
"Terimakasih ya atas penerimaan kamu" Kata Azzam.
"Berterimakasih lah sama Allah Mas. Allah yang menggerakkan hati ini"
"Semoga Allah ridho dan bantu kita untuk meyakinkan orang tua kita"
"Aamiin"
"Aku ga sanggup terus berjauhan jarak darimu seperti sekarang. Menyiksamu dengan perbuatan dosa tiap kita bertemu. Aku menyayangi mu, aku ingin hidup bersama mu"
Pikiran Annisa menerawang kedepan, dia berpikir keras cara untuk menyampaikan maksud nya kepada orang tua nya. Annisa juga takut sebenarnya jika kedua orang tua nya tak ridho namun Annisa punya Allah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Dalam perjalanan, Azzam terlihat ceria setelah mendengar kesanggupan Annisa untuk hidup bersamanya. Azzam berkali-kali mengucap syukur kepada Rabbnya atas kebahagiaan ini.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Azzam mengingat kan kembali niat mereka kepada Annisa. Azzam mengantarkan Annisa sampai turun, dia tak lagi peduli dengan tanggapan orang yang melihat.
Annisa masuk kedalam kamar dan segera bebersih seperti biasa dan tak lama Annisa tertidur karena cukup lelah hari ini ditambah semalam dia tidur lebih awal namun kebayang-bayang dengan sidangnya alhasil tidurnya tak nyenyak.
Pagi harinya Annisa mencoba mengutarakan kepada orang tua nya. Annisa menuju ruang keluarga biasa ibu dan ayah kumpul disana.
"Baru bangun Nis?" Tanya ayah ketika melihat Annisa.
"Engga Yah, udah daritadi"
Annisa terdiam, dia bingung harus memulai dari mana membuka pembicaraan ini.
"Ayah, Ibu.. ada yang mau Annisa sampaikan" Ucap Annisa.
"Apa Nak?" Tanya Ibu.
"Annisa memohon restu ayah dan ibu. Annisa yakin dengan Mas Azzam. Annisa sudah berkali-kali istikharah, tapi tetap sama jawabannya. Hati Annisa terpaut kepada Mas Azzam. Bahkan kami sempat menghindari satu sama lain tapi banyak cara Allah yang akhirnya menyatukan kami lagi. Annisa gamau bohongin hati kecil Annisa lagi, Annisa bahagia bersama Mas Azzam. Annisa tau kedepannya akan banyak ujian yang menanti, Annisa mohon do'a Ibu dan ayah semoga Allah kuatkan Annisa. Annisa bersama Mas Azzam insyaallah bisa melewati ini semua"
Ayah terdengar menghembuskan nafas, beliau terdiam cukup lama mungkin mengatur emosi dan kata-kata yang akan disampaikan.
"Tugas ayah selesai. Ayah akan menikahi mu bersama nak Azzam. Ayah mendoakanmu apapun pilihan mu. Ayah tau kamu dekat dengan Allah, maka ayah ga ragu akan pilihan mu. Pesan ayah, kembalilah bersama ayah dan ibu jika kamu lelah nak karena kita semua tau jalan kedepannya tak mudah. Ayah dan Ibu mencintaimu, kamu anak sholehah kami" Kata ayah.
Annisa memeluk sang Ayah. Kita semua menitikan air mata. Entah air mata bahagia atau kesedihan tapi Annisa semakin yakin pilihan dia tepat karena terlihat dengan mudah nya Allah membolak-balikan hati kedua orang tuanya.
Setelah berbincang banyak mengenai Azzam, Annisa pamit masuk kabar untuk segera memberi kabar bahagianya kepada Azzam. Annisa segera mengambil ponselnya dan menghubungi Azzam.
"Assalamu'alaikum. Mas" Ucap Annisa.
__ADS_1
"Wa'alaykumussalam. Kamu udah sarapan?"
"Udah. Mas sekarang lagi dimana?"
