
"Kamu ngajar nak Annisa, Zam?" Tanya abah kepada Azzam
"Baru sekali Bah"
"Yaudah Annisa pamit ya, mau keliling-keliling pondok pesantren" Ujar Annisa pada mereka
Annisa pun menuju perkarangan pondok pesantren, Annisa masih seperti mimpi bertemu Azzam hari ini. Seketika Annisa pun merasa bersalah kepada Istri serta anak-anak Azzam karna sudah egois karna memiliki rasa ini.
Annisa terdiam cukup lama dan akhirnya dering ponsel Annisa menyadarkan lamunannya. Namun Annisa abaikan panggilan tersebut. Annisa pun melanjutkan berkeliling pondok pesantren, disaat ia sedang berjalan tiba-tiba ada suara yang memanggil.
"Annisa" Ucap seorang lelaki
Annisa mencari sumber suara dan ternyata yang memanggil dirinya adalah Raihan. Senior di kampusnya tersebut.
"Loh, Raihan. Lagi ngapain disini?" Tanya Annisa
"Dari tadi aku merhatiin, ini bener Annisa bukan sih dan ternyata bener. Aku lagi main aja"
"Jenguk sodara atau siapa di pondok pesantren ini?"
"Hmm lagi kumpul keluarga Nis"
"Berarti Pak Kyai kakek kamu?"
"Ya begitulah" Kata Raihan sambil garuk kepala yang tidak gatal
'Berarti masih sepupuan sama Mas Azzam' batin Annisa
"Ehiya gimana, kemarin ada yang luka?"
"Ada tapi sedikit kok Han, cuma lumayan klo diajak sujud ya"
"Nanti lututnya bersaksi walaupun sakit tapi sama pemilik tubuh tetap diajak sholat. InsyaAllah jadi penggugur dosa"
"Aamiin"
Annisa merasa Raihan lelaki yang baik, beda dari temen lelakinya. Raihan sangat menjaga dirinya, bahkan saat berbicara pun terlihat sangat sopan. Andai Raihan datang duluan dibanding Azzam mungkin Annisa akan jatuh cinta kepada Raihan namun perasaan Annisa sudah di penuhi oleh Azzam nya walaupun dia tau rintangan didepan banyak menanti terbukti dengan kejadian hari ini. Azzam datang bersama keluarga kecilnya, terlihat seperti keluarga bahagia. Orang yang melihat akan setuju dengan pandangan ku namun mereka tak tahu apa yang terjadi pada rumah tangganya.
Annisa pun pamit masuk karena tidak mau sampai Azzam melihat dirinya sedang bersama dengan Raihan.
Tak lama Annisa masuk, Raihan pun masuk. Namun mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Annisa bersama keluarganya dan Raihan pun sama.
"Ayo semua kita makan ya" Begitulah ucap salah satu anak dari Pak Kyai.
Annisa pun membuntuti sang Ayah dan Ibunya, namun ketika makan Annisa memilih mencari tempat agak pojok karna lagi-lagi khawatir dengan Azzam.
"Boleh gabung Nis?" tanya Raihan
__ADS_1
"Oh silakan, lagian kan kamu yang tuan rumahnya" jawab Annisa
Mereka sempat berbincang sedikit karna Annisa tidak terlalu antusias untuk banyak bicara hari ini.
"Ini pacar kamu, Raihan?Kenalin dong ke Keluarga" Ucap wanita yang menyebut dirinya Ibu pada kedua anak Azzam.
Annisa pun berhenti makan karna kaget sekaligus khawatir wanita tersebut tau akan hubungannya dengan Azzam.
"Bukan Mba, ini temen kampus dan kebetulan dia tamu Kakek"
"Pacar juga gapapa kok Raihan"
"Dia baik kok, sholeh pula" sambungnya
Annisa yang mendengar itu hanya senyum. Karna suaranya terasa hilang ditelan rasa khawatir.
Wanita tersebut pergi meninggalkan kami, dia memilih duduk di dekat Azzam. Ketika Annisa sedang memperhatikannya tiba-tiba mata Annisa dan Azzam bertemu. Mata Azzam terlihat sendu, seperti banyak hal yang ingin dia sampaikan.
"Maaf ya, tadi istrinya Pak Azzam dosen di kampus kita. Dia gatau jadi asal ngomong. Maaf ya Nis" ucap Raihan yang menyadarkan Annisa karna mata Annisa tak ingin lepas dari memandang Azzam.
