Annisa Dan Azzam

Annisa Dan Azzam
Kuat demi Hafiz


__ADS_3

Beberapa jam perjalanan mereka hanya diam sampai akhirnya mereka sampai di Vila tempat biasa mereka bertukar cerita, keluh dan kesah namun kini menjadi tempat terlarang untuk Azzam masuki tanpa izin Annisa.


Annisa pun mengambil Hafiz dalam gendongan Azzam, tak sengaja Azzam menyentuh tangan Annisa. Getaran cinta masih sangat menyala diantara mereka namun apa daya kini mereka sudah haram untuk sekedar bersentuhan.


Azzam tak kuasa melepas mereka, Hafiz berkali-kali dia ciumi. Annisa pun pecah tangisnya.


"Maafkan aku selalu membuat kamu menangis. Sungguh ini adalah hal terbeat dalam hidupku harus meninggalkan kalian. Aku sungguh tak bisa hidup tanpa kalian. Maafkan aku"


Annisa tak menjawab, bibirnya terasa kelu. Hatinya sakit sekali karena harus berpisah dengan kekasih hatinya. Entah Annisa akan kuat atau tidak.


"Jaga diri kamu Mas. Jangan sampai kelelahan. Makannya diperhatikan, jangan sampai telat" Kata Annisa.


"Dalam kondisi seperti ini kamu masih memperdulikan aku. Kamu benar-benar istri sholehah. Tunggu aku, ku mohon"


Annisa pun berpamitan masuk kedalam rumah, dia ingin menaruh Hafiz didalam kamar karena tubuh nya terasa lelah sekali menghadapi malam ini.


Malam ini Annisa habiskan dengan bermunajat kepada Rabbnya, dia mengadu semua yang dia rasakan dan sedikit membuatnya tenang.


Pagi harinya dia menitipkan Hafiz kepada Bu Minah karena hatinya masih terlalu lemah menghadapi kenyataan kalau kini Azzam sudah tak bersamanya. Annisa hari ini memilih puasa pula biar hatinya tenang.


Setelah dirasa hatinya sudah agak membaik, Annisa pun menemani Hafiz bermain. Hafiz sesekali mencari sang ayah, pilu rasanya. Namun Annisa harus tetap bangkit demi Hafiz, Annisa harus mengubur rasa sedihnya ketika bersama Hafiz karena Annisa tak mau anaknya ikut sedih.


Tak berapa lama Abah dan Ummi datang, Hafiz senang sekali dan mengajak kakeknya bermain bersama. Annisa senang Hafiz tak merasa kesepian seperti ini.


Ummi dan Abah seperti biasa, kedatangan nya adalah untuk menguatkan Annisa. Annisa paham itu dan Annisa syukuri karena masih banyak yang sayang dengan dia dan Hafiz.


Aku menemani Hafiz dan Abah yang sedang bermain dikebun belakang sedangkan Ummi memilih ke dapur untuk menyiapkan hidangan. Abah menghampiri Annisa yang sedang duduk, Hafiz asik bermain dengan bolanya.


"Kamu yang sabar ya Nak. Hatimu begitu tulus, biarlah Allah yang membalas semua kebaikan mu. Abah tau kamu kuat, Abah selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan Azzam. Dan Abah mohon tinggalah bersama kami, biar kami juga bisa ikut menjaga Hafiz. Abah dan Ummi tak tenang kalau kamu hanya berdua dengan Hafiz, sewaktu-waktu ada hal yang penting kamu harus meminta bantuan siapa sedangkan jarak tempuh ke Villa ini cukup jauh"


"Terimakasih atas tawarannya Bah, nanti coba Annisa pertimbangkan"


"Baik Abah dan Ummi tunggu, secepatnya kamu putuskan karena disana pun Hafiz dapat bermain dengan kakak-kakaknya Sabil dan Balqis. Pikirkan perasaan Hafiz nak, dia pun pasti merasa kesepian dan disana pula Hafiz mudah bertemu dengan ayahnya"


Benar kata Abah, Hafiz pun pasti merasa kesepian tatkala sang ayah tak bersamanya. Mungkin dengan tinggal disana, Hafiz bisa dengan mudah bertemu dengan ayahnya. Namun Annisa harus mempertimbangkan perasaan istri Mas Azzam. Annisa khawatir akan jadi masalah baru jika Annisa tinggal disana.


Malam harinya Abah dan Ummi berpamitan pulang, mereka meminta Annisa untuk segera memberi jawaban terkait tinggal bersama dengan Ummi dan Abah.

