
"Yahh cuaca diluar sangat dingin bukan?" ujar kakek dengan segelas teh hangat di tangannya.
"Iya kek, Lilia sampai menggigil ketika diluar tadi", jawab Lilia yang duduk di sebelah kakek.
"Aku tidak merasakan apa-apa tuh", sela Robert menyela pembicaraan Lilia dan kakek.
"Kau diam saja kak", jawab Lilia dengan tatapannya yang tajam pada Robert.
Robert hanya terkekeh melihat Lilia mengomel padanya.Sementara itu Lilia terlihat cukup menyeramkan dengan tatapan matanya yang menusuk.
"Ayah, aku memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan.Apa kita bisa bicara sekarang?" tanya ayah tiba-tiba pada kakek.
Kakek hanya mengangguk mendengar pertanyaan ayah dan menyuruh kami untuk pergi ke tempat lain.
Aku, Lilia, dan Robert pergi menuju perpustakaan di rumah kakek.Walaupun rumah ini cukup besar, kakek hanya tinggal bersama para pelayannya disini.
Nenek sudah meninggal jauh sebelum aku lahir.Sementara itu saudara ayah yang lain pergi jauh ke suatu negeri.
Begitu kami memasuki perpustakaan, mata Robert terlihat berbinar-binar.Sangat berbeda dengan Lilia yang lebih suka bergerak aktif.
"Lihat buku itu Gerald, Buku itu juga!" ujar Robert kegirangan melihat jumlah buku yang begitu banyak.
"Apa menariknya buku-buku itu?" sela Lilia yang tidak mengerti dengan sikap Robert.
"Hoo, kau tidak akan mengerti apa hebatnya buku-buku ini.Bukankah otakmu hanya lebih menyukai kegiatan tidak berguna seperti bertarung?" ejek Robert.
"Ahh, jadi kau ingin bertarung denganku?" tanya Lilia dengan tangannya yang mengeluarkan percikan listrik kecil.
"Dengan senang hati", jawab Robert mengeluarkan hawa dingin dari kedua tangannya.
"Baiklah kalian berdua berhenti, kalian mau menghancurkan rumah kakek?" ujar ku melerai mereka berdua.
Jujur saja, terkadang aku cukup takut berada di dekat mereka berdua.Robert adalah anak dingin unggulan di kelasnya.
Sementara itu Lilia adalah anak gila pertarungan di akademi.Sikap Lilia terkadang memang mengerikan.
"Baiklah, kurasa Gerald benar.Kalau begitu di lain waktu kakak harus menemani Lilia latihan!" ujar Lilia menunjuk pada Robert.
__ADS_1
Robert hanya tersenyum tipis mendengar Lilia.Tatapannya menjadi sangat dingin dan tajam.Tetapi Robert memutuskan untuk membuka salah satu buku di dekatnya.
Sementara itu Lilia pergi keluar perpustakaan untuk mengambil cemilan.Sedangkan aku hanya terdiam, tidak tahu ingin melakukan apa di rumah kakek.
...****************...
Karena bosan aku memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah kakek.Rumah ini cukup besar dengan taman luas di belakang.
Cukup disayangkan, akibat hujan salju kami tidak bisa bermain di taman belakang rumah kakek.
Aku pergi menuju lantai 2 rumah kakek.Sesuai dugaan ku tempat ini hanya penuh dengan kamar dan beberapa tempat bersantai
Biasanya bila kami akan menginap di rumah kakek, kami menempati kamar yang dekat dengan taman.Terkadang Lilia lebih suka melompat keluar lewat jendela dibanding berjalan menuruni tangga untuk pergi ke taman.
Dan itu selalu membuat ibu panik dan marah padanya.Meskipun begitu Lilia adalah anak yang terlalu aktif.Lilia sering mengabaikan peringatan dari ibunya dan melakukan hal yang berbahaya.
