
Annisa pun terlelap. Annisa terbangun ketika mendengar beberapa kali kamarnya diketuk. Annisa rasanya lelah sekali untuk bangun dan Annisa terkejut ketika melihat jam. Annisa segera buru-buru bangun dan membuka pintu kamar.
"Bu, Tadi bapak telpon saya. Sepertinya penting bu, karena katanya ga diangkat-angkat sama Ibu" Kata Bu Minah.
"Iya bu Minah, saya ketiduran. Saya lagi gaenak badan kayanya soalnya lelah banget badan saya"
"Ohiya bu, tadi pesenan Ibu udah saya beliin. Nanti saya anter ke kamar ya bu"
"Boleh Bu, makasih banyak ya bu Minah"
"Iya sama-sama Bu, saya balik ke dapur lagi ya bu"
"Iya Bu Minah"
Annisa merasa heran dengan dirinya karena baru pertama kali Annisa tidur selama itu dan Annisa teringat perkataan Bu Minah.
'Apa iya ya aku hamil' Batin Annisa.
Annisa pun melihat tanggal dan ternyata memang sudah lewat masa seharusnya dia datang bulan. Annisa juga merasa baru pertama kali telat datang bulan. Lalu Annisa ke dapur untuk menemui Bu Minah untuk mengambil pesanannya tadi.
Setelah mengambil pesanannya, Annisa kembali ke kamar dan melihat benda pipih tersebut sambil membaca cara pakainya. Annisa pun ke kamar mandi untuk mencoba alat test kehamilannya sekaligus mengambil wudhu
Annisa pun mengikuti cara pakai alat tersebut namun Annisa segera berwudhu tidak ingin menunggu nya karena sholat lebih utama pikir Annisa. Setelah selesai sholat, Annisa pun berdo'a.
'Ya Allah Ya Hafidz, engkau sebaik-baik penjaga. Jikalau memang aku hamil, maka jagalah kami karena keterbatasan Mas Azzam di sisi ku. Jagalah janin ini sampai kelak waktunya ia tiba didunia fana ini. Mudahkanlah aku dalam menjalani kehamilan ini'
Selesai sholat Annisa ingin segera melihat hasil dari alat test kehamilan tersebut namun tiba-tiba ponsel Annisa berdering. Ternyata Mas Azzam, Annisa sampai lupa ingin memberi kabar padanya.
"Assalamu'alaikum. Mas"
"Wa'alaykumussalam. Kamu kenapa sayang? Kata Bu Minah tadi kamu sarapan muntah-muntah? Kamu sakit?"
"Dari semalam badan ku gaenak Mas. Rasanya lelah banget. Tapi Alhamdulillah sekarang udah sehat lagi kok Mas"
"Mas, setelah ini pulang. Nanti kita ke dokter ya. Aku gamau kamu kenapa-napa"
__ADS_1
"Aku udah sehat kok Mas, percaya deh. Aku cuma agak lelah sedikit aja karena abis beberes kebun belakang sedikit"
"Kan aku bilang, tolong kamu gausah ngerjain hal-hal berat. Kamu minta tolong sama Bu Minah, nanti Bu Minah yang bantu"
"Aku suka ngelakuin itu Mas. Aku janji ga akan capek-capek lagi"
"Janji ya, aku khawatir kalau begini sayang"
"Maafin aku ya buat kamu kepikiran"
Annisa dan Azzam pun tak lama mengakhiri panggilan telpon nya. Annisa senang karena Azzam akan kesini esok. Annisa pun teringat alat test kehamilan itu, akhirnya Annisa mengecek dan hasilnya ada dua garis nyata. Annisa membaca kembali panduannya. Disana tertulis positif. Annisa tertegun, dia masih tak menyangka didalam tubuhnya terdapat calon cabang bayi. Annisa menangis terharu karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Sebuah predikat terhormat.
Annisa ingin segera menghubungi Azzam namun dia urungkan takut Azzam sedang sibuk. Akhirnya Annisa memberi kabar kepada keluarga nya dan mereka bahagia sekali. Annisa berkali-kali menangis bahagia ketika memberi kabar.
Malam harinya Annisa masih merasakan mual, muntah namun tak parah. Dia masih masuk makan dan minum walaupun harus sedikit-sedikit menghabisinya. Ketika akan tidur tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Annisa terkejut. Ternyata Azzam.
