Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Beginikah Cara Allah mempertemukan kami, Kembali.


__ADS_3

Annisa terdiam mendengar kata sayang dari Azzam. Hatinya senang tak dipungkiri namun pilu kalau membayangkan yg akan terjadi didepan.


Fifi pun pamit setelah antar Annisa sampai depan gerbang rumah.


"Fi, makasih ya. Mampir dulu yuk, makan malem disini" Ujar Fifi


"Sorry nih nis bukannya nolak tapi biasa lah gue udah ada janji. Lain kali aja ya Nis, salam buat Ibu sama Ayah ya"


"Bener ya, janji loh kapan-kapan mampir. Ibu kangen sama lu tuh"


Fifi memang sering berkunjung atau sekedar mengantar jemput Annisa sehingga cukup dekat dengan keluarga Annisa.


"Siap. Yaudah gue balik ya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaykumussalam. Hati-hati, gausah ngebut-ngebut"


Fifi pun berlalu dan Annisa masuk rumah. Ketika masuk rumah, Annisa kaget karna ada sangat Ayah. Ayah Annisa bertugas di Kota Malang, untuk ibu dan Annisa tinggal di Jakarta karna 1 atau 2 tahun lagi sang Ayah akan pensiun jadi sang Ayah memilih untuk pulang beberapa pekan sekali untuk menengok mereka atau sebaliknya.


"Assalamu'alaikum. Loh, Ayah udah balik. Kapan sampe yah" Tanya Annisa


"Wa'alaykumussalam. Siang tadi, Ayah ga kuat pisah lama-lama dari ibu"


Ayah dan ibu Annisa memang sangat romantis. Mereka bak pengantin baru. siapapun yang melihat pasti setuju kalau mereka pasangan teromantis.


"Haduh Ayah, gombal didepan aku. Bikin iri aja"


"Makanya ayo kenalin calon kamu Nis. Biar ada temen adu gombal sama Ayah"


"Apaan sih Ayah, masa mau punya mantu karna alasan gitu"


Ibu, Ayah dan Annisa pun tertawa bersama.


"Yaudah kamu bebersih dulu, nanti maghrib kita makan bareng karna kamu kan puasa" Ujar Ibu


"Yaudah Annisa masuk kamar dulu ya"


Annisa pun masuk kamar dan seperti biasa dia akan mengecek ponselnya benar dugaannya ada pesan dari Azzam.


'Assalamu'alaikum. Dek, hari ini abah ulang tahun jadi aku sama ibunya anak-anak akan kesana. Anak-anak pun juga ikut'


Jantung Annisa berdebar kencang, seperti ada rasa takut dan cemburu namun tak Annisa tampakan kepada Azzam.


'Iya Mas, semoga abah sehat selalu, Allah panjang kan umurnya dan selalu Allah lindungi dalam langkahnya. Aamiin'


'Terima kasih do'anya. Andai menantu abah sebaik kamu dek, pasti abah bahagia di masa tuanya tidak dipusingkan oleh rumah tangga ku'

__ADS_1


'Semua takdir Allah Mas. Kamu harus ikhlas. Do'a aku selalu beriringan dengan langkah kamu Mas'


'Terima kasih kamu mau menemani aku. Rasa ini setiap hari selalu bertambah sama kamu, Dek'


'Aku pun begitu Mas'


'Aku siap-siap berbuka dulu ya, kamu juga. Love you'


Ini kesekian kalinya Annisa mengabaikan pesan cinta Azzam karna Annisa takut terlalu tenggelam pada rasa ini padahal Annisa sudah tau konsekuensi terhadap hubungan ini.


Annisa menuju meja makan untuk bersiap-siap berbuka. Ayah dan ibu sudah menunggu.


"Nak, nanti ba'da isya ikut Ayah sama Ibu ya ke acara temen Ayah" Ujar Ayah


"Harus ikut yah?"


"Ayah mau kenalin secara lengkap keluarga Ayah, pas juga momentnya beliau lagi ngadain acara jadi biar memperpanjang silaturahmi juga kan"


"Yaudah Yah"


Selesai berbuka puasa, Annisa bersiap berangkat bersama kedua orang tuanya. Setelah menempuh setengah jam perjalanan akhirnya sampailah di sebuah pondok pesantren. Annisa heran.


