
"Nak, yang sabar ya. Ummi sayang sekali sama kamu dan Hafiz. Mintalah kepada Allah, agar di lembut kan hati mba mu itu" Kata Ummi.
Ummi membiasakan kata mba untuk istri Mas Azzam.
"Iya Ummi, aku ikhlas jika memang Mas Azzam menjatuhkan talaknya. Karena aku sedih melihat Sabil dan Balqis harus berpisah dengan Ayahnya. Biarlah aku yang mengalah Ummi, mereka sedang beranjak remaja aku khawatir mereka akan kehilangan sosok ayah. Aku tak ingin mereka merasakan itu"
Ummi diam. Beliau melihat Hafiz dalam-dalam. Annisa pun berat dengan Hafiz namun Annisa juga memikirkan Azzam dan anak-anak nya.
Tiba-tiba Azzam masuk ke dalam kamar, Ummi dan Adiknya segera pamit keluar kamar. Mereka membiarkan Annisa dan Azzam berdiskusi. Annisa pun tak sanggup melihat wajah lelaki yang akan menalaknya kelak. Annisa merapat kan tubuhnya ke Hafiz.
"Sayang"
"Mas, aku ikhlas jika kamu ingin melepas ku" Kata Annisa sambil terisak.
Azzam menunduk dalam, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jangan seperti ini sayang. Aku sayang sama kamu dan anak-anak. Aku ingin kita hidup bersama. Bukan seperti ini"
"Tapi pada kenyataannya sulit Mas. Aku ikhlas jika harus mengalah, demi anak-anak"
Azzam menangis dihadapan Annisa. Annisa tau, Azzam sudah berada di titik terlemah nya sehingga menitiskan air matanya.
__ADS_1
"Tetap berada di sisi ku. Aku mohon"
"Mas, kamu pikirkan masa depan Sabil dan Balqis. Mereka sekarang sedang di masa remaja, perasaan senang sedih akan teringat jelas di memorinya. Aku ga mau kamu di cap sebagai ayah yang tidak baik oleh mereka. Masalah Hafiz, kamu bisa berkunjung kapan pun. Aku tak melarang, karena dia anakmu"
Terdengar pintu kamar diketuk, Azzam pun menghapus air matanya dan segera membukakan pintu.
"Mas, Abah memanggil kalian di ruang kerja Abah. Hafiz biarlah sama aku" Kata Adik Mas Azzam.
Azzam pun melihat Annisa. Annisa izin ke kamar mandi untuk berwudhu, Annisa ingin mendinginkan kepalanya. Setelah siap, Annisa dan Azzam menuju ruang kerja Abah. Azzam memimpin jalan Annisa. Sepanjang jalan menuju ruang kerja Abah, saudara yang hadir melihat iba kepada Annisa. Mungkin mereka merasa kasian atas apa yang terjadi malam ini.
Mereka memasuki ruang kerja Abah. Di dalam ternyata sudah ada istri Mas Azzam. Dia sudah terlihat lebih tenang dihadapan Abah. Abah pun mempersilakan Azzam dan Annisa duduk. Ketika akan duduk, Tiba-tiba istri Mas Azzam berdiri sambil berkata.
"Tenang dulu, kamu duduklah dulu" Kata Abah menenangkan istri Mas Azzam.
"Ga perlu, aku ga sudi duduk bersama perempuan ini"
Istri Mas Azzam pun pergi meninggalkan kami bertiga di dalam ruang kerja Abah. Annisa dan Azzam makin dibuat bimbang. Annisa mencoba menahan air matanya, karena Annisa menghormati Abah.
"Abah, biarlah aku kehilangan karirku. Aku ikhlas, tapi izinkan Azzam tetap bersama Annisa, Bah" Kata Azzam.