"Mas, kok ga bilang-bilang mau pulang"
"Assalamu'alaikum sayang, aku mau kasih kejutan ke kamu"
"Wa'alaykumussalam"
"Duh, rindu banget ya sama aku" Kata Azzam.
Annisa mengangguk. Azzam mencium kening Annisa. Azzam merasa lelah sekali tapi kalau sudah bertemu sang permaisuri rasanya hilang lelahnya.
Annisa menyiapkan air hangat untuk Azzam bebersih. Setelahnya menyiapkan pakaian dan makanan.
Azzam pun setelah selesai makan langsung mengajak Annisa ke kamar untuk istirahat. Namun Annisa terlihat gusar, Annisa bingung mengatakan sekarang atau besok pagi. Azzam melihatnya.
"Kamu kenapa sayang? masih ngerasain sakit?"
"Engga kok, Mas"
"Kamu gabisa bohong tau" Kata Azzam sambil mencubit hidup mancung Annisa.
__ADS_1
"Ada yang mau aku sampein mas"
"Sampaikan lah sayang. Ada apa"
"Aku hamil" Kata Annisa sambil memegang perutnya.
"Alhamdulillah.. Sekarang kamu jangan capek-capek ya sayang karena didalam sini ada calon anak kita yang akan meraikan rumah ini"
Annisa mengangguk.
'Ya Allah ya Rabb, terimakasih atas segala nikmat mu. Atas segala RizkiMu. Ya Rabb, lindungilah istri dan anak hamba ketika hamba tak bisa berada disisinya. Jadikanlah anak ini kelak sholih/sholihah. Penerus kebaikan dimuka bumi ini"
Azzam memegang perut Annisa sedikit membungkukan badan sambil berbicara.
'Nak, tumbuh sehat ya didalam. Jangan rewel ya, kasian bunda karena ayah gabisa jaga kalian 24jam'
Azzam menitiskan air mata.
'Iya ayah tenang aja, aku di dalam akan baik-baik aja. Aku juga ga rewel kok. Nanti aku akan jagain bunda, jadi ayah bisa tenang walau harus berjauhan sama kita' Kata Annisa yang seakan-akan anaknya yang membalas ucapan Azzam.
Beberapa hari Azzam bersama Annisa, Azzam terlihat sangat senang sekali karena kabar gembira tersebut. Azzam jadi punya aktivitas baru yaitu bicara dengan calon bayi.
Tak terasa Azzam pun harus meninggalkan Annisa, kembali ke rutinitas kerjanya dan anak-anak nya. Azzam sudah berniat akan mengajak Annisa sebelum memasuki bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari.
Annisa dan Azzam menjalani aktivitas mereka seperti biasa hanya saja Annisa jadi lebih hati-hati melakukan sesuatu karena ingat ada makhluk kecil yang tumbuh didalam tubuh Annisa.
Annisa malam ini merasa sedih karena sudah menjelang masuk bulan Ramadhan. Annisa biasanya akan melakukan sahur dan berbuka bersama orang tua nya namun kini dia harus berpisah jauh.
Annisa pun sedih dalam kondisi hamil seperti ini dia terkadang merindukan Azzam namun tak bisa berbuat apa-apa. Malam ini Annisa habiskan dengan bermuhasabah dengan Rabb-Nya. Annisa mengutarakan kesedihan nya sekaligus kerinduannya kepada orang tua dan Azzam.
Beberapa hari kemudian Azzam datang, Azzam sampai villa siang hari. Sore harinya Azzam berniat mengajak Annisa kerumah ummi dan Abah serta kedua orang tua Annisa. Annisa terlihat senang sekali namun cemas akan penerimaan Abah nya Mas Azzam. Annisa selalu menyelipkan do'a untuk Abah, mulai dari kesehatan, umur serta kelapangan hati Abah untuk menerima Annisa.
"Kamu udah siap sayang?"
"Udah Mas"
__ADS_1
Azzam memegang perut Annisa seraya berkata.
"Nak, kita mau kerumah nenek dan kakek. Kamu baik-baik ya selama perjalanan. Semoga dengan adanya kamu, akan menambah kebahagiaan kita semua"