Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Ijab Qobul


__ADS_3

"Ceritanya panjang Fi, intinya ini takdir gue untuk menikah dengan dia walaupun gue yakin akan banyak pro dan kontra setelahnya"


"Nis, sorry nih ya. Bukannya Pak Azzam udah... "


Akhirnya Annisa menceritakan semuanya kepada Fifi mulai dari A sampai Z. Fifi fokus mendengarkan sahabatnya cerita.


"Nis, pokoknya apapun yang terjadi nanti ada gue disamping lo yang siap kapan aja. Gue percaya kok Pak Azzam pasti bisa jaga lo dengan baik. Beliau orang baik Nis, mungkin istrinya yang kurang bersyukur dapet Pak Azzam"


"Ga boleh ngomong gitu, mungkin banyak alasan yang tidak kita tau Fi. Yang pasti juga ini udah takdir dari Allah"


"Bener Nis. Kira-kira apa yang bisa gue bantu Nis?"


"Bantu doa aja Fi, karena itu yang sangat dibutuhkan Fi. Do'ain semoga temen lo ini, Allah kuatkan pundaknya"


"Siap tuan Putri"


Mereka pun berbincang banyak hal, sampai akhirnya mereka menyudahi obrolannya karena waktu sudah sore. Mereka kembali kerumah masing-masing.


Setelah Annisa bebersih dan sholat, ponsel Annisa berdering. Annisa mengira yang menelpon adalah Mas Azzam namun ternyata Raihan.


"Assalamu'alaikum" Ucap Raihan.


"Wa'alaykumussalam. Ada apa Kak?"


"Aku tau jumat ini kamu akan mengadakan akad oleh Mas Azzam. Selamat ya, semoga Allah jadikan keluarga yang sakinah mawaddah warrahma. Aamiin"


"Aamiin, makasih Kak do'anya. Tau dari Mas Azzam ya?"


"Bukan, aku tau dari Ummiku"


"Lalu respon Ummi bagaimana Kak?"


"Mereka setuju, karena mereka tau Azzam tak bahagia dengan pernikahannya terlebih baru kali ini Azzam berani mengajukan nama perempuan yang artinya dia sungguh mencintainya. Kamu beruntung Nis"


"Alhamdulillah.. "


"Tapi aku mohon Nis, jika kamu tak kuat nanti. Tolong beritau aku, aku siap melanjutkan langkah mas Azzam"

__ADS_1


"Kamu berhak dapat wanita yang lebih baik dari aku Kak, kamu orang baik. Aku sampai malu karena kamu meminta ku padahal banyak wanita yang lebih baik diluar sana"


"Aku mau dengan wanita lain asalkan mirip dengan mu. Mirip segalanya"


"Duh aku tersanjung dipuji terus sama lelaki baik seperti kamu Kak"


Mereka pun tertawa.


"Aku bisa bantu apa nih kira-kira?"


"Sampai saat ini sih aman Kak, coba kakak kordinasi sama mas Azzam siapa tau beliau butuh bantuan kakak"


"Siap"


Hari berlalu begitu cepat, Annisa melakukan rutinitas seperti biasanya. Annisa masih belum menyangka akan jadi seorang istri. Walaupun yang kedua. Annisa bahagia namun tak bisa dipungkiri ada rasa takut dihati Annisa.


Pagi ini tepat hari Jum'at, akad Annisa dilaksanakan pukul 09.00. Dari semalam Annisa tak putus berdzikir, biar ditenangkan hatinya. Semua sanak saudara yang memang kami undang sudah berkumpul di Villa yang Mas Azzam berikan untukku. Namun, hari ini Abah tidak hadir karena masih berat memberi restu pada kami namun Ummi mas Azzam sangat mendukung karena dia tau anaknya tak bahagia.


Annisa menunggu didalam kamar, Annisa memakai gamis serba Putih dengan sedikit riasan diwajahnya yang menambah kecantikan dirinya. Annisa ditemani oleh Fifi, sahabatnya. Tak lama Ummi mas Azzam masuk kedalam kamar dan ku isyaratkan kepada Fifi untuk meninggalkan kami berdua saja.