"Iya ga Apa-apa"
Mereka menyelesaikan makannya. Keluarga Annisa memanggil dirinya untuk berpamitan pulang pada keluarga Azzam.
Mata Azzam tak lepas memandang Annisa ketika berpamitan, mungkin kalau tidak ada orang Azzam dan Annisa sudah banyak bicara.
"Assalamu'alaikum. Mas, Dek.. " Kata Annisa dan Azzam secara berbarengan.
"Dek, aku mohon temani aku terus. Aku gatau kalau kamu pergi, kamu ga angkat telpon aku aja Mas udah ngerasa kalut dek. Mas takut kehilangan kamu"
"Mas, aku pun takut. Aku takut salah akan perasaan ini, menyakiti hati wanita lain. Takut salah akan langkah ini. Aku senang melihat kalian tadi bersama. Jujur. Kalian seperti keluarga bahagia. Apa kamu ga mau memperbaiki semuanya Mas?gausah mikirin perasaan aku, aku bahagia kalau kamu bahagia Mas"
"Jangan bicara seperti itu dek, sakit aku dengernya. Kamu tau kan perjuangan aku seperti apa untuk perbaiki ini semua. Mungkin ini memang udah takdir Mas seperti ini. Kamu tau, tadi kami pun Dimediasi oleh Abah namun hasilnya tetap sama. Keluarga Mas sudah menyerahkan keputusan sama Mas"
"Terus aku harus gimana Mas?"
"Kamu bantu do'a Mas terus, agar semua Allah mudahkan jalan kita. Mas mohon, kamu jangan berpaling dari Mas"
'Kamu egois Mas' batin Annisa
"Tadi mas lihat kamu cukup akrab dengan sepupu mas, Raihan. Sakit hati mas lihat itu dek. Baru kali ini Mas merasakan cemburu, percayalah"
"Raihan baik, ga mungkin aku bisa nolak"
"Aku tau, dia sempurna sebagai lelaki apalagi dia lajang"
"Kamu Mas yang sempurna, aku beruntung dicintai sama kamu"
__ADS_1
Mereka terdiam.
"Aku juga beruntung mendapatkan hati gadis sholehah, cantik, pinter dan selalu mau mendoakan aku disetiap sujudnya. Terimakasih ya Cinta"
"Aku juga terimakasih atas cintanya"
Terdengar suara anaknya memanggil Mas Azzam.
"Aku temani Bilqis dulu ya"
"Iya Mas"
"Assalamu'alaikum. Mimpiin aku ya"
"Wa'alaykumussalam. Iya"
Mas Azzam selalu bisa membuat hati Annisa tersipu malu dengan kata-kata sayangnya.
Annisa pun menjalankan rutinitas harian seperti biasanya. Hubungan dengan Azzam pun baik-baik saja hanya saja beberapa hari ini Azzam sangat disibukkan karna yang terdengar isunya Azzam akan dicalonkan sebagai Rektor namun belum ada konfirmasi dari Azzam.
Annisa pun mulai rindu dengan Azzam. Ketika Azzam telpon terlihat sangat curi-curi waktu disela kegiatannya. Biasanya dia akan minta do'a Annisa agar semua dipermudah.
Ketika Annisa sedang membuat kue di dapur telpon Annisa berdering.
"Assalamu'alaikum. Dek, Mas rindu"
"wa'alaykumussalam. Aku juga Mas"
"Kamu lagi apa?"
"Aku lagi buat kue bantu bunda karna bunda harus pergi ke majlis taklim jadi aku yang diminta tolong untuk buat"
"Gadis Mas bisa buat kue?"
"InsyaAllah bisa Mas tapi gatau menurut Mas enak atau engga"
Annisa pun tertawa
"Kan Mas belum cobain kue buatan kamu jadi belum bisa kasih jawaban"
"Nanti kapan-kapan aku buatin ya, khusus buat Mas Sholeh ku"
"Aku udah lega dengar suara kamu. Hati aku adem lagi. Terimakasih ya"
"Terimakasih doang nih Mas?"
"Oke, nanti Mas akan kasih hadiah buat kamu. Kamu hadiahi doa terus ya buat Mas. Yaudah kamu lanjutin buat kuenya, aku ada meeting setelah ini. Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Wa'alaykumussalam"