
Annisa menyimpan ponselnya dan melanjutkan menyimak ustadz yang sedang memberikan tausiah.
Sambutan serta doa sudah selesai. Kini para tamu dihidangkan dengan makanan berat karena sudah saatnya makan siang pula namun Annisa memilih untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Sedangkan Fifi sedang asik dengan teman-teman seniornya.
Ketika akan sholat ternyata sudah ada Raihan dan akhirnya kamu sholat berjamaah. Setelah usai sholat, Raihan menghampiri Annisa.
"Nis, udah makan?" Tanya Raihan
"Belum nih, setelah ini baru makan"
"Boleh minta waktu sebentar ga Nis?"
"Ada apa ya?"
"Ada sesuatu yang mau aku sampaikan ke kamu. Aku janji sebentar aja"
"Janji sebentar aja ya, soalnya gaenak nanti Fifi nyariin aku"
Mereka pun menuju taman belakang rumah Raihan dan duduk bersama namun berjarak.
"Ada hal yang harus kamu tau sebelum aku berangkat. Ini mengenai perasaan aku. Mungkin ini terlalu dini untuk mengungkapkan tapi gaada waktu lagi. Kamu bersedia menjadi pendamping hidup aku?" Kata Raihan sambil menatap ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke ara Annisa
"Kamu sadar ga sih sama apa yang kamu ucapkan ke aku?"
"Sadar bahkan aku sudah mantap untuk melakukan ini. Sebelumnya sudah aku bawa nama kamu dalam istikharah ku. Entah keyakinan itu makin besar. Aku gamau menyesal makanya aku ungkapin ke kamu"
"Tapi kenapa harus aku? bukannya wanita yang lebih baik serta sholehah dikampus kita banyak ya. Apalagi circle kamu kan wanita baik semua dan terjaga. Kamu pun baru kenal sama aku. Aku pun begitu. Bagaimana bisa rasa yakin itu timbul?"
"Allah yang menggerakkan hati ini, aku pun bingung mengapa hati ini Allah condongkan ke kamu. Namun kini aku sudah tau jawabannya"
"Aku ga baik untuk kamu"
"Aku pun begitu. Aku yakin kamu wanita sholehah. Kalau tidak, mana mungkin Pak Azzam sampai segitunya sama kamu"
"Maksudnya?"
"Aku minta maaf sebelumnya, aku sudah tau hubungan kamu dengan Pak Azzam. Makanya ini yang membuat aku makin mantap, karna yang aku tau Pak Azzam itu gaakan sembarangan melabuhkan hatinya ke sembarang orang. Masalah aku tau darimana tentang kamu dan Pak Azzam yaitu saat pertemuan dirumah Abah. Mata Pak Azzam tak lepas dari kamu. Bahkan beberapa kali menampilkan rasa tidak suka jikalau kita berdua dekat. Matamu juga mengisyaratkan sesuatu. Aku sangat hormat sama Pak Azzam namun bukan karna dia dosen dikampus kita melainkan ilmunya dia. Dia terkenal karena kecerdasaan nya. Beliau sangat mengamalkan ilmu yang selama ini ia punya. Bahkan abah serta saudara-saudaranya sangat mencintainya. Beliau sosok tauladan bagi pondok pesantren abahnya. Namun sanak saudara tau tentang keretakan rumah tangga nya, semua sangat menyangkan"
__ADS_1
"Lalu mengapa masih mempertahankan aku. Bukankah kamu sangat mudah menemukan wanita yang memiliki segalanya. Bahkan tinggal tunjuk saja"
"Tidak semudah itu. Hati ini ga akan pernah bohong kalau kamu orang baik. Aku merasakan saat bersama kamu. Aku mencari wanita yang takut terhadap Rabbnya. Itu ada dikamu. Aku ga minta jawaban kamu hari ini, kamu Istikharah dulu. Libatkan Allah dalam hal apapun biar jalan kamu ga gamang"
Tiba-tiba Annisa berpikir apakah Raihan memang jodohnya, atau Azzam itu bukanlah jodohnya karna terbukti jalan berdampingan dengan Azzam tidaklah mudah. Semua penuh lika-liku.