"Nak, Ummi mohon sama kamu bahagiakan Azzam. Dia sudah lama tak merasakan kebahagiaan. Ummi melihat sirat wajahnya sangat bahagia hari ini, berbeda ketika dahulu dia ingin melangsungkan pernikahan sebelumnya. Ummi sayang sekali sama Azzam. Dia tak pernah sekalipun membantah permintaan Abah dan Ummi. Azzam selalu mendahulukan kebahagiaan Abah dan Ummi, maka dari itu hari ini dan seterusnya Ummi ingin dia bahagia karena ternyata bahagianya Ummi adalah ketika Azzam bahagia"


"Iya nak, Ummi selalu mendoakan kalian. Kamu juga harus kuat ya, karena perjalanan kedepannya mungkin akan membuat kamu sakit. Tapi percayalah, Ummi akan terus bersama kalian. Ummi titip Azzam nak, sayangi dia dan anak-anak nya"


"Iya Ummi pasti"


Ummi pun memeluk Annisa erat sambil menitik kan air mata. Annisa pun mencium tangan Ummi dengan Takhzim. Annisa bahagia karena ternyata Ummi menyayangi nya.


Diluar cukup sibuk. Jantung Annisa makin tak karuan. Annisa terus berdzikir. Tak lama Fifi masuk.


"Nis, dikit lagi akad. Pak Azzam dan yang lain udah siap" Kata Fifi.


"Fi, keputusan gue tepat ga ya?"


"Untuk saat ini berpikirnya ini adalah takdir Allah. Takdir Allah taakan pernah salah, selalu ada hikmah didalamnya Nis"


"Iya betul Fi. Semoga Allah permudahkan ya perjalanan rumah tangga gue nanti"

__ADS_1


"Aamiin. Udah jangan nangis, nanti cantiknya luntur"


Fifi pun membenarkan riasan diwajah Annisa. Tak lama terdengar suara.


"Qabiltu nikahaha watajwijaha linafsi bil mahril maskuri haalan... " Terdengar suara mas Azzam sangat tenang ketika mengucapkan ijab qobul.


'Alhamdulillah' Batin Annisa.


Annisa tak kuasa menitik kan air mata. Kini air mata bahagia yang menetes. Fifi yang ada disamping Annisa reflek memeluk sahabatnya ini. Fifi pun sama menitikkan air mata.


"Lo harus bahagia ya, gue selalu ada disamping lo nis"


Mereka pun makin erat berpelukan. Tak lama pintu kamar terbuka, Adik Mas Azzam datang untuk membawaku ke luar karena menunggu kehadiran ku.


Aku melakukan sungkem kepada Ibu, Ayah, Ummi serta Mas Azzam. Aku tak sanggup tak menitikan air mata ditengah acara sungkem ini karena bahagia bersanding dengan mas Azzam sekaligus sedih akan berpisah dengan kedua orang tua.


Kedua orang tua Annisa memeluk Annisa dalam, mereka merasakan yang Annisa rasakan. Lalu, Annisa berganti sungkem dengan Ummi. Ummi mengisyaratkan Azzam untuk disamping Ummi juga.


"Zam, bahagiakan Annisa. Ibu do'akan semoga keluarga kalian jadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Do'a Abah semoga Allah lembutkan hatinya untuk bisa menerima ini"


Azzam dan Annisa pun memeluk Ummi. Yang melihat adegan ini senang campur haru karena yang hadir disini adalah yang tahu bagaimana perjuangan Azzam untuk mencari kebahagiaannya.


Setelah selesai sungkem, Annisa dan Azzam pun melipir. Azzam menggenggam erat tangan Annisa seakan-akan tak ingin melepasnya. Annisa baru kali ini melihat Azzam begitu bahagia, semua terlihat jelas dimata Azzam. Annisa tersipu malu karena Azzam seakan-akan tak ingin melepasnya.


Tak lama Raihan datang.


"Mas, barakallah ya. Semoga Allah jadikan kalian keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah"


"Aamiin. Mas do'akan juga semoga kamu cepet nyusul"


"Aamiin, do'akan semoga dapat seperti Annisa ya Mas"


"Dia tak ada duanya Han, hanya aku yang milikinya"


"Udah udah, kalian bikin aku ke geeran terus" Ucap Annisa.


"Memang kamu tak ada duanya nis, andai ada yang seperti kamu sekarang juga aku nikahin. Takut keduluan lagi"

__ADS_1


Azzam dan Annisa pun tertawa mendengar ucapan Raihan. Azzam tak pernah marah dengan ucapan Raihan, karena dia tau Annisa hatinya hanya milik Azzam seorang. Tak ada yang bisa mengetuknya selain Azzam.


__ADS_2