Anak Pewaris Kegelapan

Anak Pewaris Kegelapan
Markas besar


__ADS_3

Cerita mengenai kemunculan Undead di ibukota dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri.Penyelidikan besar-besaran dilakukan oleh pihak berwajib.


Kejadian ini membuat pengamanan di seluruh ibukota semakin diperketat, sehingga ibu selalu memaksaku untuk tidak bermain sendirian diluar.


Sekitar 2 minggu setelah kejadian sebuah surat datang ke rumahku.Pemanggilan diriku sebagai salah satu saksi kemunculan Undead ini dikeluarkan oleh Markas besar Sentinel kerajaan Heragon.


"Jadi siapa yang akan menemani Gerald pergi kesana?" tanya ayah menyadarkan ku yang sedang melamun.


Lilia dan Robert langsung mengacungkan tangannya serentak.


"Biar Lilia yang menemani Gerald yah!" ujar Lilia yang sudah sangat berinisiatif ingin menemaniku ke markas besar Sentinel.


"Kau masih kecil Lilia, lebih baik bila kakak yang mengantar Gerald pergi", timpal Robert sembari menatap tajam wajah Lilia.


Seketika tubuh Lilia gemetar oleh tatapan dingin dan tajam dari Robert.Anak ini bila sudah memberikan tatapan dinginnya terlihat sangat menyeramkan.


Tetapi Lilia tetap teguh pada niatnya untuk menemaniku.Kini ia juga ikut menatap Robert dengan tatapannya yang tajam.Baiklah itu mengerikan.


"Lilia yang akan mengantar Gerald!" ujar Lilia tidak mau kalah.


"Aku yang akan mengantar Gerald", balas Robert sembari meninggikan sedikit nada bicaranya.


"Aku! Aku yang akan menemani Gerald!" Lilia tetap bersikukuh ingin menemaniku pergi.


"Baiklah kalian berdua, kalian jangan berkelahi yaa", ucap Ibu yang mulai khawatir akan terjadi perkelahian antara kakak dan adik ini.


"Lilia, bagaimana jika kau ikut dengan ibu pergi mengantar makanan ke rumah kakek mu?" ujar ibu memberi solusi.


Lilia terlihat kebingungan sekarang.Pendiriannya kini mulai goyah.


"Emm, kurasa itu keputusan bagus bu.Lilia pasti akan merasa senang di sana, apalagi kakek akan memberikan uang ketika disana", sela Robert yang memotong pembicaraan ibu.


Kini Lilia melayangkan tatapan tajam dan kesalnya pada Robert.Sementara itu Robert hanya terkekeh dengan wajah tanpa dosanya.


"Dasar kakak, bisa-bisanya", omel Lilia yang kesal dengan ucapan Robert.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Lilia? apakah kau mau ikut dengan ibu?" tanya ibu kepada Lilia yang kebingungan.


Lilia menghela nafasnya.Lilia bukanlah anak yang tidak akan mempedulikan perkataan orang tuanya.Tentu saja dia akan ikut dengan ibu.


"Baiklah bu, Lilia akan ikut dengan ibu", jawab Lilia dengan berat hati.


Sementara itu Robert hanya tersenyum puas melihat Lilia.Ia pasti merasa telah mendapatkan kemenangan luar biasa.


"Baiklah kalau begitu, Robert nanti siang kau ikut dengan ayah mengantar Gerald ke markas besar Sentinel. Dan biar ayah peringatkan, jangan melakukan apapun didalam sana.Ikuti instruksi petugas dan tetap diam", jelas ayah kepadaku dan Robert.


Kami berdua hanya mengangguk dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.Aku yakin markas besar Sentinel tidak akan seseram yang dibicarakan.Ini akan mudah.


...****************...


Sesampai di markas besar Sentinel aku hanya terdiam didepan pintu masuk.Tempat ini sangatlah besar.Bahkan pintu masuknya saja setelah sudah sangat besar.


"Sedang apa kalian disana? ayo cepat masuk", panggil ayah yang menyadarkan ku dan Robert.