Beberapa hari yang lalu, Lilia pulang ke rumah dengan keadaan tangan terluka dan pakaian yang kotor.Tentu saja ibu sangat khawatir, tetapi dengan tidak bersalahnya Lilia menjawab bahwa ia sedang mencari beberapa bunga di hutan.
Aku melanjutkan menjelajahi rumah kakek.Sejak aku datang ke dunia ini aku di penuhi oleh rasa penasaran.Beberapa bulan yang lalu aku pernah terkejut dan berlari ketika melihat kucing berkepala 3 dan mempunyai sayap.
Karena itulah aku ingin cepat dewasa dan mengeksplorasi dunia ini.Dunia ini terlalu menarik untuk diabaikan.
"Nak..."
Aku segera melompat menjauhi pintu kamar yang biasa kami tempati.Jantungku berdegup begitu kencang begitu mendengar suara misterius itu.
"Nak..."
Suara itu muncul lagi.Suaranya terdengar sangat berat dan serak.Sehingga kata-katanya sulit untuk dipahami.
Aku segera berlari menjauh dari kamar itu.Suara tadi benar-benar terasa ada tepat di belakangku.Entah apa yang ada di sana, yang pasti suara itu sangatlah misterius dan menyeramkan.
Dengan terburu-buru aku menuruni anak tangga dan tidak sengaja menabrak Lilia yang membawa camilan untuk Robert.
"Aduh... Apa yang kau lakukan Gerald?" tanya Lilia begitu aku tidak sengaja menabraknya.
"Kak... kak... Ta-tadi ada..." jawabku dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan Gerald? Dan kenapa tubuhmu begitu berkeringat?" tanya Lilia keheranan.
Tanpa kusadari tubuhku berkeringat begitu banyak.Rasa takut terus menguasai diriku.
"Baiklah, tunjukkan pada kakak hal yang membuatmu takut", ujar Lilia.
Eh? Apa yang dikatakan oleh Lilia? Apakah dia mengetahui kalau ada sesuatu yang membuatku takut?
Dengan tangan gemetar aku menunjuk ke arah lantai 2 pada Lilia.Wajah Lilia tersenyum sangat lebar, seperti mendapatkan sesuatu yang menyenangkan di rumah kakek.
"Ayo Gerald, tunjukkan pada ku hal yang membuatmu takut itu", ujar Lilia dengan kedua tangannya yang mengeluarkan percikan listrik kecil.
Baiklah anak ini benar-benar menyeramkan.Aura semangatnya benar-benar terlihat dari kedua bola matanya.
"Apa yang kau tunggu Gerald? Cepat tunjukkan padaku", ajak Lilia menyadarkan lamunanku.
"Ah baiklah", jawabku sembari menaiki anak tangga menuju ke lantai 2.Lebih tepatnya ke kamar dimana suara aneh itu muncul.
Aku terdiam di depan pintu kamar.Tanganku sangat berkeringat dan bergemetar hebat.
Tiba-tiba saja Lilia membuka pintu itu lebar-lebar.Anak ini benar-benar tidak tahu apa yang namanya waspada.
"Dimana hal yang membuatmu takut itu Gerald?" tanya Lilia kebingungan.
Sementara itu aku hanya terdiam.Tubuhku terpaku tidak bisa bergerak sama sekali.Keringat dingin mulai bercucuran dari kulitku.
"Hmm? Ada apa denganmu?" tanya Lilia yang kebingungan melihatku.
Lilia terlihat seperti tidak menyadari apa yang ada di depannya.Tetapi berbeda denganku.
Siluet hitam itu tersenyum lebar padaku.Dengan kedua matanya yang berwarna merah darah terlihat bersinar dari balik kegelapan.
Aku tidak bisa berhenti bergemetar.Rasanya aku akan kehilangan kesadaran ku.Lilia hanya terdiam dan terus memanggilku yang hanya terdiam di depan pintu.Siluet itu membuka mulutnya dan mengucapkan sesuatu.
"Ketemu...."
Bersambung...
__ADS_1