
Setelah semuanya beres, mereka bergegas ke mobil. Tak lama Hafiz tertidur karena memang sudah masuk waktu tidurnya. Selama perjalanan mereka berada dipikiran masing-masing. Azzam memikirkan nasib Sabil dan Balqis sedangkan Annisa menerka-nerka apa yang sedang terjadi.
Annisa melihat raut wajah Azzam, dia seperti sedang ketakutan namun entah apa yang di takuti saat ini.
"Sayang, kamu tidur aja. Kasian kamu sudah lelah seharian, sekarang istirahat lah. Nanti kalau sudah sampai baru aku bangunkan" Kata Azzam.
Annisa pun setuju karena Annisa merasa lelah sekali, jadi biarlah dia memberikan hak istirahat pada tubuhnya karena Annisa pun gatau apa yang akan terjadi maka siapkan tenaga. Tak lama Annisa pun terlelap, Hafiz masih dalam pelukannya.
Sedangkan Azzam sibuk dengan pikiran nya dan tak lama ponselnya berdering. Azzam mengabaikan nya, lalu sepertinya dia menelpon seseorang dan hanya bicara.
"Tolong sampaikan tunggu saya, saya sedang menuju pesantren"
Begitulah yang Annisa dengar walaupun Annisa terlelap namun masih terdengar jelas ucapan Azzam karena Azzam mengucapkan dengan nada tegas. Annisa tetap menutup matanya, khawatir Azzam tau kalau dia sudah bangun.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya sampailah di pesantren orang tua Azzam.
"Hafiz biar aku gendong" Kata Azzam.
"Kamu tolong bawakan barang-barang aja Mas, Hafiz biarlah aku yang gendong khawatir bangun pula"
Azzam pun mengerti dan langsung membukakan pintu mobil lalu membantunya turun. Annisa menunggu Azzam menurunkan semua barang yang dibawanya kemudian mereka masuk bersama.
"Assalamu'alaikum" Ucap Annisa dan Azzam.
Annisa kaget, didalam pesantren ternyata sudah banyak orang kumpul. Hati Annisa semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa semua berkumpul, padahal tak ada acara apapun. Kemudian Annisa menyalami mereka satu persatu begitupun Azzam.
__ADS_1
Kemudian Adik Mas Azzam membantu Annisa dengan menawarkan Hafiz untuk di tidur kan dikamar nya. Annisa pun setuju lalu ikut dengan nya ke kamarnya. Di dalam kamar Annisa masih terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tentang apa yang terjadi.
"Kak, Hafiz biar aku yang jaga" Ucap adiknya Mas Azzam.
"Iya, aku titip ya. Nanti kalau bangun, serahkan ke aku aja ya atau panggil aku"
Adiknya Mas Azzam mengangguk paham. Annisa keluar kembali, bergabung bersama keluarga yang lain namun baru akan menyapa saudara yang hadir tiba-tiba muncul istri Mas Azzam. Dia sangat marah terlihat dari kilat matanya. Annisa pun langsung duduk.
Istri Mas Azzam tak sendiri, dia bersama Sabil dan Balqis. Mereka pun membawa koper besar. Azzam berusaha mengambil Sabil dan Balqis namun ditepis oleh istrinya. Anak-anak terlihat ketakutan, mereka pun menangis.
Annisa tak tega melihat mereka seperti ini. Melihat kekasih hatinya sedih dan anak-anak ketakutan seperti ini. Annisa mencoba bangkit dari duduknya dan meminta izin untuk mengambil Sabil dan Balqis.
"Mba, biarkan mereka istirahat. Dia terlalu kecil untuk memahami ini semua. Dunia mereka adalah bermain, jangan kita renggut itu semua" Kata Annisa sambil memeluk Sabil dan Balqis.
Annisa pun tak menyangka niat baiknya malah dibalas seperti itu, kemudian salah satu saudara Azzam menarik tangan Sabil dan Balqis untuk dibawanya kedalam sebuah kamar agar tak mendengar hal-hal yang tidak sepatutnya mereka dengar.
Annisa hanya terdiam mendengar ucapan istri Mas Azzam didepan saudara-saudaranya. Annisa seperti ditelanjangi oleh perkataan nya.
