
Desiran angin lembut musim gugur terasa menerpa wajahku.Daun-daun berwarna cokelat dan merah terlihat berjatuhan menutupi taman rumah.Aku, Robert, dan Lilia sedang menikmati kondisi cuaca di musim gugur ini.Tiupan angin musim gugur memang sangat nyaman dan enak.
"Hei Lilia, Gerald", panggil Robert tanpa melepaskan pandangannya kepada daun yang berjatuhan.
Kami berdua menoleh ke arah Robert.Tatapannya hari ini terlihat hangat dan lembut.Sama sekali tidak ada tatapan dingin menusuk yang biasa ia pancarkan.
"Suatu saat nanti, ketika kita sudah mulai sibuk dengan urusan masing-masing.Apakah kalian akan bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama?" tanya Robert.
Aku dan Lilia saling bertatapan.Robert hari ini benar-benar berbeda dibandingkan dengan Robert yang biasanya.
"Emm mungkin itu agak sulit kak, tapi Lilia janji.Lilia pasti akan datang kembali!" jawab Lilia penuh semangat.
Robert dan aku tersenyum.Diantara kami bertiga, Lilia memang yang paling aktif dan riang.Sangat berbeda dengan kakaknya yang dingin dan adiknya yang terlihat suram.
"Hahaha, kau benar-benar hebat Lilia
Lalu bagaimana denganmu Gerald?" tanya Robert dengan tatapannya mengarah kepadaku.
"Yaa, aku juga akan berusaha agar kita semua bisa berkumpul kembali", jawabku.
Robert tersenyum dengan lebar.Mengeluarkan pesonanya kepada dunia.
"Halo anak-anak, kami semua sudah pulang", sapa seseorang dari belakang kami.
"Halo ayah! apa kalian sudah selesai dengan urusan kalian?" tanya Lilia yang langsung berlari ke arah ayah dan ibu.
"Tentu saja sudah wahai putriku yang cantik", jawab ayah sembari mencubit pipi Lilia dengan gemas.
"Ah kemarilah Robert, Gerald", panggil ibu kepadaku dan Robert.
Aku dan Robert berjalan mendekati ibu.Seingatku, ibu dan ayah pergi menuju ke rumah temannya untuk mengikuti acara minum teh.Dan kami bertiga tidak bisa ikut dikarenakan ibu bilang kepada kami bahwa itu adalah acara untuk orang dewasa.
"Apakah kalian ingin ikut dengan kami? mari kita pergi makan di sebuah restoran yang enak", ajak ibu sembari menatap kami bertiga.
"Eh? bukankah ayah dan ibu baru saja pulang?" jawabku.
"Ayah dan ibu sangat ingin pergi keluar bersama kalian di hari yang indah ini, apa kau tidak akan ikut dengan kami Gerald?" ujar ibu balik bertanya pada kami.
"Eh, eh tentu saja aku akan ikut, aku hanya ingin bertanya apa kalian tidak merasa kelelahan sama sekali?" jawabku.
Ibu tersenyum mendengar ku.Ia menatap wajahku dengan mata cokelatnya terlihat sangat indah.
__ADS_1
"Tidak Gerald, kami tidak kelelahan sama sekali.Kami bahkan sangat ingin pergi bersama kalian", ujar ibu dengan tersenyum.
Aku terdiam mendengar jawaban dari ibu.Tanpa sadar, aku tersenyum kecil mendengarnya.Dengan cepat aku meraih tangan kanan ibu.
"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!" sahutku sembari menarik tangan ibu.
Ayah, ibu, Robert, dan Lilia tertawa lepas melihatku.Aku tersenyum lebar melihat mereka.Bersama-sama, kami berjalan sembari bergandengan tangan.Menuju tempat dimana itu akan menjadi kenangan terakhir kami.
...****************...
"Ahhh aku kenyang sekali", ucap Robert begitu kami keluar dari restoran.
"Tentu saja kakak kenyang, kakak yang menghabiskan daging milik Gerald bukan?" balas Lilia dengan tatapan tajam yang mengarah pada Robert.
"Emm, tidak tuh.Aku tidak melakukan apapun", jawab Robert memalingkan pandangannya.
Anak ini payah sekali dalam berbohong.Sudah jelas aku melihat ia menukar piring miliknya dengan piring milikku.Setidaknya buatlah alasan yang bagus untuk berbohong.
"Sudahlah Lilia, lagipula Gerald tidak mempermasalahkan hal itu, benar kan Gerald?" ujar ayah padaku.