__ADS_1


Keesokan harinya, ketika Annisa selesai sholat dhuha dia mencari Hafiz kemana-mana sedangkan Bu Minah ada didapur. Annisa kaget bukan main, Annisa takut Hafiz hilang. Bu Minah pun memberi tau kalau Hafiz sedang main dikebun belakang. Annisa pun bergegas kesana.


Ternyata Hafiz sedang main dengan Raihan. Annisa senang sekali melihatnya. Annisa pun menyapa Raihan.


"Assalamu'alaikum. Kak, lagi libur?"


"Wa'alaykumussalam. Biasa ambil cuti, Nis"


Annisa pun menangkap Hafiz yang sedang berlarian. Annisa meminta Bu Minah untuk menemani Hafiz makan karena Annisa kedatangan Raihan.


"Kamu kenapa ga memberi tau aku perihal ini"


"Berita kurang baik lebih baik disimpan sendiri Kak"


"Aku siap kapanpun mendengarkan keluh kesah mu Nis. Aku pernah bicara itu kan sama kamu"


"Iya terimakasih ya tapi sungguh aku gapapa Kak"


"Aku turut sedih tapi aku percaya kamu wanita kuat"


"Doakan ya"


"Kak, kakak itu pantas mendapatkan yang lebih dari aku. Lagi pula rasa ini masih bertuan Kak"


"Jika sudah tak bertuan, kabari aku ya"


"Siap"


Annisa dan Raihan memang sering berbincang seperti itu, dia sering meledek Raihan yang jomblo.


"Perihal Hafiz, kenapa aku ga dikenalin sih? Dia mirip sekali sama Mas Azzam"


"Memang, mereka berdua sangat mirip. Maaf ya baru dikenalin karena kamu kan juga jauh Kak"


Setelah puas ngobrol, Annisa pun menyiapkan makan siang ke kebun belakang untuk makan bersama dengan Raihan. Ketika sudah siap, Azzam datang. Annisa kaget, Annisa pun segera bangkit dari duduknya sama halnya Raihan.


Azzam langsung menuju Hafiz, mereka bermain bersama sebentar setelah nya Azzam menemui Annisa. Annisa pun mempersilahkan Azzam duduk.

__ADS_1


"Mau minum apa Mas?"


"Apa aja asal kamu yang buat"


Getar ini masih sama. Annisa bahagia melihat kehadiran Azzam karena mengobati rindunya serta Hafiz.


Setelah mengambilkan minum, Annisa mengajak Azzam untuk makan siang bersama dengan Raihan dan dirinya. Azzam pun mengikuti. Annisa pun mengambil kan nasi untuk Azzam dan Raihan.


"Kamu sedikit banget makannya" Kata Azzam kepada Annisa.


"Ini memang sudah porsi ku Mas"


Annisa senang Azzam masih perhatian.


Ketika sedang makan, Tiba-tiba Hafiz menangis lalu dibawa lah oleh Bu Minah ke Azzam. Annisa pun bergegas ingin mencuci tangannya namun dihalang Azzam.


"Kamu lanjutkan aja makannya, biar Hafiz bersama ku"


Azzam pun segera membawa Hafiz dalam gendong annya. Mereka memilih bermain bola, Hafiz terlihat bahagia sekali karena kali ini yang menemani nya bermain adalah ayahnya. Tak lama Raihan menghampiri Azzam.


"Mas, biar Hafiz main sama aku. Kamu lanjut makan, temani Annisa"


"Makasih ya, titip Hafiz dulu"


Azzam pun menghampiri Annisa untuk melanjutkan makannya. Annisa salah tingkah hanya berdua dengan Azzam. Azzam pun cuek, dia melanjutkan makannya.


"Nambah lagi ya, kamu makannya sedikit banget"


"Aku udah kenyang Mas. Kalau dipaksakan malah jadi gaenak"


"Gimana kabar kamu?"


"Aku baik Mas. Mas sendiri apa kabar?"


"Aku ga baik-baik saja. Aku lemah tanpa kamu"


Annisa pun diam seribu bahasa, dia khawatir akan terbawa suasana yang mengakibatkan air matanya menetes kembali.

__ADS_1


"Aku lelah, aku gabisa berdampingan dengan nya. Dia pun ga berubah, masih sama seperti dulu selalu menuntut aku lebih"


"Kembali lah bersama ku, aku tak pernah tidur dirumah ku. Aku selalu tidur di kantor karena dirumah selalu ada saja hal yang dia ributkan. Aku lelah bertengkar terus, kasihan Anak-anak"


__ADS_2