Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Hafiz bertemu Azzam


__ADS_3

Haikal tak bisa memejamkan matanya. Dia teringat oleh sosok Annisa. Annisa terlalu tertutup sehingga sulit sekali untuk sekedar bertanya padanya. Haikal mengingat kejadi beradu pandang pada Annisa tadi, dia melihat begitu banyak beban dari mata Annisa.


Karena Haikal tak bisa tidur, akhirnya memutuskan keluar kamar untuk cari angin. Ketika dirinya sedang berjalan, dia melihat Abah dan Haikal pun menghampiri Abah.


"Belum tidur bah? Kan sudah malam"


"Biasa Abah kalau malam memang suka berpatroli sendiri. Biar tenang"


"MasyaAllah Abah"


"Kamu sendiri kenapa nak belum tidur?"


"Entah bah, belum bisa merem aja"


"Ada yang kamu pikirkan kah?"


"Engga Bah"


Haikal berbohong, dia tak enak jika menjawab memikirkan Annisa. Sedangkan baru saja mengenal dirinya. Haikal penasaran siapa ayah dari Hafiz, anak Annisa. Dia ingin bertanya pada Abah namun rasanya tak enak.


"Bah, kemarin Haikal liat ada anak kecil disini namanya Hafiz. Cucu Abah kah?"


akhirnya Haikal memberanikan diri untuk bertanya.


"Iya nak, dia anaknya Annisa. Hafiz anak yang cerdas serta kuat sama seperti ibunya. Abah sayang sekali sama Hafiz dan Annisa. Annisa seperti anak Abah sendiri. Allah sayang sekali sama Annisa, karena setiap episode hidupnya Allah uji. Annisa memang pilihan Allah untuk jadi menantu Abah"

__ADS_1


"Ayahnya Hafiz sedang studi/kerja bah? Haikal ga pernah lihat"


Abah menghela nafas panjang, Haikal yang melihatnya jadi tak enak hati.


"Ayahnya Hafiz saat ini sedang umroh" Jawab singkat Abah.


"Semoga Umrohnya mabrur ya Bah. Aamiin"


"Aamiin"


Haikal masih ganjal dengan jawaban Abah. Sepertinya Abah hanya menjawab sekenanya saja. Haikal penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Akhirnya setelah berbincang-bincang dengan Abah, Haikal pamit masuk ke dalam kamarnya kembali karena esok dia harus mengajar pagi.


'Kenapa jadi mikirin Annisa terus ya, padahal baru kenal bahkan ngobrol aja belum' Batin Haikal.


Hari berlalu begitu cepat namun tidak bagi Annisa. Annisa menanti-nanti kehadiran Azzam sepulang umroh berharap melihat Azzam agar meluruhkan segala rasa rindunya walau hanya melihatnya.


Annisa senang sekali hari ini dia mendapat kabar kalau Azzam sudah ditanah air yang artinya dia sudah selesai melaksanakan Umrohnya. Haikal pun melihat Annisa berbeda hari ini, dia lebih banyak senyum. Makin cantik.


Selepas mengajar, Annisa seperti biasa akan mencari Hafiz untuk mengajak nya makan siang dan istirahat. Namun Annisa tak melihat Hafiz, Annisa pun berniat masuk ke dalam rumah untuk bertanya kepada Ummi dan Abah keberadaan Hafiz namun belum sempat bertanya Annisa melihat Hafiz sedang bermain dengan Azzam.


Annisa pun menutup mulutnya agar tak ketahuan dan menekankan langkah kaki nya untuk mundur namun terlambat karena Azzam menyadari keberadaan Annisa. Dia pun berdiri dan menghampiri Annisa.


"Kenapa ga kasih kabar aku, kalau kamu sudah lama tinggal di pesantren?" Tanya Azzam


"Kamu ga bertanya Mas, lagi pula lebih baik begini kan agar tak jadi masalah"

__ADS_1


"Masuklah, temani Hafiz main. Dia sangat rindu kamu, aku izin masuk kamar dulu" Lanjut Annisa.


Annisa pun dengan cepat meninggalkan Azzam, Annisa tak kuat menahan air matanya. Dia takut menumpahkan di hadapan Azzam. Sesampainya dikamar, Annisa mengunci pintu lalu menangis sepuasnya. Dia masih begitu mencintai Azzam namun sudah tak mungkin memiliki nya. Azzam milik orang lain saat ini. mengingat itu membuat Annisa sedih.


