya mengoceh tentang apa yang akan dilakukan olehnya di rumah kakek.Kurasa perjalanan ini akan cukup menyenangkan dengan adanya Lilia yang tidak hentinya menjahili Robert.
...****************...
"Kakek!" teriak Lilia sembari berlari kearah kakek.
__ADS_1
"Ahh halo cucuku yang cantik, bagaimana kabarmu?" tanya kakek dengan tersenyum lebar pada Lilia.
"Kabarku baik kek! Sangat baik!" jawab Lilia ikut tersenyum bersama kakek.
"Ahh halo Robert, bagaimana kabarmu? Kau sudah semakin tinggi saja", tanya kakek begitu melihat Robert di belakang Lilia.
"Aku baik-baik saja kek", jawab Robert dengan singkat sambil tersenyum pada kakek.
"Ahh ini dia si bungsu Gerald, bagaimana kabarmu nak?" tanya kakek sembari mengelus kepalaku.
"Baik kek, aku kan selalu olahraga", jawabku pada kakek yang masih mengelus kepalaku.
Kakek Harish adalah seorang pria yang sudah berumur 72 tahun.Meskipun begitu, tubuhnya masih dapat terbilang cukup sehat dan kuat.
Ia adalah ayah dari Albert Adelio yang merupakan ayah kandungku.Ia adalah orang yang cukup terpandang di Kerajaan ini, mengingat ia adalah salah satu orang yang menghabisi pasukan kerajaan lain ketika perang 40 tahun yang lalu.
"Halo ayah bagaimana kabarmu? Apakah kau masih merasa sakit di kakimu?" sapa ayah pada kakek.
"Kau seperti meremehkan kemampuan orang tua ini ya Albert, aku masih sangat sehat dan bugar loh", jawab kakek dengan bergerak melakukan pemanasan.
"Kuanggap itu sebagai sehat yah", ujar seorang perempuan yang tak lain adalah ibu.
"Ahh halo Elise, sebelumnya terimakasih atas obat yang kau berikan padaku sebelumnya", sapa kakek dengan senyuman ramahnya.
Dikarenakan kekuatan sihir ibu yang merupakan sihir penyembuh, ibu cukup terpandang di kalangan dunia medis Kerajaan Heragon.Jasanya yang tergabung dalam unit penanganan wabah besar belasan tahun yang lalu membuatnya menjadi cukup terpandang di dunia medis.
Dan ibu juga adalah orang yang merawat penyakit yang diderita oleh kakek.Kakek menderita suatu penyakit yang menyebabkan kakinya akan terasa sangat sakit ketika ia berjalan.Beruntung kekuatan dari ibu mampu meredakan rasa sakit dari penyakit tersebut, tetapi kakek tetap saja harus mengonsumsi beberapa obat untuk kesembuhannya.
"Kalau begitu ayo cepat masuk ke dalam, kau juga Claude.Cuaca diluar sangat dingin, aku mempunyai beberapa daun teh yang enak untuk menghangatkan tubuh", ujar kakek pada kami termasuk Claude.
Claude membungkuk berterimakasih dan ikut masuk ke dalam rumah kakek yang besar ini.Kereta kuda yang kami tumpangi terlihat dipindahkan oleh beberapa pelayan dari rumah kakek.
__ADS_1
Salju terlihat mulai turun menutupi jalan di depan rumah.Kami semua memasuki rumah kakek yang terlihat sangat hangat.Tanpa kusadari ada sesuatu yang mengintai ku saat itu, sesuatu yang sangat berbahaya.
Bersambung...