"Saya pamit temuin Fifi dulu. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaykumussalam.. "
Annisa yang tadinya lapar tiba-tiba selera makannya hilang, dia terngiang-ngiang akan pernyataan Raihan. Dia merasa tak enak hati juga karna sahabatnya menaruh harapan banyak pada Raihan karna Annisa merasakan kesungguhan rasa Fifi pada Raihan.
"Makan woy, lu kaga laper apa tuan putri. Malah bengong" Ucap Fifi yang membuyarkan semua lamunannya.
"Laper sih tapi ga berselera tiba-tiba"
"Enak semua makanannya, lu cobain dulu deh buat ngeyakinin mulut tuan putri"
"Oke, gue coba deh"
Annisa pun mengambil seporsi kecil nasi untuk dirinya beserta lauk yang sekiranya Annisa suka. Setelah selesai, Annisa menghampiri Fifi.
"Yah padahal mau puas-puasin ngeliat wajah ka Raihan"
"Astaghfirullah jaga pandangan Fi"
"Siap tuan Putri. Cus, kita pulang"
Mereka pun pulang dan seperti biasa Fifi mengantar Annisa sampai depan rumahnya.
Setelah bersih dan sholat ashar, Annisa berniat akan menceritakan semuanya kepada Azzam. Karena bagaimana pun, Annisa harus memberikan jawaban pada Raihan.
Namun Annisa urungkan untuk menghubungi Azzam khawatir menganggu aktivitas nya. Ponsel Annisa pun tergeletak, Annisa memilih untuk ke ruang keluarga untuk merefresh pikirannya.
Diruang keluarga ternyata ada sang Ayah sedang mmenonton TV. Annisa pun duduk disebelah sangat Ayah.
"Tumben keluar kamar, biasanya betah banget kamu didalam kamar terus" Kata Ayah
__ADS_1
"Bosen yah"
"Gimana kuliah kamu, kapan lulus?"
"Kuliah alhamdulillah lancar yah, kalau lulus do'ain ya yah semoga segera ada jadwal sidang"
"Aamiin. Ohiya ngomong-ngomong, laki-laki yang ngobrol sama kamu pas dirumah temen Ayah itu pacar kamu ya"
"Raihan maksud Ayah?"
"Mungkin, Ayah kan gatau namanya"
"Raihan itu senior dikampus aku Yah, aku juga baru kenal dia"
"Keliatannya baik dan sholeh. Ayah setuju kalau kamu sama dia"
"Apaan sih Ayah, setuju setuju aja. Orang aku sama dia gaada hubungan apa-apa"
"Ayah yakin, dia naksir sama kamu. Ayah itu laki-laki jadi tau gerak gerik orang yang suka sama anak ayah ini"
"Ayah sok tau, lagian dia terlalu baik yah buat aku"
"Semua ditakdirkan berpasang-pasangan, Allah menghadirkan seseorang itu memang tugasnya melengkapi. Kalau kamu merasa belum baik, makanya Allah hadirkan Raihan untuk melengkapi jalan hidup kamu"
"Ih Raihan lagi. Orang cuma senior yah"
"Ayah juga berandai-andai, jikalau anaknya Pak Kyai ada yang jomblo. Ayah mau menjodohkan kamu tapi sayang udah pada nikah semua"
Hati Annisa berdetak kencang mendengar ucapan sangat Ayah. Apakah Ayah akan setuju jikalau sang anak ini bersama dengan Azzam. Apakah Ayah akan menerima dengan status Azzam. Kepala Annisa penuh pertanyaan.
"Ga boleh berandai-andai yah"
"Ya gapapa lah kalau berharap dikit. Kemarin Ayah ngobrol sama anaknya Pak Kyai yang dosen kamu itu. Namanya siapa deh?"
"Pak Azzam?"
"Ohiya itu, dia juga baik. Bahkan Ayah langsung nyambung ngobrol sama dia. Kamu nyari jodoh yang sebelas dua belas lah ya kaya dia. Ayah suka sama pribadinya, dia cerdas tapi ga menampilkan itu bahkan ga menggurui ayah yang ilmunya masih kalah jauh dari dia. Ayah yang cowok aja suka dengan nak Azzam, gimana cewek-cewek ya"
__ADS_1
"Do'ain terus anak ayah ini dapet pendamping yang benar-benar pilihan Allah dan maunya Allah bukan maunya Annisa"