"Semalam Mas tidur dirumah Abah bersama anak-anak, mereka nyariin Mas akhirnya Mas suruh asisten Mas untuk jemput mereka"
"Alhamdulillah, tenang aku dengernya"
"Semalam aku udah diskusi dengan Abah dan Ummi. Alhamdulillah Ummi restui kita, masalah Abah harus butuh waktu. Abah berat dengan anak-anak ku, beliau khawatir dengan mental anak-anak. Tenang aja ya dek, Mas percaya adek akan jadi Ibu sambung yang baik untuk mereka. Masalah Abah, kamu gausah ambil pusing. Bantu doa terus ya biarlah Allah yang mengetuk hati Abah. Aku yakin kalau Abah udah kenal sama kamu beliau akan jatuh cinta dengan perangai kamu"
"Iya Mas, adek paham itu"
"Lalu bagaimana dengan orang tua mu?"
"Alhamdulillah semua keputusan diserahkan sama aku, orang tua ku insyaallah merestui atas apa pilihan ku"
"Alhamdulillah.. Kalau Jumat ini kita adakan akad nya bagaimana?"
"Aku ikut kamu aja Mas"
Hati Annisa bahagia bercampur sedih. Dia bahagia karena akan menikah dengan lelaki yang dia cintai namun ada perasaan sedih karena surganya akan berpindah, otomatis Annisa tak bisa selalu bersama dengan orang tuanya karena akan ada suami yang harus diutamakan.
"Assalamu'alaikum. Fi, lagi apa?" Tanya Annisa.
"Wa'alaykumussalam. Lagi nyantai aja dirumah. Eh lo kemarin kemana, dicariin sama anak-anak yang lain tau"
"Iya maaf, ada urusan mendadak. Ketemuan yuk, ada yang mau gue ceritain ke lo"
"Wah cerita apa tuh?"
"Gaenak kalau lewat telpon. Ketemuan aja yuk, gimana?"
"Boleh, yaudah di Cafe deket kampus ya"
"Oke"
Annisa bersiap diri. Annisa berpamitan dengan orang tuanya dan seperti biasanya Annisa akan naik angkot menuju tempat tujuan.
Tak butuh waktu lama, Annisa pun sampai ditempat yang mereka janjikan. Annisa datang lebih awal, lalu memilih tempat duduk yang nyaman sekiranya akan membicarakan yang agak rahasia.
Setelah memesan beberapa menu, Annisa melihat dari kejauhan Fifi. Annisa segera mengangkat tangan ke arah Fifi sebagai kode.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Tuan putri" Ucap Fifi.
"Wa'alaykumussalam. Putri tidoorr" Ledek Annisa.
"Ah lo mah kaya baru temenan sama gue sehari aja" Tawa Fifi.
"Udah mesen belum Nis?" Sambung Fifi.
"Udah"
"Ada apa sih? Tumben banget ngajak ketemuan buat ngomong padahal telpon kan bisa"
"Gue mau nikah"
"Whattttt? Nikah sama siapa? Kapan kenalnya? Kok lo ga pernah cerita sih klo udah punya ayang? Oh jangan jangan yang sering bikin lo ketawa-ketawa ga jelas itu ya?"
"Ya Allah Fi, kebiasaan deh heboh. Malu tuh diliatin orang"
"Wajar lah, gue shock aja seorang Annisa melabuhkan hatinya sama lelaki. Kirain gue kan lo ga nafsu sama laki"
"Ngaco" Kata Annisa sambil jitak kening Fifi.
"Ya abis lo kan ga pernah dekat sama siapa-siapa tapi sekalinya deket langsung nikah begini. Siapa yang ga shock coba"
"Berlebihan deh mulai"
"Siapa sih cowok yang beruntung dapetin lo nis? kenal ga gue?"
"Pak Azzam"
"Pak Azzam? siapa?" Tanya Fifi.
Fifi seperti tak asing mendengar nama tersebut. Fifi diam seperti sedang mengingat-ingat.
"Wait, wait. Pak Azzam yang pembicar seminar waktu itu? Kok bisa sihhhhhh? Tanya Fifi makin heboh.
"Ih pelan-pelan aja bisa ga sih Fi? Klo begini mah satu cafe bisa tau Fi"
"Duh gue masih ngelag nih, coba coba ceritain secara runut. Kenapa bisa gitu loh"
"Ya intinya gue mau nikah sama dia insyaallah jum'at ini. Gue mau lo hadir sebagai sabahat gue. Gue mohon do'a lo, semoga Allah mudahkan segalanya"
__ADS_1