
'Aku pun sama Mas, ingin terus di sisi kamu' batin Annisa
Akhirnya Annisa menyudahi panggilan telepon tersebut.
Setelah sholat subuh Annisa mencoba mencari aktivitas agar hatinya tak sedih berlarut-larut. Annisa memilih membuat kue, tapi ternyata Annisa malah teringat oleh Azzam karena Annisa belum sempat membuatkan kue untuk Azzam.
Setelah selesai, kue yang sudah matang Annisa tata rapi dalam wadah. Annisa berniat kerumah Fifi jadi kue ini sekalian Annisa bawa.
Annisa sudah rapi, tas yang berisi kue pun sudah ditangan Annisa namun ketika keluar rumah ponsel Annisa berdering. Ternyata Azzam.
"Assalamu'alaikum. Aku didepan rumah kamu, tolong ikut aku ya. Aku mohon"
"Wa'alaykumussalam. Iya Mas"
Annisa merasa tak memiliki kekuatan untuk menolak ajakan Azzam mungkin karena perasaan nya terlalu dalam kepada Azzam.
Annisa keluar dan ternyata benar sudah ada mobil Azzam terparkir persis depan rumahnya. Annisa menghampiri mobil tersebut dan Azzam membuka pintu mobilnya sebagai tanda mempersilahkan Annisa masuk.
"Assalamu'alaikum" Ucap Annisa
"Wa'alaykumussalam"
Mereka diam satu sama lain. Annisa merasa canggung dengan situasi didalam mobil.
"Kita mau kemana?" Akhirnya Annisa membuka suara karena rasa penasaran akan dibawa kemana oleh Azzam.
"Ke suatu tempat, dulu aku janji akan kasih hadiah ke kamu. Hari ini aku tunai kan janji Mas"
Annisa tak melanjutkan obrolannya karena khawatir tak kuasa menahan tangis.
Beberapa jam perjalanan sampailah mereka di sebuah tempat seperti villa namun sepi. Disana terdapat halaman luas, pemandangan nya sungguh asri. Hati Annisa teduh melihat hamparan seperti. Merasa beban luruh ditempat ini.
"Kamu suka" Tanya Azzam.
"Suka, indah Mas. Teduh"
__ADS_1
"Ini hadiah untuk kamu"
"Maksudnya apa ya Mas?"
"Seperti yang tadi aku bilang, hari ini janjinya akan aku lunasi. Aku udah nyiapin ini sejak pertama kita kenal. Dengan keyakinan penuh, aku membeli ini untuk kamu dan anak-anak kita kelak"
"Mas, jangan seperti itu. Aku mohon"
"Biarlah, karena mau ku kita membangun rumah tangga yang aku impikan selama ini. Nanti anak-anak kita lari-larian di halaman itu. Bahagia bukan"
"Mas"
"Aku udah berusaha sejauh ini tapi aku gabisa kembali bersamanya. Aku hanya mencintaimu. Mungkin Allah sedang menguji cinta kita. Aku yakin ini hanya ujian bukan jawaban atas do'a kita"
"Jangan menyiksa ku seperti ini Mas"
Annisa pun tak kuasa menahan air matanya yang dari tadi dia tahan. Azzam pun tertunduk dalam, Sama-sama sedang meresapi rasa.
Azzam menghampiri Annisa, Azzam pun menggenggam tangan Annisa dan mengajak Annisa untuk duduk agar dirinya tenang. Azzam pun tak berani bersuara, mereka seakan-akan sedang menyelami pikiran Masing-masing.
"Lalu bagaimana dengan kita, aku gatau akan seperti apa hidup ku tanpa kamu. Andai kamu tau, aku selalu merindukan kamu. Terkadang Mas bertanya kepada Allah mengapa kamu dihadirkan baru sekarang. Andai kita dipertemukan sejak awal, mungkin kita sudah jadi keluarga bahagia dek"
"Mas, kita harus mengimani takdir. Mungkin ini memang takdir aku dan kamu seperti ini tapi aku ikhlas Mas. Aku bersyukur dipertemukan kamu walau akhirnya tak seperti yang kita harapkan"
"Ikutlah bersama ku dek"
"Aku mohon perbaikilah semuanya. Jangan kamu padamkan senyum anak-anak Mas karena ego kita"
Azzam menundukkan wajahnya, Annisa melihat ada air mata jatuh. Annisa pun menyeka air mata tersebut.
