Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Menjadi yang kedua


__ADS_3

Annisa pun segera mencari ternyata Azzam sedang tertidur diruang tengah villa ini. Azzam tidur berbalut selimut tebal dan terlihat walau dalam kondisi tidur Azzam menyimpan banyak masalah. Annisa menghampiri Azzam namun dia tak ingin mengganggu istirahatnya jadi Annisa hanya duduk disamping Azzam sambil menatap Azzam yang sedang tertidur.


Annisa tak sampai hati melihat kekasih hatinya sakit seperti sekarang. Annisa membenarkan selimut Azzam. Tak lama Azzam mengiggau menyebut nama Annisa dan anak-anak nya. Annisa langsung menggenggam tangan Azzam dan Azzam membalas genggaman erat Annisa.


Annisa memberanikan diri untuk memegang kening Azzam dan ternyata suhu tubuh Azzam tinggi. Annisa pun segera memberi tahu Raihan.


"Kak, Mas Azzam demam tinggi. Apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit?" Tanya Annisa


"Jarak rumah sakit lumayan jauh Nis. Kita kompres dulu aja ya, klo emang ga turun juga demamnya baru kita ke rumah sakit ya"


Annisa pun setuju dengan pendapat Raihan. Annisa segera bergegas ke dapur untuk mengambil air dingin untuk kompres. Annisa kembali ke Azzam dan meng kompresnya.


Ketika Annisa sedang mengganti kain kompres, Azzam terbangun.


"Ini beneran kamu dek?" Tanya Azzam


"Iya Mas. Kamu tidur lagi aja ya, biar lekas pulih"


"Gamau, aku takut kamu pergi lagi"


Azzam menggenggam erat tangan Annisa bak takut ditinggalkan.


"Aku ga kemana-mana kok Mas, aku bakal nemenin kamu"


Adzan berkumandang, tandanya sudah memasuki waktu sholat dzuhur tiba. Azzam berdiri ingin bangun.


"Loh, Mas mau kemana? Kan masih sakit" Tanya Annisa


"Mau sholat, emang kenapa kalau sakit?"


"Mas kuat?"


"Mas sekarang udah sembuh, udah ketemu obatnya" Kata Azzam sambil menggoda Annisa


"Aku percaya kalau kamu udah sembuh, karna sudah bisa gombal"


Mereka pun tertawa. Raihan melihat pemandangan itu, Raihan yakin memang mereka tak terpisahkan. Andai tak ada salah satunya, mereka sakit. Raihan pun menghampiri mereka.


"Mas, gimana kondisinya?" Tanya Raihan.


"Alhamdulillah, udah ketemu obatnya jadi sembuh Han"


"Alhamdulillah, berarti ga perlu minum obat ya Mas. Obatnya udah ada didepan mata"


"Iya Han, penyejuk hati banget kan gadis Mas"


Raihan tak menjawab namun hanya tersenyum. Annisa melihat Raihan senyum hatinya terasa getir karena dia tau perasaannya.


'Semoga Allah pertemukan kamu dengan gadis yang lebih baik Mas daripada aku' Batin Annisa


"Yaudah yuk Mas sholat, Mas imamin kita ya" Kata Raihan.


Mereka semua menuju mushola kecil dan bersiap sholat. Azzam mengimami sholat dzuhur kali ini. Selesai sholat Azzam memembalikkan tubuhnya. Raihan menyalami Azzam dengan takzim, begitupun dengan Annisa.


Raihan izin balik ke villa duluan, disana tinggal Annisa dan Azzam. Azzam membantu Annisa melipat mukena yang Annisa pakai sholat. Mata Azzam tak lepas memandang Annisa.

__ADS_1


x


"Jangan ngeliatin aku terus Mas, nanti aku terbang loh" Kata Annisa


"Aku seperti mimpi bertemu dan sholat berjamaah lagi sama kamu"


"Kamu kenapa ga ngabarin aku kalau kamu sakit? Aku tau kamu sakit dari Abah"


"Aku udah terlalu sering buat kamu khawatir dan nambah pikiran kamu"


"Kamu jangan ngomong seperti itu Mas. Aku hari ini sidang, pagi aku ngabarin kamu tapi gaada jawaban"


"Kamu sidang hari ini?"


Annisa mengangguk.