Rupanya Robert juga terpukau oleh besarnya ukuran pintu masuk tempat ini.Entah apa yang akan ada di dalam tempat ini, tetapi aku yakin itu akan menakjubkan.Kami berjalan menaiki tangga depan dan masuk menuju ke arah lobi.


Seorang wanita dengan pakaian merah terlihat sedang duduk di sana sembari menuliskan sesuatu.


"Gerald Adelio, kami datang untuk memenuhi panggilan permintaan informasi mengenai kemunculan makhluk kegelapan beberapa waktu yang lalu", jawab ayah dengan tatapannya yang serius.


Wanita itu melirik kearah ku, menghentikan tangannya yang sedang menulis sesuatu.


"Kau anak itu", ujar wanita itu sambil mengambil sesuatu dari lemari dibelakangnya.


Cerita mengenai diriku yang selamat dari serangan sekumpulan Undead sudah menjadi buah bibir di ibukota kerajaan.Tidak heran jika wanita itu terkejut yang melihatku yang masih terbilang kecil.


"Anda ditunggu di ruangan 2A di lantai 2 oleh Letnan Xander di sana", ujar wanita tersebut sembari menyerahkan berkas-berkas kepada ayah yang hanya diam dengan wajahnya yang serius.


"Ayo Gerald, Robert", ajak ayah sembari menarik tanganku pergi dari lobi menuju ke lantai 2.


Entah mengapa aku merasa ayah tidak terlalu suka berada di tempat ini.Sikapnya sejak berangkat dari rumah seolah tidak ingin ikut pergi denganku ke markas besar Sentinel.

__ADS_1


Kami menaiki tangga untuk menuju lantai 2.Beruntung untuk ruangan 2A posisinya tidak terlalu jauh dari tangga tempat kami berada.


"Ayah dan Robert akan menunggu diluar sini Gerald, bila ada apa-apa segeralah berteriak", ujar ayah menepuk bahuku dan menyuruhku masuk kedalam.


Entah mengapa aku merasa cukup tegang disini.Ruangan ini kurang lebih seperti ruangan interogasi.


"Halo", sapa seseorang di dalam ruangan itu.


"Halo", jawabku pada orang tersebut.


"Perkenalkan namaku Xander, orang yang akan berbincang-bincang denganmu hari ini", sapa Xander sambil tersenyum lebar.


Aku yakin maksud dari berbincang-bincang baginya adalah interogasi total.Tetapi Xander terlihat sangat ramah kepadaku.Sepertinya aku bisa melewati ini.


"Siapa namamu?" tanya Xander dengan tangannya yang menyodorkan sebuah cokelat untukku.


Aku hanya terdiam melihatnya.Aku teringat pesan ayah yang sudah bilang bahwa jangan lakukan apapun di tempat ini.


"Oh ayolah nak, kau boleh menyimpan cokelatnya kok", bujuk Xander dengan senyumnya yang lebar.


Orang ini sangat hebat dalam membujuk anak kecil sepertiku.Wajahnya yang tersenyum dengan tangannya yang menyodorkan sebuah cokelat pasti akan membuat luluh hati anak-anak seusiaku.


Aku memutuskan untuk mengambil cokelat tersebut dan menyimpannya di dalam saku bajuku.


"Jadi siapa namamu?" tanya Xander kepadaku yang sedang memasukan cokelat ke dalam saku bajuku.


"Gerald, Gerald Adelio", jawabku dengan pelan.


"Ahh keluarga Adelio, baguslah kau berasal dari keluarga yang sangat baik", ujar Xander sembari tersenyum lebar kepadaku.


Senyuman Xander terlihat cukup menyebalkan.Rasanya aku ingin sekali menendang wajahnya.


Xander terlihat menuliskan sesuatu di atas kertas, yang sepertinya adalah kertas untuk menulis laporan dari hasil interogasi.


"Bagaimana perasaanmu setelah lolos dari para Undead pada beberapa waktu yang lalu?", tanya Xander tetap dengan senyuman menyebalkan nya.

__ADS_1


Baiklah, kita mulai masuk ke pertanyaan utama dari Xander.


Bersambung...


__ADS_2