Adzan dzuhur berkumandang. Azzam menggandeng tangan Annisa menuju mushola kecil yang ada di wilayah villa ini. Mereka pun melaksanakan sholat dalam kesedihan mendalam karna mereka tau mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir.
Selepas sholat Azzam tak membalikkan tubuhnya seperti biasa, hati Annisa sedih melihat itu. Annisa memperhatikan punggung Azzam, tak lama punggung itu bergetar seperti sedang menangis dalam diam. Annisa paham.
Annisa pun begitu tak kuasa menahan kesedihannya, air matanya tak berhenti mengingat akan pertemuan ini. Annisa pun berdo'a.
__ADS_1
'Ya rabb, sakit hati ini melihat lelaki ku begitu sedih. Kami bertemu karna mu dan berpisah juga karna mu ya Rabb. Lindungi lah Mas Azzam selagi aku tak disisinya, berilah sebaik-baiknya penjagaan Mu.
Ya Rabb, pelihara lah rasa cinta ini biarkan rasa ini terus bersemayam. Ampunilah dosa ku, karna menentang kehendak Mu'
Azzam yang mendengar doa tersebut membalikkan tubuhnya dan menatap Annisa dalam dengan penuh air mata.
'Ya Rabb, jangan kau pisahkan dua insan ini. Kami saling mencintai karna Mu. Aku yakin pertemuan ku dengannya atas kehendak Mu. Tolong satukan kami dalam ikatan suci, kami hanya ingin cinta yang halal. Aku tau ini hanyalah ujian, mudahkan kami untuk menjalaninya agar dapat bersatu kembali. Rabb, peliharalah rasa cintanya untukku jangan kau palingkan ke hati yang lain'
Begitulah do'a Azzam. Azzam mengeluarkan sebuah tasbih cantik yang ada disaku celananya.
"Simpanlah, biar dia menemani hari mu" Kata Azzam
Annisa pun meraihnya dan mengucapkan terimakasih. Mereka pun kembali ke villa tersebut dan Azzam mengarahkan untuk pulang karna khawatir terlalu sore sampai rumah. Di pertengahan jalan mereka menepi di sebuah restoran. Annisa menyerahkan pilihan menu kepada Azzam.
Makanan datang, Azzam dengan sigap menyuapi Annisa. Annisa pun membiarkannya, bahkan Annisa menikmati karna mungkin akan jadi momen terakhir sebelum Azzam kembali kepada keluarga nya. Annisa pun inisiatif menyuapi Azzam juga karena sedari tadi Azzam belum menyentuh makanannya karna fokus menyuapi Annisa.
Setelah selesai makan, mereka kembali ke mobil. Tangan Annisa tak lepas dari genggaman Azzam. Di dalam mobil pun Azzam sesekali meraih tangan Annisa. Mereka kembali dengan diam tanpa ada obrolan apapun.
Menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Annisa. Annisa ingat kalau dirinya tadi membawa kue.
"Aku tadi buat kue, sesuai janji ku. Aku buatkan kue untuk Mas. Makanlah. Kalau ga enak gapapa di buang aja"
"Aku pamit, jaga diri Mas ya" Sambung Annisa
Annisa mengulurkan tangan kepada Azzam, sebagai tanda perpisahan. Azzam pun memberi tangannya dan Annisa mengecup tangan Azzam dengan dalam. Ketika Annisa ingin menarik tangannya, Azzam melakukan hal sama. Azzam mengecup punggung tangan Annisa dengan sangat dalam. Seperti tak ingin berpisah. Lagi-lagi Annisa membiarkan itu. Setelah selesai Azzam menatap Annisa dalam.
"Jangan menatap aku seperti itu Mas. Ikhlaskan yang sudah Allah takdirkan" Ucap Annisa
"Tetap jaga rasa itu ya"
Annisa tak menggubris permintaan Azzam, karena hanya akan membuat hati Annisa sakit. Annisa pun pamit.
"Aku pamit ya, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaykumussalam"
__ADS_1
Annisa meninggalkan mobil Azzam dan berlalu masuk ke dalam rumah karena takut air matanya turun lagi kalau harus menunggu kepergian Azzam.