"Maafin aku ya, aku gatau. Aku ga pegang HP hari ini karena semua kerjaan aku serahkan ke asisten. Aku butuh istirahat. Oke kalau begitu, kamu mau hadiah apa?"


"Aku mau, kamu sehat dan semangat lagi Mas menjalani hari kamu. Kasian anak-anak, mereka pasti rindu dengan ayahnya yang ceria"


"Lebih bahagia lagi jika kamu, aku dan anak-anak Allah takdirkan hidup bersama"


"Aamiin. Yaudah kita makan siang dulu yuk. Raihan udah nungguin tuh"


Mereka menuju villa untuk makan siang bersama. Annisa menyiapkan makanan yang dibeli oleh asisten pribadi Azzam.


"Kamu kapan berangkat Han?" Tanya Azzam kepada Raihan di sela-sela makan siang.


"Mungkin 1 atau 2 bulan lagi Mas, nunggu visa"


"Ditolak Mas, dia lebih milih Mas daripada saya"


"Do'a kamu kurang kencang Han berarti"


Mereka pun tertawa meliat wajah Annisa memerah. Azzam tak ambil pusing mengenai perasaan Raihan terhadap Annisa karena Azzam tau hanya Azzam lah yang bertahta dihati Annisa.


"Ga baik makan sambil ngomong" Sela Annisa


"Mas, cariin aku satu yang kaya dia ya Mas" Ledek Raihan


"Limited edition Han"


"Emang aku barang" Sela Annisa lagi.


Selesai makan siang, Annisa dan Raihan ingin pamit pulang.


"Kondisi kamu gimana Mas? Sudah lebih baik?" Tanya Annisa.


"Alhamdulillah udah seger lagi nih"


"Aku pamit pulang ya takut kemalaman sampai rumah. Kamu pulang kerumah atau tetap di sini?"


"Entahlah, aku seperti tak ada tujuan kalau gaada kamu"


"Mas, jangan gitu dong. Aku kan selalu disisi kamu. Kapanpun kamu butuh aku, aku akan datang Mas"

__ADS_1


"Aku butuh kamu selalu"


"Kamu pulang kerumah aja ya, kasian Abah tadi pun khawatir sama kamu"


"Aku pulang kerumah Abah lebih baik. Aku lelah bertengkar terus kalau harus pulang kerumah"


"Baiklah"


Raihan satu mobil dengan asisten pribadi Azzam sedangkan Azzam membawa mobil Raihan seperti biasanya.


"Annisa biar sama aku aja Han" Kata Azzam


"Iya Mas, aku jalan duluan ya"


Raihan dan asisten pribadi Azzam meninggalkan villa lebih dulu. Annisa bersiap masuk mobil.


"Tadi sidangnya lancar?" Tanya Azzam.


"Alhamdulillah lancar Mas"


"Itu dibelakang bouquet bunga kamu semua?"


"Iya Mas, Raihan usul dibawa aja ke mobilnya karena kalau ditinggal ga mungkin"


"Banyak banget, segitu banyak fans kamu"


"Itu dari temen semua Mas"


"Kamu mau hadiah apa dari aku?"


"Itu yang tadi siang aku ucapin ke kamu"


"Aku juga butuh hadiah agar semangat lagi"


"Mau hadiah apa?"


"Jawaban kamu"


Annisa langsung diam karena dia tau arah pembicaraan kemana. Annisa memalingkan wajahnya, dia bingung harus menjawab apa.


"Kenapa diam" Tanya Azzam


Annisa gugup dengan pertanyaan Azzam.


"Kamu mau kan menemani aku selamanya?"


"Mas, bagaimana dengan orang tua aku dan orang tua kamu. Mereka pasti sulit menerima ini"


"Urusan orang tua ku biarlah aku yang hadapi. Kamu tolong bantu bicara dengan orang tua mu ya. Kalau perlu biarlah aku yang menghadapi orang tua mu"


"Mas bantu do'a ya, aku akan bicara dengan orang tuaku"


"Pasti. Mas mau, kita melaksanakan akad jumat ini"


"Aku ikut aja mas"

__ADS_1


Hati Annisa plong, batu yang selama ini bersemayam dihati nya seperti sudah runtuh. Annisa tak ingin mengingkari hati kecilnya, Annisa mencintai Azzam dan dia ikhlas walau menjadi yang ke dua.


__ADS_2