Sebenarnya aku sangat ingin memukul kepala anak ini.Tetapi bagaimanapun juga, ayah telah mengganti makananku dengan yang baru.Jadi sebetulnya aku tidak masalah dengan itu.
Astaga, aku benar-benar ingin memukul kepalanya.
"Baiklah, ayo kita pulang semuanya.Hari sudah semakin larut", ajak ibu.
Kami sengaja tidak menaiki kereta kuda atau semacamnya.Selain dikarenakan jaraknya yang tidak terlalu jauh, berjalan seperti ini juga lebih membuat hubungan keluarga kami semakin erat.
"Apa lain kali kalian ingin jalan-jalan seperti ini lagi?" tanya ayah begitu kami sudah sampai di gerbang rumah.
"Tentu saja!" jawab kami serentak.
Ayah menepuk dahinya dan tertawa lebar.Begitu pula dengan ibu yang terlihat tertawa pelan melihat kami.
"Baiklah, sekarang cepat bersihkan diri kalian dan bersiap-siap untuk tidur", ujar ibu.
Kami bertiga mengangguk serentak dan segera berlari menuju pintu rumah.Aku menoleh ke arah belakang.Ibu dan ayah masih terlihat tertawa melihat tingkah kami.
Aku kembali melihat ke depan.Kurasa hari ini adalah salah satu hari yang menyenangkan dalam hidupku.Dan aku berharap untuk kedepannya keadaan akan tetap seperti ini.
Dan sayangnya aku salah besar....
__ADS_1
...****************...
Suara ribut terdengar dari depan rumah kami.Aku terbangun karena hal tersebut.Dalam kondisi setengah sadar, aku berjalan perlahan menuju jendela.
Seketika kedua mataku terbuka lebar.Ratusan orang atau mungkin ribuan orang terlihat berkumpul di depan rumah kami.Beberapa dari mereka membawa spanduk dan obor.Para Sentinel juga terlihat di antara mereka.
"Gerald! dimana kau?" panggil Robert begitu ia membuka pintu kamarku.
Lilia terlihat menggenggam erat lengan Robert.Ia terlihat sangat ketakutan sehingga membuatnya terlihat gemetar.
"Apa yang terjadi kak?" tanyaku penuh rasa penasaran.
"Entahlah, tetapi ayah telah menyuruhku untuk menjaga kalian berdua.Sekarang cepat ikut denganku.Kita akan bersembunyi di kamarku", jawab Robert.
Aku dengan cepat segera mengikuti Robert menuju kamarnya.Sekilas kami melihat massa telah mulai berusaha membuka paksa gerbang rumah kami.Sementara itu para Sentinel menjaga agar massa tidak masuk ke dalam rumah.
Robert langsung mengunci pintu kamarnya begitu kami masuk ke dalam.Ia membekukan pintu kamarnya agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam.
Aku mengintip dari balik jendela.Para massa sudah mulai melempari rumah kami dengan berbagai macam benda.Beberapa dari mereka bahkan melemparkan sihir mereka ke rumah kami.
Lilia menutup kedua mata dan telinganya.Badannya terlihat sangat gemetar.Entah apa yang terjadi dengan keluarga kami, kami berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Kalian berdua lihat kemari", ucap Robert tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jendela.
Aku dan Lilia segera berdiri untuk melihat apa yang terjadi.Seketika Lilia meneteskan air mata.
2 orang yang sangat kami kenali terlihat di sana.Orang yang terus memberikan apapun kepada kami.Orang yang terus memberikan kehangatan dan dukungan pada kami.Orang yang menjadi tempat keluh kesah kami, kini terlihat dibawa oleh para Sentinel dengan dilempari oleh massa.
Ayah dan ibu dibawa tanpa perlawanan oleh para Sentinel.Tanpa sadar aku meneteskan air mataku.Emosiku terasa akan meluap.Melihat dua orang yang kucintai diperlakukan dengan kasar membuatku ingin melakukan perlawanan.
Setelah ayah dan ibu dibawa pergi, para Sentinel mempersilahkan massa untuk masuk ke dalam rumah.Aku segera menatap Robert.Wajahnya terlihat sangat kebingungan.
Massa mulai merusak area sekitar rumah kami.Beberapa dari mereka membakar tanaman di sekitar rumah.
"Bakar rumah itu! bakar!" sahut massa dari luar.
Para massa mulai masuk ke dalam rumah kami.Aku mulai panik, begitu pula dengan Lilia.Kami menunggu keputusan yang akan diambil oleh Robert.
Oh Tuhan, tolonglah kami...
Bersambung....
__ADS_1