
Selama perjalanan Annisa tak lepas berdoa agar dikuatkan hatinya ketika bertemu keluarga Mas Azzam terutama Abah. Annisa paham, Abah belum ikhlas menerima Annisa.
Azzam sesekali memegangi perut Annisa sambil bertanya kuat atau tidak atau sekedar bertanya mau istirahat dulu atau tidak. Annisa selalu dibuat terharu dengan perlakuan Azzam. Semoga anak ini kelak akan seperti Ayahnya yang bisa menjadi kan wanita ratunya.
Kini Annisa sudah sampai di perkarangan pesantren yang artinya sudah sampai dirumah orang tua Azzam. Annisa sebelum keluar mobil, menarik tangan Azzam.
"Mas, do'ain aku semoga Allah beri kekuatan untuk aku"
"Iya sayang, kamu tenang aja kan ada Mas"
Akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah ternyata disana sudah ada sanak saudara yang memang tahu akan pernikahan kedua Azzam. Mereka menyambut Annisa dan Azzam. Mereka menyayangi Annisa karena mereka tau Annisa tak salah dalam hal ini. Ini semua memang sudah takdir yang harus dijalani
Annisa pun bersalaman kepada ummi, Ummi memeluk erat Annisa. Ummi selalu berterimakasih ketika bertemu dengan Annisa perihal Azzam. Ummi mendoakan si cabang bayi serta mengusap lembut perut buncit Annisa.
Dilanjut bersalaman dengan sanak saudara yang lain. Mereka baik semua terhadap Annisa namun ada yang kurang yaitu Restu Abah di tengah-tengah kami. Annisa pun tak melihat keberadaan Abah. Annisa sedih namun ummi mengusap punggung Annisa dan berkata.
Setelah lama berbincang-bincang serta bertukar kabar dengan sanak saudara Azzam tiba-tiba Ummi menghampiri Annisa.
"Nak, temui Abah diruang kerja Abah. Abah ingin bertemu kamu" Kata Ummi.
Annisa sempat dibuat kaget dan bingung karena ini adalah kali pertama pertemuannya dengan Abah dengan status sebagai menantu. Annisa pun diantar oleh ummi. Annisa terus melantunkan dzikir sebagai penenang.
Annisa terus mengikuti langkah Ummi menuju ruang kerja Abah. Ummi berhenti dan membuka pintu sebuah ruangan, disana ternyata sudah ada Abah sedang duduk sambil berdzikir. Ummi dan Annisa menucap salam, Abah pun menjawab dan mempersilahkan Annisa duduk.
Ummi duduk disamping Abah, Annisa duduk berhadapan dengan Abah.
"Apa kabar kamu Nak?" Tanya Abah.
Annisa terkejut dengan panggilan Abah.
"Alhamdulillah baik Bah, Abah sendiri bagaimana keadaannya?"
"Alhamdulillah Abah dan Ummi mu sehat"
Lagi-lagi Annisa dibuat terharu. Abah serasa sudah menganggap Annisa sebagai anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana cucu Abah?"
Annisa melihat Abah sekilas, tatapan Abah tulus menanyakan itu. Abah sepertinya sudah memberikan restunya, terbukti dengan menganggap calon bayi dengan sebutan cucu.
"Alhamdulillah sehat Bah dan insyaallah laki-laki"
"Alhamdulillah. Semoga kelak tumbuh jadi anak sholeh, ber akhlakul karimah serta qurrata'ayun bagi yang melihatnya"
"aamiin. Makasih Abah do'anya"
"Coba cerita, apa Azzam selama tinggal sama kamu dia nyusahin kamu"
"Engga Bah, beliau sangat pengertian"
"Bilang sama Abah dan Ummi kalau Azzam macam-macam ya"
"Iya Abah"
Tak lama Azzam datang keruang kerja Abah. Dia mencium tangan Abah dengan takzim. Kemudian Azzam duduk disebelah Annisa.
"Kamu apa kabar Zam?"
"Alhamdulillah kami semua baik. Kamu jaga baik-baik ya Annisa dan calon cucu Abah. Jangan kamu sakiti hati Annisa. Dia wanita baik. Hatinya begitu lembut. Abah rasanya tak punya alasan untuk tak merestui kalian sekarang"
"Iya Bah, Azzam akan menyayangi serta menjaga Annisa sebaik mungkin. Azzam tak mungkin menyakiti perempuan sebaik Annisa. Azzam dahulu pun jatuh cinta pada kelembutan hatinya"
"Yasudah kamu malam ini bermalam disini atau balik?"
