Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Tamparan


__ADS_3

Azzam pun memeluk Annisa. Azzam merasa beruntung memiliki Annisa, karena Annisa benar-benar pelipur lara bagi Azzam.


"Sayang, besok aku akan bangun beberapa saung di villa kita agar nanti santri datang sudah ada tempatnya"


"Iya Mas gimana baiknya aja"


Keesokan paginya benar, Azzam dari selesai sholat subuh sudah sibuk dihalaman depan dan ternyata ada Raihan disana. Annisa sudah lama sekali tak bertemu Raihan karena Raihan sudah mulai bekerja diluar negeri.


Annisa pun menghampiri mereka sambil membawa teh hangat beserta pisang goreng.


"Mas, aku letakan disini ya"


"Iya sayang, makasih ya"


"Kamu apa kabar Nis?" Tanya Raihan.


"Alhamdulillah baik. Kakak sendiri apa kabar?Lagi libur atau ambil cuti Kak?"


"Dia mau dijodohkan Umminya sayang makanya balik ke Indonesia" Jawab Azzam.


"Ah kamu Mas. Aku balik karena cuti Nis"


Annisa pamit masuk ke dalam untuk menyiapkan makan siang. Sesekali Annisa menengok kekasih hatinya, Azzam sangat serius sehingga tak sadar diperhatikan oleh Annisa. Annisa yang melihatnya tersenyum bahagia.


Setelah makanan siap, Annisa memanggil Azzam dan Raihan agar makan siang dahulu. Mereka pun makan siang bersama.


"Ini masakan kamu Nis?Kamu beruntung banget Mas bisa makan makanan enak begini"


"Iya dong, makanya kamu cepet cari istri"


"Bantu cari dong Mas, tapi request kaya Annisa ya Mas"


"Udah udah, lagi makan kok malah ngobrol sih"

__ADS_1


Annisa menghentikan obrolan dua lelaki tersebut karena rasa-rasanya tak akan berujung. Annisa bahagia sekali melihat kebersamaan ini, terutama melihat senyum Azzam karena beberapa hari yang lalu Azzam sudah lelah dengan urusannya.


Malam hari Raihan pamit pulang, besok dia akan kembali bersama beberapa tukang agar pengerjaannya lebih cepat. Azzam setelah sholat isya memilih tempat tidur untuk menjadi tempat berbincang dengan Annisa.


"Sayang, maaf ya hari ini aku sibuk banget tadi"


"Gapapa Mas, semua kan untuk kita. Kamu capek ya, sini biar aku pijitin"


"Capek aku hilang kalau udah bersama kamu"


"Nanti kamu seperti ayahmu ya nak, selalu memuliakan istri"


"Aamiin" Jawab mereka bersamaan lalu Azzam mencium perut buncit Annisa.


Azzam pagi ini lanjut mengerjakan saung bersama Raihan dibantu beberapa tukang. Annisa hari ini meminta bantuan Bu Minah untuk masak para tukang karena Azzam tak mengizinkan untuk Annisa terlalu lelah.


Ini hari terakhir Azzam bersama Annisa, selebihnya Azzam akan kerja dan bersama dengan anak-anak nya. Sedih, namun Annisa harus tetap ikhlas karena inilah konsekuensi yang harus diterima ketika menikah dengan Azzam.


Annisa menjalani hari hanya bersama Bu Minah dan Aish. Azzam entah akan bersama Annisa kapan karena belum ada kabar dari Azzam. Annisa pun menghabiskan waktu dengan memanen hasil kebunnya kemudian membagikan hasilnya kepada warga sekitar.


Pagi ini Annisa mendapat kabar dari Azzam kalau kemungkinan besar minggu ini Azzam tak bisa kembali segera karena akan mengurus masalah gugat cerai nya kepada istrinya. Annisa harus berlapang dada karena rasa rindu nya harus tertahan kembali.


Annisa menitiskan air mata, dia berdoa semoga semua baik-baik saja. Selepas sholat dhuha, Tiba-tiba ada suara wanita berteriak memanggil nama Annisa sambil menggedor pintu rumah Annisa. Annisa pun kaget, segera dia lepas mukena dan menuju sumber suara.