Annisa pun berwudhu untuk menenangkan hatinya. Setelah tenang, adzan dzuhur berkumandang Annisa bergegas menuju musholah sebelumnya dia menengok Hafiz sebentar tanpa Hafiz sadar. Hafiz terlihat senang sekali karena merasakan kasih sayang ayahnya. Annisa tak tega mengganggu mereka, karena Annisa sadar moment ini tak terjadi setiap hari jadi Annisa membiarkan nya bahkan tak apa jika harus melewatkan waktu istirahat nya Hafiz.


Setelah sampai mushola, Annisa memilih tempat sholat agak pojok. Semua masih bersiap-siap. Tak lama Abah, Azzam dan Hafiz datang ke mushola. Abah mempersilahkan Azzam untuk mengimami sholat kali ini. Azzam terlihat bersalaman dengan beberapa santri laki-laki dan beberapa guru salah satunya Haikal.


Haikal mencoba menerka-nerka apakah ini ayahnya Hafiz karena terlihat lelaki yang bersalaman dengan nya menggandeng Hafiz. Haikal pun mencuri pandang ke Annisa, Annisa sibuk berdzikir sepertinya.


Sholat pun usai, seperti biasa kalau selepas sholat Azzam akan memutar badannya ke arah jamaah sambil berdzikir. Azzam melihat ke arah Annisa, Annisa pun begitu. Mereka seperti sedang mengatakan rindu satu sama lain walaupun hanya dengan tukar pandang. Annisa pun mengalihkan pandangan khawatir ada yang melihat nya.


Haikal memperhatikan Azzam, mata Azzam tak berkedip melihat seseorang. Haikal pun penasaran akhirnya dia mencoba menengok kebelakang untuk mencari arah mata Azzam, ternyata Annisa. Annisa yang menjadi objek mata Azzam. Haikal makin yakin kalau Azzam ini adalah suami Annisa. Namun mengapa mereka tak seperti pasangan suami istri pada umumnya, ketika bertemu pasangan nya akan terlihat senang namun tidak pada Annisa.


Annisa seperti menyembunyikan kesedihan nya sama seperti Azzam. Haikal makin penasaran namun akal sehatnya mengatakan untuk tidak terlalu dalam ingin mengetahui kehidupan rumah tangga Annisa. Karena mereka pun belum terlalu kenal satu sama lain.


Semua jama'ah meninggalkan mushola, kecuali Annisa dan Azzam. Mereka melanjutkan sholat sunnah masing-masing. Ketika Annisa ingin bangkit ke kamar tiba-tiba Azzam memanggilnya.


"Dek, sabarlah. InsyaAllah kita akan bersama kembali. Aku kehilangan separuh semangat ku. Aku terseok-seok tanpamu" Kata Azzam.


"Jangan seperti itu Mas. Kita ikuti maunya Allah, ikhlaskan semua takdir kita Mas"


Annisa sakit mengatakan hal itu, karena Annisa pun sebenarnya sangat terseok-seok tanpa Azzam. Dia pun belum seutuhnya ikhlas akan takdir Allah namun hanya itu yang bisa menenangkannya. Dilubuk hatinya, Annisa pun masih mengharapkan Allah jodohkan kembali dirinya dengan Azzam karena hanya bersama Azzam Annisa merasakan yang namanya cinta.


Annisa pun bergegas ke kamar namun sebelumnya dia menjemput hafiz untuk istirahat. Tapi hafiz lagi-lagi menolak untuk diajak istirahat, sepertinya dia takut kalau ayahnya akan pergi lagi makanya dia tak mau sedetik pun jauh dari Azzam. Namun Annisa tak kehabisan cara, dia akhirnya ajak bicara hafiz 4 mata.

__ADS_1


"Nak, main sama ayahnya besok lagi ya. Bunda kan ga pernah melarang hafiz main sama ayah, jadi kapanpun Hafiz mau main boleh banget nak tapi sekarang udah masuk waktu istirahat. Kalau kamu ga istirahat nanti Hafiz dzolim loh sama tubuh Hafiz karena ga Hafiz kasih haknya untuk istirahat. Nanti kalau Hafiz sakit bunda dan ayah pasti sedih banget. Jadi ikut bunda ya untuk istirahat sekarang "


__ADS_2