"Nak, apapun keputusan mu akan Abah ridhoi. Abah pun sayang dengan Annisa. Abah tau, Annisa istri sholehah. Hatinya terlalu bersih"
__ADS_1
"Aku ga setuju, Aku tau betapa sulitnya kamu membangun karir selama ini. Aku pun tau, ini bukanlah pekerjaan semata namun kamu berdakwah pula disana. Dan seperti yang aku bilang tadi Mas, ingatlah Sabil dan Balqis sedang masa tumbuh. Aku gamau mereka tumbuh dengan membenci kamu hanya karena kamu memilih aku. Aku ikhlas Mas, semua demi kebaikan bersama. Masalah Hafiz, aku tak akan melarang mu bertemu dengannya kapan pun"
Runtuh pertahanan Annisa, Annisa pun terisak dihadapan Abah dan Azzam. Abah yang melihat pun, mengusap ujung mata yang terlihat membasah. Hati Annisa hancur, karena akan berpisah dengan belahan jiwanya. Annisa tak pernah membayangkan malam ini ada namun Annisa ikhlas jika ini memang takdirnya.
Ummi masuk ke dalam ruangan Abah dengan membawa Hafiz, Hafiz menangis seperti tau apa yang dirasakan oleh bundanya. Annisa pun menggendong Hafiz namun masih menangis mencoba memberikan ASI ditolak dan menangis semakin pecah. Azzam pun mengambil alih Hafiz dari tangan Annisa. Seketika Azzam diam, dia memegang wajah Azzam sambil tertawa. Annisa makin sedih melihat adegan ini, karena ayahnya akan berpisah dengan nya. Ummi menangis melihat nya.
"Mas, talak lah aku sekarang" Kata Annisa.
Ummi makin terisak mendengar ucapan Annisa, dia tak kuasa akhirnya memilih untuk keluar ruangan. Abah hanya terdiam, Abah menyerahkan semua keputusan kepada Annisa. Azzam berkali-kali mencium Hafiz, Annisa semakin pilu melihatnya. Annisa tak lupa berdzikir, terus berdoa agar keputusan yang dia ambil tak salah.
Akhirnya Azzam menjatuhkan talak kepada Annisa, Annisa sedih sekali mendengar nya. Annisa tak pernah membayangkan akan menjanda semuda ini. Annisa pun mengambil Hafiz dalam gendongan Azzam karena ingin berpamitan, Annisa tak tahan berlama-lama disini karena hanya akan membuatnya sakit melihat lelakinya kini bukan suaminya lagi.
Hafiz terus menangis, dia ingin bersama Azzam. Saudara-saudara Azzam menangis melihat kejadian malam ini. Mereka tak menyangka akan seperti ini. Mereka menyayangkan sikap istri Azzam padahal selama ini istri Azzam pun dikenal kurang baik dikalangan saudara-saudara Azzam karena sering pulang ke rumah orang tua dengan waktu yang cukup lama dan meninggal kan anak-anak nya bersama Azzam.
Azzam pun meminta izin untuk mengantarkan Hafiz kepada Annisa. Annisa mengizinkan dengan catatan membawa orang lain yang ikut dalam perjalanan mengantar karena mereka bukan lagi pasangan suami istri. Mereka tidak halal untuk sekedar bersama berduaan. Azzam pun membawa seorang sopir pesantren.
Annisa pun berpamitan kepada Ummi dan Abah, Ummi masih terisak. Tak henti menciumi Hafiz. Ummi mengusap tangan Annisa berkali-kali, sebagai tanda penguat. Annisa mencoba tersenyum agar tak keluar lagi air matanya. Abah pun berkali-kali menyematkan doa untuk ku dan Hafiz, Abah terlihat begitu sayang kepada Hafiz.
Azzam pun membukakan pintu mobil untuk Annisa, Hafiz masih dalam gendongan Azzam. Hafiz tak tau jika setelah ini mungkin dia akan sulit bertemu dengan ayahnya. Annisa merasa seperti mimpi, karena lelaki disamping nya kini bukan lagi suaminya. Lelaki tersayang nya ini, kini haram untuk nya. Annisa pun selama perjalanan hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Annisa pun tak kuasa jika harus melihat wajahnya Azzam.
Azzam menina bobokan Azzam dengan sholawat yang biasa dia lantunkan selagi mereka masih bersama. Annisa teriris mendengar nya, mungkin tak akan dia dengar lagi sholawat ini untuk mengantarkan tidurnya Hafiz namun sebagai gantinya Annisa yang harus mengambil alih tugas ini untuk Hafiz.
__ADS_1