Didepan sudah ada Bu Minah, dia tak berani membukakan pintu tanpa izin Annisa. Annisa pun memberi isyarat agar dia saja yang membukakan pintu. Ketika pintu sudah dibuka, Annisa kaget ternyata istri Mas Azzam. Annisa mendapatkan sebuah tamparan dari istri Azzam.


"Aku kira kamu gadis lugu, ternyata begini kelakuan kamu" Kata wanita tersebut sambil berteriak-teriak.


Bu Minah pun mencegah wanita tersebut agar tak berbuat lebih nekat kepada Annisa.


"Kamu jangan ikut campur. Kamu tau tidak kalau dia ini perebut suami orang" Kata wanita tersebut kepada Bu Minah.


"Tenang bu, jangan berbuat seenak ibu. Ini rumah Bu Annisa" Kata Bu Minah.

__ADS_1


"Bu, Ibu masuk aja ya. Ini biar saya yang urus" Kata Annisa.


Bu Minah ragu namun akhirnya menuruti perintah Annisa.


"Mba, silakan masuk dahulu. Kita bicarakan baik-baik" Kata Annisa.


"Ga perlu, aku akan buat Azzam ninggalin kamu. Aku akan rebut yang seharusnya milik aku. Kamu gausah macam-macam, kamu ini hanya istri siri Mas Azzam. Aku istri sahnya, jelas sah secara agama dan hukum. Lebih kuat ikatannya. Kamu ini hanya pelarian Mas Azzam. Percayalah. Anak ini akan kehilangan ayahnya"


Annisa mulai terisak mendengar ucapan dari istri Mas Azzam. Sakitnya tamparan tak sesakit ucapannya. Annisa merasa sangat rendah sekali, apalagi Annisa disebut sebagai perebut suami orang.


"Gausah nangis, air mata buaya. Kamu ini masih muda, kenapa harus mencari suami orang. Azzam itu memiliki anak yang harus mendapat kasih sayang nya tapi kamu rebut semuanya. Aku janji, aku pastikan akan aku rebut kembali suamiku. Inget kamu"


Dia pun pergi meninggalkan Annisa yang masih kaget dengan kejadian ini. Bu Minah pun tak tega melihat kejadian ini namun tak bisa berbuat apa-apa. Annisa pun setengah berlari menuju kamar, lalu dia kunci kamarnya. Annisa terus menangis, dia mengadukan rasa sedihnya pada Rabbnya. Hati Annisa begitu pilu mendengar ucapan-ucapan tadi.


Ponsel Annisa terus berdering, Annisa yakin yang menelpon adalah Azzam. Annisa tak berniat mengangkatnya. Dia tak mau membuat Azzam khawatir ketika mendengar suara Annisa yang sedikit parau karena habis nangis. Annisa hanya bisa mengadu pada Rabbnya saat ini, waktu nya dia habiskan untuk sholat sunnah maupun wajib. Dzikir ditangannya pun tak putus dia lantunkan.


Bu Minah mengetok pintu kamar Annisa namun Annisa abaikan. Dia tak berniat berbicara atau berinteraksi pada siapapun saat ini. Annisa ingin menenangkan hatinya dan terutama membuat anak dikandungannya tak stress jadi dia sementara ingin dikamar saja.


Sore harinya Annisa masih di dalam kamarnya. Annisa tak berniat untuk makan, karena rasa lapar nya hilang kalau ingat kejadian itu. Tak lama terdengar suara mobil masuk kedalam perkarangan villa Annisa. Bu Minah memberi tau kalau yang datang adalah Abah.


Annisa memoles sedikit wajahnya agar tak terlalu terlihat habis menangis. Dia memasang senyum diwajahnya walaupun hati Annisa terasa sakit.


"Assalamu'alaikum. Bah, Abah sendiri aja?" Annisa menyalami Abah dengan takzim.


"Wa'alaykumussalam. Iya sendiri, Ummi ada urusan dipesantren. Apa kabar kamu Nak?"


"Alhamdulillah baik Bah, Abah mau minum apa?"


"Bawakan Abah teh hangat ya ke kebun belakang"


"Iya Bah"


Annisa sebisa mungkin tidak memasang wajah sedihnya, Annisa selalu menampilkan senyum walaupun sakit sekali.

__ADS_1


__ADS_2