"Kamu perempuan perebut suami orang, perebut kebahagiaan anak-anak ku. Andai kamu bersama Raihan saja tak akan begini ceritanya. Kamu dan Mas Azzam egois"
Hati Annisa berdetak cepat, entah karena kesal atau malu. Azzam pun menarik Annisa dalam pelukannya.
"Jaga bicara kamu. Andai kamu berprilaku baik, aku tak akan berpaling. Kamu yang selalu minta aku ceraikan dari awal menikah, kamu pula yang meminta ku berhenti dari semua amanah ku" Kata Azzam dengan suara bergetar.
Annisa pun menahan Azzam untuk tak bicara lebih menyakitkan, karena Azzam harus ingat ini adalah aib keluarganya maka tetap dia harus jaga.
__ADS_1
"Mas, istighfar. Ini banyak orang. Jangan kamu permalukan istri kamu" Kata Annisa.
"Lihat kamu, dia selalu membela kamu. Dia tak pernah sedikit pun menuntut aku harus ini itu Dia tak pernah menuntut waktu padahal dia sedang mengandung kondisi besar bahkan hampir melahirkan tanpa seorang suami disampingnya namun dia tak pernah mengeluh bahkan marah dengan keadaan. Dia selalu melewati kesakitan seorang diri, tak pernah menuntut aku untuk selalu bersamanya. Annisa justru selalu mengingatkan aku untuk bersikap adil terutama kepada Anak-anak agar tak kehilangan sosok ayah. Anak-anak pun nyaman bersamanya, berbeda ketika bersama dengan ibu kandung nya. Aku lelah dengan semua sikap dan perilaku kamu yang tak pernah berubah"
Istri Mas Azzam terdiam namun sangat marah terlihat jelas dimatanya.
"Baiklah, kalau begitu biarkan anak-anak aku bawa. Aku akan pergi keluar negeri. Biarkan anak-anak ikut dengan ku dan kupastikan kamu ga akan bisa bertemu dengan mereka. Dan sudah pasti hak asuh akan jatuh pada ku"
"Kamu egois, bicarakan secara baik-baik. Jangan seperti ini tiba-tiba ingin membawa mereka pergi"
"Aku gamau berbagi dengan nya. Kalau kamu memang ingin anak-anak tetap bersama. Ceraikan dia, talak dia sekarang juga"
Annisa lemas mendengar ucap talak. Apakah ini takdirnya, harus menerima talak dari kekasih hatinya. Annisa pun menangis, dia tak bisa berbuat apa-apa jikalau memang sudah takdirnya. Annisa teringat Hafiz, lalu Annisa pun meninggalkan mereka semua dan menemui Hafiz yang sedang terlelap.
Annisa tak ingin tau kelanjutannya seperti apa, dia hanya ingin bersama anaknya. Hafiz. Annisa mengusap lembut hafiz yang sedang terlelap, Annisa merasa bersalah kepada sang anak. Dia masih terlalu kecil namun sudah akan dipisahkan dari Ayahnya.
Tangis Annisa menjadi, dia sesegukan didalam kamar. Adik Mas Azzam pun ikut menangis melihat Annisa, dia merasa kasian karena begitu banyak cobaan yang harus dilaluinya. Dia pun mendekati Annisa dan memeluk nya. Dia mencoba menguatkan Annisa.
"Kak, yang sabar ya. Allah tak pernah salah memilih pundak. Aku yakin Kakak dan Kak Azzam bisa melewati ini semua dan bersatu kembali"
"Entah lah, ini memang sudah takdirku seperti ini. Aku ikhlas, aku tak tega melihat Mas Azzam sedih karena harus berjauhan dengan Sabil dan Balqis. Karena mereka pun anak-anak ku"
Tak lama pintu kamar dibuka, Ummi masuk kedalam kamar lalu langsung memeluk Annisa. Annisa masih terus mengeluarkan air mata nya, rasanya sedih sekali jika memang Azzam dan Annisa harus berpisah.
Annisa pun tak tau bagaimana kelanjutannya, apakah Azzam mempertahankan Annisa atau Annisa akan ditalak.
__ADS_1