Mereka bertiga memasuki perkarangan pondok pesantren untuk memarkir mobil. Terlihat banyak sekali mobil terparkir berarti memang sedang ada acara.


"Assalamu'alaikum" Ucap Ayah kepada penghuni rumah yang ada di tengah pondok pesantren tersebut.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Masya Allah, Yusuf?"


"Iya Pak Kyai"


"Masya Allah Ente bikin ane pangling. Jangan manggil gitu dong, manggilnya Zul aja. Kaya zaman kuliah dulu"


"Jangan ah, ga sopan. Ga berani Macem-macem"


Seisi rumah tersebut tertawa mendengar celotehan mereka.


"Pak Kyai, ini istri dan anak saya"


Ibu dan Annisa mengatupkan tangan sebagai tanda salam.


"Masya Allah. Semoga kalian jadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahma ya. aamiin allahumma aamiin"


"aamiin. Gimana keadaannya Pak Kyai?"


"Alhamdulillah, sehat. Ente liatkan ane sehat bugar begini"

__ADS_1


Ayah dan Pak Kyai asik ngobrol, Ibu pun sama asik ngobrol dengan istri serta anak-anak Pak Kyai.


Di luar terdengar suara agak ramai tak lama ada dua anak kecil masuk berhamburan dan langsung memeluk Pak Kyai.


"Nah, Suf itu anak ane yang terakhir dateng. Dia emang dicintai banget sama santri-santri disini. Nah ini anaknya dia, Ayo Bilqis, Sabil salaman dulu" Begitulah penuturan Pak Kyai


Deg. Mata Annisa terbelalak mendengar nama anak tersebut. Pikiran Annisa langsung tertuju pada Azzam. Duduk Annisa jadi gelisah, dia takut akan kenyataan bahwa harus bertemu dengan pujaan hati dengan cara seperti ini.


Annisa pun menundukkan kepala dalam-dalam. Seorang wanita masuk, mungkin usianya terpaut 5-6 tahun lebih tua dari Annisa. Wanita tersebut salaman dengan Pak Kyai beserta semua sanak saudara yang ada.


Kemudian terdengar suara langkah memasuki rumah, tak lama ia pun mengucap salam.


"Assalamu'alaikum. Abah, Umi. Gimana kabarnya" Kata seorang lelaki yang tak lain adalah Azzam


Azzam pun menyalami Abah dan Uminya dengan khidmat. Yang lain menghampiri Azzam untuk salaman.


Annisa pun mendongakkan kepalanya untuk memastikan bahwa itu adalah kekasih hatinya. Dan ternyata benar, muka Annisa serasa panas dan jantung Annisa makin kencang berdetak nya.


Azzam belum menyadari keberadaan Annisa karna begitulah Azzam pandangan nya sangat terjaga. Azzam pun duduk disamping Pak Kyai. Mereka bertiga berbincang. Terlihat akrab padahal Ayah Annisa baru bertemu Azzam hari ini.


Dua anak tersebut tiba-tiba menghampiri Azzam dan duduk dipangkuan Azzam. Azzam pun sangat sayang kepada anaknya terbukti dia selalu memberikan ciuman kepada gadis kecilnya sedangkan kepada anak laki-laki nya Azzam tak melepaskan genggaman tangannya.


Ibu dari dua anak tersebut memanggil anak-anaknya.


"Sini nak, sama ibu aja. Ayah kan lagi ngobrol"


Anak-anak menggeleng kan kepala tanda tidak mau. Azzam pun memberi isyarat kepada ibu sang anak untuk tidak Apa-apa mereka tetap disamping Azzam.


Tak lama ayah Annisa memanggil Annisa. Annisa serasa tak memiliki tulang untuk berjalan menuju ayahnya. Tubuhnya serasa melayang.


"Nak, sini" Panggil sang Ayah


Annisa mau ga mau menghampiri sang Ayah.


"Kenapa Yah?"


"Ini kamu kenal ga sama Ustadz Azzam?Beliau salah satu dosen dikampus kamu"


Begitulah panggilan Ayah yang disematkan kepada Azzam.


Azzam pun melihat Annisa. Azzam kaget. Mereka berdua seperti menyelami hati Masing-masing. Apakah harus dengan cara ini mereka bertemu.


"Iya aku kenal Yah"


Annisa pun mengatupkan tangan tanda memberi salam kepada Azzam.

__ADS_1


__ADS_2