"Izin Bah, Azzam ingin bermalam dirumah orang tua Annisa karena kasian Annisa sudah lama sekali memendam rindu pada orang tuanya hanya karena mengabdi sebagai istri Azzam"
"Iya bagus itu, kamu bermalam lah disana. Annisa istri yang baik sehingga dia rela memendam rindu nya demi ridho suami"
Azzam dan Annisa pun pamit. Ketika Annisa ingin mencium tangan Abah, Tiba-tiba Abah memberikan sebuah tasbih cantik kepada Annisa.
"Pakai lah ini, Abah sengaja membelikan ini khusus buat kamu. Tetaplah jadi wanita yang berhati lembut. Sabar. Ujian adalah teman hidup. Kelak jika sudah tidak kuat cerita lah ke Abah dan Ummi. Jaga calon cucu Abah ya, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah"
__ADS_1
Annisa pun menangis mendengar penuturan Abah. Annisa menangis bahagia karena akhirnya Abah menganggap Annisa menjadi menantu seutuhnya. Annisa pun tak menyangka Abah sebegitu sayangnya dengan Annisa dan calon cucunya.
Akhirnya Azzam dan Annisa pamit dengan semua sanak saudara yang hadir, mereka pun bergegas ke rumah orang tua Annisa. Sesampainya dirumah Annisa, mereka pun disambut oleh kedua orang tuanya.
Annisa memilih untuk pamit ke kamar untuk bebersih dan meluruskan kaki karena kondisi hamil membuatnya gampang lelah terutama bagian kaki karena menopang perut yang semakin besar.
Azzam berbincang-bincang dengan ayah Annisa banyak hal, ayah Annisa salut dengan Azzam walaupun ilmunya tinggi namun ketika ngobrol dengan ayah Annisa dia tak pernah menunjukkan kecerdasannya.
Malam makin larut, ayah menyuruh Azzam untuk istirahat. Azzam pun pamit ke kamar Annisa. Disana ada Annisa yang sedang melaksanakan sholat, dia pun bergegas ke kamar mandi untuk bebersih.
Setelah selesai bebersih, Azzam lanjut melaksanakan sholat. Annisa memilih memilih beberapa buku yang akan dia bawa ke rumahnya untuk menemani dirinya ketika Azzam tak bersamanya. Azzam tiba-tiba memeluk Annisa yang fokus memilah buku.
"Fokus banget, sampe ga sadar aku udah selesai sholat" Ucap Azzam.
"Maaf ya Mas, aku lagi milih-milih buku buat aku bawa ke rumah kita"
"Ohiya kamu udah lama ya ga beli buku. Sepulang dari sini kita mampir ke toko buku, kamu boleh beli buku sebanyak mungkin"
"Bener?"
"Bener lah, buat kamu apapun aku beri sayang"
"Ohiya semoga kamu betah ya tidur disini. Kamar aku sempit, mungkin tak seluas kamar kamu dirumah Abah atau dirumah istri kamu"
"Dimana pun kalau sama kamu aku akan betah sayang karena kamu sumber kenyamanan kamu"
Annisa memeluk Azzam. Mereka pun merajut malam ini dengan indah. Annisa bisa tidur dengan berbantalkan senyum karena restu Abah padanya. Annisa tak putus mengucap syukur kepada Rabbnya karena telah meluluhkan hati Abah.
Keesokan harinya, Annisa terbangun sedikit telat karena setelah subuh tadi dia tertidur kembali. Annisa merasa lelah karena perjalanan jauh jadi setelah subuh tadi memang dia izin kepada Azzam untuk tidur sebentar karena tak kuat dengan rasa lelahnya dan Azzam pun menyuruh Annisa istirahat saja.
Annisa pun keluar kamar, dia segera ke dapur untuk mencari sang Ibu. Ternyata benar, disana sang ibu sedang menyiapkan sarapan seorang diri.
"Bu, maafin Annisa ya. Annisa kesiangan"
"Kamu istirahat aja nak, ibu tau kok kamu lelah apalagi lagi hamil begini. Gausah sungkan sama ibu, ibu bisa sendiri nak nyiapin sarapannya"
__ADS_1
"Annisa bantu aja ya Bu, Annisa udah seger kok sekarang"
"Yaudah kamu tolong siapin bumbu nasi goreng ya. Ibu mau buat adonan kue dulu, biar Azzam icip-icip kue buatan Ibu"